Salah satu kelemahan saya adalah menemukan kalimat yang bagus untuk mengawali sebuah cerita. Enggak tau udah berapa kali saya ketik-hapus-ketik-hapus untuk memulai cerita ini hahaha.
Langit di
Cikande siang ini mendung banget, cocok untuk bermalas-malasan. Udah gais
segitu doang enggak ada lagi terusannya, hanya sekedar informasi kalau siang
ini di Cikande tuh mendung.
Sewaktu masih positif covid, saya udah ada niat untuk donor plasma konvalesen kalau udah negatif tapi karena syaratnya BB harus 55kg, jadi pupus sudah niat itu. Akhirnya saya memutuskan untuk donor darah biasa saja.
Akhir-akhir ini saya sering kepikiran sesuatu saat saya tidak melakukan apapun, maka untuk menyelamatkan pikiran, menjaganya tetap waras, belakangan ini saya giat mencari kesibukan. Salah satunya adalah menulis seperti yang saya lakukan sekarang. Siang ini saya memutuskan untuk donor darah di UDD PMI Kab. Serang karena hari ini saya libur kerja dan kebetulan enggak pulang ke Anyer. Sialnya, lagi-lagi BB saya tidak memenuhi syarat. Sempat sedih dan kesel sama diri sendiri. Kenapa saya enggak pernah punya kesempatan? Tapi, perkataan Bapak petugas PMI itu menyadarkan saya, begini katanya
“Gpp, Neng. Yang penting niatnya udah mulia”
Bener juga, saya
lupa akan hal itu. Kalaupun dipaksakan donor, hal itu akan beresiko untuk saya.
Niat awal membantu orang, justru malah jadi merepotkan orang lain. Padahal,
sebelumnya saya pernah mengatakan ini pada driver ojek online yang mengantarkan
saya ke tempat tersebut.
Bapak ojek
itu bercerita bahwa dia takut darah semenjak menerima kain yang penuh darah dari
perawat saat istrinya melahirkan anak pertama mereka. Sejak itu beliau tidak
pernah membantu orang yang mengalami kecelakaan di jalan, bukan karena tidak
punya empati tapi karena rasa takutnya pada darah, kepalanya bisa pusing dan
bahkan pernah pingsan karena hal tersebut.
“Iya gpp kok,
Pak. Kan bapak juga enggak bisa bantu karena takut darah. Lagian yang tadinya
niat mau ngebantuin bisa jadi nanti malah ngerepotin yang lain”
Itu perkataan
saya pada beliau, yang ternyata tidak bisa saya aplikasikan pada diri saya
sendiri.
Dari bahasan tentang donor darah, topiknya berlanjut tentang keluarganya, kelahiran anak pertama yang membuatnya menjadi takut darah, kelahiran anak keduanya yang harus divakