Minggu, 29 Agustus 2021

UNSEEN

Salah satu kelemahan saya adalah menemukan kalimat yang bagus untuk mengawali sebuah cerita. Enggak tau udah berapa kali saya ketik-hapus-ketik-hapus untuk memulai cerita ini hahaha.

Langit di Cikande siang ini mendung banget, cocok untuk bermalas-malasan. Udah gais segitu doang enggak ada lagi terusannya, hanya sekedar informasi kalau siang ini di Cikande tuh mendung.

Sewaktu masih positif covid, saya udah ada niat untuk donor plasma konvalesen kalau udah negatif tapi karena syaratnya BB harus 55kg, jadi pupus sudah niat itu. Akhirnya saya memutuskan untuk donor darah biasa saja. 

Akhir-akhir ini saya sering kepikiran sesuatu saat saya tidak melakukan apapun, maka untuk menyelamatkan pikiran, menjaganya tetap waras, belakangan ini saya giat mencari kesibukan. Salah satunya adalah menulis seperti yang saya lakukan sekarang. Siang ini saya memutuskan untuk donor darah di UDD PMI Kab. Serang karena hari ini saya libur kerja dan kebetulan enggak pulang ke Anyer. Sialnya, lagi-lagi BB saya tidak memenuhi syarat. Sempat sedih dan kesel sama diri sendiri. Kenapa saya enggak pernah punya kesempatan? Tapi, perkataan Bapak petugas PMI itu menyadarkan saya, begini katanya 

“Gpp, Neng. Yang penting niatnya udah mulia”

Bener juga, saya lupa akan hal itu. Kalaupun dipaksakan donor, hal itu akan beresiko untuk saya. Niat awal membantu orang, justru malah jadi merepotkan orang lain. Padahal, sebelumnya saya pernah mengatakan ini pada driver ojek online yang mengantarkan saya ke tempat tersebut.

Bapak ojek itu bercerita bahwa dia takut darah semenjak menerima kain yang penuh darah dari perawat saat istrinya melahirkan anak pertama mereka. Sejak itu beliau tidak pernah membantu orang yang mengalami kecelakaan di jalan, bukan karena tidak punya empati tapi karena rasa takutnya pada darah, kepalanya bisa pusing dan bahkan pernah pingsan karena hal tersebut.

“Iya gpp kok, Pak. Kan bapak juga enggak bisa bantu karena takut darah. Lagian yang tadinya niat mau ngebantuin bisa jadi nanti malah ngerepotin yang lain”

Itu perkataan saya pada beliau, yang ternyata tidak bisa saya aplikasikan pada diri saya sendiri.

Dari bahasan tentang donor darah, topiknya berlanjut tentang keluarganya, kelahiran anak pertama yang membuatnya menjadi takut darah, kelahiran anak keduanya yang harus divakum, bentuk kepala akibat vakum, anak keduanya yang selalu terlihat bagus tidak peduli baju yang dipakai murah, mahal, ataupun kumal, sepanjang perjalanan beliau berceloteh tapi saya enggak terganggu sama sekali. Pantas saja beliau berbintang 5. Dan menariknya, ternyata keponakan beliau juga bekerja di pabrik yang sama dengan saya, lebih menariknya lagi, saya cukup mengenal keponakannya tersebut. Benar adanya bahwa dunia ini tak selebar daun kelor.

Sepulangnya dari UDD PMI Kab. Serang saya memutuskan menuju ke perpustakaan sebagai healing. Ternyata perpustakaannya tutup. Kalau sekedar dilihat, perjalanan kali ini saya sial sekali, ya? Tapi saya kurang setuju karena saya mendapat banyak sudut pandang dari perjalanan ini. Cerita selanjutnya adalah cerita tentang driver angkutan umum yang saya tumpangi saat perjalanan pulang. Ia membuka percakapan dengan 

“Orang Indonesia lama-lama sehat yaa paru-parunya karena pakai masker terus, Neng”

Tentu saja saya tau hal itu ditujukan pada saya yang menggunakan double masker sedangkan beliau tidak sama sekali. Dari sini pasti bisa kalian tebak topik pembicaraan kami sepanjang perjalanan hahaha. Beliau mengatakan banyak hal yang bagi saya hal tersebut adalah  berita palsu, apa saya menyanggah semua perkataannya? Tidak sama sekali. Saya hanya tersenyum. Saya tidak membenarkan dan juga tidak menyalahkan pemikirannya hingga saya sendiri terkejut akan apa yang telah saya lakukan. Saya hanya berdo’a kita semua selalu sehat. Ini bukan satire, saya benar-benar berharap saya, bapak tersebut, kalian, orang-orang yang percaya dan tidak percaya covid-19 itu ada, kita semua agar selalu sehat. Ada satu pandangan kami (saya dan bapak tersebut) yang sama, bahwa pemerintah seringkali membungkam orang-orang yang berani berkata benar.


Hal yang benar-benar ingin saya bagi pada tulisan ini sebenarnya adalah tentang mengapresiasi kebaikan kecil. Saya tidak membicarakan orang lain, saya membicarakan diri saya sendiri. Saya seringkali lupa untuk mengapresiasi kebaikan kecil dari orang lain. Tiap kali ditegur, ada banyak alasan “astaga, orang cuma gitu doang” “yaelah, begituan aja. Padahal gue blablabla”

Saya sudah mengatakannya di awal bahwa cuaca di Cikande siang ini mendung. Saat berangkat, saya bertemu tetangga indekos (juga teman sepabrik) yang menanyakan tujuan saya pergi tapi saya tidak memberitahunya.

“Mendung, lu bawa payung ga?”

“Enggak, minggu kemaren payungnya ketinggalan sih di angkot”

“Nih, mau pinjem payung gue gak?”

See?

Hal remeh, kan? Sekedar minjemin payung. Tapi itu tetap perbuatan baik yang harusnya patut diapresiasi. Kamu ketemu temen kamu yang mau pergi secara enggak sengaja, sebagian besar orang cuma basa-basi bentar terus bilang hati-hati, udah. Jarang ada yang mikir sampe ‘oh sekarang kan mendung, dia bawa payung ga tuh’, jarangggg bangett.

Kebaikan kecil sering kali tidak terlihat. Padahal, sekecil apapun, kebaikan tetaplah kebaikan, dan patut untuk diapresiasi.

Kamu pernah menerima sebuah chat yang sebenarnya sudah kamu baca tapi orang yang mengirim tidak mengetahui apakah kamu sudah membacanya, orang tersebut hanya akan tahu jika kamu membalasnya. Unseen.

Seperti itulah kebaikan kecil, unseen.



Sabtu, 24 Juli 2021

Hujan Bulan Juli

Pernah denger cerita rakyat tentang Candi Prambanan? Bandung Bondowoso gagal memenuhi permintaan Loro Jonggrang untuk membangun 1000 candi dalam satu malam.

Bagi Sapardi, penyair kebanggaan tanah air, hujan ada di bulan Juni, namun bagi saya hujan itu ada di bulan Juli. Tanggal 30 Juni, malam harinya saya merasa pusing, badan saya panas, dan saya muntah. Esok harinya saya melakukan swab antigen dan hasilnya positif. Jadi, ya, saya mengawali bulan kelahiran ini dengan kabar buruk. Virus ini rasanya mengubah hidup saya hanya dengan satu malam. Betapa kuatnya ia sampai bisa menandingi kemampuan sekumpulan jin yang membantu Bandung Bondowoso melakukan sesuatu dalam satu malam.

Saat tau hasilnya positif, saya langsung bisa menerima kenyataan yang pahit ini. Saya yakin saya bisa mengatasinya, saya yakin bisa sembuh. Tapi, keyakinan saya tidak bisa meredam kekhawatiran keluarga saya. Setelah mendengar kabar ini, keluarga di rumah menangis yang juga membuat saya ikut menangis tentunya hahhaa. Kelemahan kita semua adalah air mata anggota keluarga, bukan?

Keluarga saya panik, khawatir bagaimana makan saya sehari-hari, hingga orang tua saya berencana untuk tinggal di indekos bersama saya (yang positif covid). Karena saya menyayangi orang tua saya lebih dari apapun, lebih dari saya menyayangi BIGBANG (idol group korea kesayangan saya), ide tersebut langsung saya tolak. Saya sampai mengancam tidak akan membukakan pintu kamar jika orang tua saya datang hahaha. Setelah menjelaskan panjang lebar bahwa di sini ada Linday dan Jennie blackpig (teman yang saya benci juga cintai) yang membantu saya, juga Linday yang tidak pulang ke rumah saat weekend karena khawatir kondisi saya memburuk sewaktu-waktu, ada 2 orang teman yang akan menjaga saya di sini, akhirnya orang tua saya mengerti.

Sejujurnya saya selalu berharap ibu saya tidak pernah mengkhawatirkan saya, karena saya juga tidak pernah khawatir akan hidup saya, saya yakin seberat apapun masalahnya, saya pasti bisa melaluinya seperti yang telah berlalu. Saya mau ibu saya tidak pernah khawatir akan putri sulungnya, karena satu-satunya hal yang dikhawatirkan putri sulungnya ini adalah ibunya mengkhawatirkan putrinya.

 

Selama sakit, saya merasa bersalah kepada banyak orang.

Saya merasa bersalah karena di usia yang ke-25, saya masih membuat keluarga saya khawatir. Maafkan saya. Saya merasa bersalah karena merepotkan teman-teman.

 

Awalnya saat isolasi mandiri di indekos saya pikir setiap hari saya hanya akan makan telur hahaha. Tapi, ternyata enggak. Saya berterima kasih pada Tuhan, karena Tuhan memberikan nikmat pada saya melalui orang-orang di sekitar saya. Tuhan memberikan orang-orang baik di sekeliling saya. Ada banyak orang yang menanyakan kabar saya, menawarkan bantuan, mengantarkan makanan berat, camilan, multivitamin. Bahkan teman saya yang di Bogor juga ikut mengirimkan sesuatu untuk saya. Maaf karena telah mengambil rezeki si kembar, juga rezeki teman-teman semua. Terima kasih banyak dan maaf karena telah membuat banyak orang kerepotan. Ada orang-orang yang terpaksa saya tolak dengan halus tawaran bantuannya, bukan karena sombong ataupun menolak rezeki, tapi perasaan ini, saya sudah tidak bisa lagi menanggung fakta karena merepotkan banyak orang.

Terima kasih juga kepada para Daddy long legs terbaik saya, yang memenuhi kebutuhan saya selama isoman ini, dari mulai makanan-minuman, keperluan dapur, keperluan kamar mandi, segala macam hal, thank you Linday, thank you Jennie blackpig. Rasanya berterima kasih aja enggak cukup untuk membalas kebaikan kalian.

Ibu saya selama ini berpikir bahwa saya memiliki hati yang sekeras batu karena saya jarang bisa menangis, hati saya juga sulit untuk “dibolak-balik”. Kenyataannya, di masa awal menjalani isoman saya selalu menangis di malam hari, karena terharu, bersyukur, bingung cara membalasnya tiap kali ada yang mengirimkan makanan. Rasanya seperti disayangi oleh orang-orang. Sekali lagi, terima kasih banyak telah mengingat saya dan mengkhawatirkan saya. Terima kasih orang baik.

Selama isoman saya berdo’a kepada Tuhan, meminta rezeki sehat, berusaha yang terbaik dengan memakan makanan yang bergizi, minum multivitamin, berolahraga di dalam ruangan, juga tidur yang cukup. Saya tidak mengalami keluhan yang berarti, saya sempat anosmia dan pulih dalam waktu seminggu. Saya merasa badan saya sehat, mungkin karena efek vaksin. Hari ke-14 saya melakukan PCR, ternyata hasilnya masih positif dengan ct value yang rendah sekitar 20-an. Sepersekian detik saya merasa kecewa pada Tuhan, “Loh, kok, begini?”. Beruntungnya hal tersebut terjadi hanya sepersekian detik, beruntungnya kesadaran saya cepat kembali. Saat itu juga saya menepuk-nepuk dada saya sembari memohon pada Tuhan untuk diberikan kekuatan, ketabahan, juga keikhlasan untuk melaluinya. Memang pada dasarnya Tuhan baik, saat itu juga, saya, hati saya, baik-baik saja, saya menerimanya. Pada saat itu saya juga melihat status orang-orang di media sosial yang kebanyakan memberikan getaran positif, saya seperti disemangati oleh banyak orang. Saya merasa Tuhan menjanjikan kesembuhan pada saya melalui status orang-orang tersebut.

Saya berdo’a semoga ada hikmah yang bisa saya ambil dari kondisi ini. Dan memang benar ada hikmah yang bisa saya dapatkan dari kondisi ini. Selama 6 tahun, ada duri yang tertancap di hati saya. Saya berharap Tuhan dapat membantu mencabutnya, saya berusaha menghilangkan duri tersebut dari hati saya, tapi hasilnya nihil, duri itu tertancap semakin dalam. Kata orang, Tuhan pasti akan mengabulkan do’amu atau menggantinya dengan yang lebih baik. Benar, Tuhan mengabulkan do’a saya selama ini, duri itu hilang begitu saja sekarang. Sepertinya saya sudah mengatakannya bahwa Tuhan memang baik.

Yang paling mengganggu kesehatan mental saya sebenarnya adalah pandangan dari orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar saya. Mungkin ini konsekuensi dari isoman di indekos hahaha. Dan yang paling menyakitkan adalah saat ibu saya mengatakan ini “Pulang sih, Nong”, saat itu juga saya tertawa, mencoba menahan air mata saya jatuh. Betapa rindunya saya dengan “rumah”, saya juga merasa bersalah pada Linda, karena saya, dia jadi tidak bisa pulang ke rumah. Maafkan saya.

Teman-teman, saya akan tersinggung jika sampai sekarang kalian masih tidak percaya bahwa covid-19 itu ada, atau yang menganggap covid-19 seperti penyakit flu biasa. Rasanya seperti perjuangan saya untuk sembuh selama ini disepelekan oleh teman saya sendiri. Saya, yang mengalami gejala ringan saja tersinggung, apalagi keluarga dari korban yang meninggal. Konspirasi, illuminati, mari tinggalkan itu semua dan gunakan rasa kemanusiaan yang kita miliki.

Kalau kamu ingin tahu apa babi itu haram dalam islam, pendapat siapa yang akan kamu percaya? Dokter? Ulama? Dosen? Atau katanya kata temanmu?

Ulama, bukan? Apa ulama tersebut mengatakan berdasarkan pendapat pribadinya? Bukan, tapi berdasarkan Al-Qur’an. Jika ulama tersebut mengatakan berdasarkan pendapat pribadinya, maka kamu perlu meragukan ucapannya. Kita mempercayai sesuatu yaa menurut ahlinya berdasarkan sumber yang jelas. Jadi, berhenti untuk mempercayai sesuatu yang sumbernya berdasarkan pendapat pribadi bukan berdasarkan penelitian. Berhenti menyebarkan berita yang misleading, kamu enggak pernah tahu bahwa mungkin saja ada orang yang harus kehilangan nyawanya karena membaca kemudian mempercayai berita yang kamu sebarkan.

Jangan lupa untuk vaksin. Bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga untuk melindungi orang-orang yang tidak bisa divaksin, seperti orang dengan resiko penggumpalan darah. Kita memang masih bisa terkena covid setelah vaksin, tapi biasanya hanya gejala ringan. Dan, jangan lupa berterima kasih pada Tuhan, karena sehat adalah sebuah rezeki.

Saat kalian membaca tulisan ini, artinya saya sudah sembuh.

Terima kasih banyak semuanya.

Semoga, tepat di umur 25 tahun ini, kebaikan yang kalian berikan pada saya, bisa saya lakukan juga pada orang lain seperti mata rantai yang tidak pernah putus.

 

Terakhir, saya masih percaya akan kutipan ini:

Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu, dan masa depan akan baik-baik saja.


Semoga kita sehat selalu.

 

 

Rabu, 07 Juli 2021

ROOFTOP

 

Jeda pada kehidupan yang berjalan memberikan kesempatan untuk lebih menikmati hidup.

Beberapa pesawat terbang sering kali melintas di atas kepala. Saya mengamatinya satu persatu, dari yang terlihat sangat jelas hingga hilang ditelan awan. Rutenya selalu sama, pada suatu titik, ia berubah menukik ke bawah. Mungkin setiap harinya ia melewati landasan pacu yang sama.

Hari ini cerah, ia menyukai hari ini. Ia berharap esok akan secerah hari ini. Ia berharap lusa akan secerah hari ini. Ia berharap dua minggu ke depan, sebulan ke depan atau bahkan lima tahun kedepan cuacanya secerah hari ini. Selalu seperti ini. Bahkan jika lusa turun hujan lebat, ia masih berharap mentari bersinar terik esoknya. Yang terus ia coba yakini, secepat apapun cuaca berubah, akan ada suatu hari, yang secerah hari ini.

Rabu, 16 September 2020

"Hati-hati, ya"

Pernah enggak ngerasa tersentuh banget sama ucapan seseorang? Padahal sebenernya bagi orang yang ngomong ucapan itu biasa aja, tapi kitanya aja yang baperan.


Karena saya mengawalinya dengan pertanyaan itu, tentu aja saya pernah merasakannya dan ingin mengungkapkannya di sini.


Dari rumah ke tempat kerja atau dari tempat kerja ke rumah, saya selalu menggunakan angkutan umum. Tiap kali turun dari bus saya selalu bilang makasih ke abang kondekturnya dan biasanya dapet jawaban "Iya" atau ga sunyi sepi senyap. Baru kali itu saat saya bilang makasih, bapaknya bilang gini "Iya hati-hati, dek".

Saat itu juga hati saya langsung tersentuh terenyuh wuh edaaas haha.


Jauh sebelum kejadian itu, dapet ucapan yang sama tapi dari orang yang berbeda.

Waktu berangkat kerja, saya suka mampir dulu beli sarapan. Biasanya beli uduk, atau nasi kuning, atau ketoprak, tapi karena lagi bosen jadi cuma jajan pancong (gatau deh di tempat kalian apa namanya sama atau enggak). Waktu bilang makasih, bapaknya juga bilang hal yang sama "Hati-hati ya, neng".


Buat bapak penjual pancong atau bapak kondektur bus kayaknya ucapan mereka cuma biasa aja. Bisa jadi cuma asal ngomong. Tapi gatau kenapa saat itu saya merasa terharu banget seakan itu ucapan paling tulus sama seperti ucapan ibu saya tiap kali saya berangkat kerja. Rasanya seneng banget dapet do'a dari orang yang ga dikenal supaya selamat sampai tujuan. Karena sehat dan selamat adalah rezeki. Rasanya bukan Agisni Safarina banget sih ngomong beginian hahaha.


Mungkin saat itu saya lagi sensitive aja hahaha. Meski sampai sekarang saya masih mengingatnya.


Temen-temen yang sedang dalam perjalanan, hati-hati ya. Sehat selalu.


Minggu, 13 September 2020

Kedamaian

Kali ini saya mau mengakui satu dari jutaan sifat buruk saya.

Hal-hal buruk yang orang lain katakan atau lakukan pada saya, tidak pernah bisa untuk dilupakan. Saya selalu mengingatnya. Saya selalu menyimpannya baik-baik di dalam hati juga ingatan.


Sebagian hanya saya simpan, sisanya jika itu benar-benar menyakiti hati, saya tidak akan memaafkannya. Berniat untuk memaafkannya pun tidak. I'll really burn the bridge. Saya tidak akan memaki, saya hanya memutus segalanya. Meski begitu saya masih merasa terluka karena saya tetap menyimpannya.

Intinya memaafkan orang lain adalah pekerjaan yang sulit saya lakukan. Jika itu benar-benar amat sangat menyakitkan bagi saya, maka persentase kemungkinan dapat dimaafkan oleh saya adalah 0,00000000000001%. Jangan bilang Tuhan aja maha pemaaf blablabla masa kamu blablabla, saya juga sadar itu.


Hari ini saya baca satu kutipan dari author simply an inspired life, Jonathan Lockwood Huie.


"Forgive others not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace"


Saya sadar pasti saya pun pernah menyakiti perasaan orang lain tanpa saya sadari. Kemungkinan mereka sudah mengampuni saya. Tapi hati saya yang busuk ini tidak bisa melakukan hal yang sama seperti yang orang lain lakukan pada saya.


Saya sudah mengatakannya, meski begitu hati saya masih terluka. Saya melupakan hal yang sangat penting, bahwa saya pantas mendapatkan kedamaian.

Jumat, 11 September 2020

Apa bacaan dan film yang saya konsumsi benar-benar mempengaruhi isi kepala saya?

"Boikot buku x"

"Boikot film z"


Pasti udah enggak asing lagi sama kalimat itu. Alasan diboikot kebanyakan karena dianggap akan mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu hal yang buruk.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat report video youtuber x karena menurut saya berisi informasi yang misleading. Khawatir sebagian penontonnya akan menganggap informasi yang ada di video tersebut adalah hal yang benar.

Tapi,
saya penasaran apa sebuah buku, video, atau film benar-benar mempengaruhi isi kepala kita?


Saya pernah membaca sebuah buku yang berjudul : Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur.

Sebagai hamba yang biasa-biasa saja alias islam turunan, saya juga pernah kehilangan harapan, kecewa juga marah pada Tuhan. Beruntungnya, saya masih diberi rasa takut untuk melakukan perbuatan yang menimbulkan dosa besar. Mungkin rasa kecewa saya tidak sebanding dengan tokoh utama di buku tersebut. Namun, bisa jadi, itu semua karena saya masih bisa berpikir bahwa hal tersebut tidak benar untuk bisa saya ikuti.
Jadi, buku ini tidak mempengaruhi saya sama sekali.


Saya ini suka sekali menonton film Shark dkk. Karena itu saya jadi takut berenang di laut, padahal dari kecil saya suka sekali berenang di laut. Bukankah jelas suatu kemustahilan ada hiu di pinggir pantai? Saya tau bahwa itu adalah hal yang sangat mustahil tapi saya tetap tidak bisa menghilangkan perasaan takut saya. Aneh karena saya terpengaruh oleh film ini (sekali lagi saya tekankan) meski saya sadar bahwa hiu di pinggir pantai adalah hal yang mustahil. (Hiu yang saya maksud adalah hiu besar, ganas, dan mengerikan seperti di film)


Jika berdasarkan dua kasus saya tersebut, apa yang saya baca atau apa yang saya tonton sebenarnya tidak benar-benar mempengaruhi saya. Karena saya sendiri yang menentukan apa yang saya yakini, apa yang akan saya lakukan. Saya sendiri yang bertanggung jawab atas pikiran-pikiran saya.


Tapi,
jika pikiran-pikiran saya adalah pikiran yang buruk, membaca atau menonton sesuatu yang mendukung akan hal buruk yang saya pikirkan dapat menjadi pembenaran untuk saya melakukan hal buruk tersebut. Yang artinya, hal itu mempengaruhi pikiran saya.


Kalau begitu, yang bermasalah adalah pikiran saya, kan? Sekali lagi, saya yang bertanggung jawab atas apa yang saya pikirkan.


Saya memang bertanggung jawab atas apa yang saya pikirkan, tapi jika tidak ada pemicu yang membenarkan pikiran buruk saya, bisa jadi saya tidak akan melakukan hal buruk yang saya pikirkan.


Pada akhirnya saya tidak bisa membuat keputusan.

Jadi, apakah bacaan atau film yang saya konsumsi benar-benar mempengaruhi saya?

Selasa, 08 September 2020

Cuk, selamat ulang tahun!

 Hari ini temen saya ulang tahun. Saya enggak pernah mengatakan sesuatu yang baik padanya. Tentu saja saya enggak benar-benar bermaksud mengatakannya, tapi saya sedikit khawatir candaan saya melukai kepercayaan dirinya. Untuk itu saya bermaksud mengatakan hal-hal baik tentangnya hari ini.

Cuma tiga hal yang saya sebutkan tapi kebaikan dia lebih dari itu.


  • Kalau kita lagi main berdua, dia enggak pernah mengatakan hal buruk tentang Linday atau Giney. Jadi saya yakin kita beneran teman. Saya juga jadi mau belajar untuk jadi beneran teman untuknya (and yes I'm toxic. Bad person).


  • Hari terakhir dia kerja di Lapi karena kontraknya ga diperpanjang, kita ga langsung pulang. Kita main ke alun-alun, gatau mau ngapain. Kayaknya sih menghabiskan waktu berdua aja selagi masih bisa ketemu makannya disana kita cuma planga plongo ketawa ketiwi ga jelas sampai ada satu pemulung kecil, dia kasih makanan juga duit ke anak itu. Matanya berkaca-kaca liat anak itu. Saya dalam hati cuma misuh, sial ini anak lagi sedih sebenernya tapi masih bisa bantu orang lain dan malah lebih sedih ngeliat kesedihan orang lain. Dia ini keliatannya aja brutal dari luar, sebenernya mah soft banget, gampang nangis.


  • Dia tau banget kalau saya seneng koleksi merchandise BIGBANG, baca buku, juga koleksi Takeshi Gouda alias Gian. Sedangkan di indekos saya cuma punya sendok 2 biji, juga gapunya talenan. Jadi kalau motong-motong bahan masakan yaa di cobek kayu (yang dipaksa multifungsi). Waktu ulang tahun, dia ngasih kado dua item itu. Jujur saya beneran terharu dapet kado murahan dari dia.


Kalau saya udah nulis sepanjang ini, biasanya emang beneran jujur dari hati.

She's a good person inside and outside.


Kalau saya lagi marah sama dia, tolong ingatkan saya bahwa saya pernah menulis ini. Bahwa dia jenis teman baik yang terlalu berharga untuk dilepas.


Wawasannya luas, mau ngobrol apa aja selalu nyambung sama dia. Dari segi fisikpun dia engga buruk. Semua manusia rupawan, hanya bergantung pada siapa yang melihat, kan. Dan di mata saya, dia enggak buruk sama sekali.


Dia teman yang baik maka saya sedang berusaha menjadi teman yang baik dan pantas untuknya. Saya juga berharap dia mendapat seorang lelaki terbaik yang pantas menjadi pasangan seumur hidupnya.


Tapi Ya Allah, please saya duluan yang dapet jodoh. Linday dulu gpp, asal jangan dia dulu. Pokoknya saya dulu sebelum dia yaaa Ya Allah, please Ya Allah.


Hahahaha, becanda. Siapapun yang lebih dulu, saya berharap kami semua mendapat yang terbaik. Menuju takdir terbaik.


Semoga dia selalu diberikan kesehatan, juga kebahagiaan setiap harinya.


Selamat ulang tahun, Jennie blackpig.



Translate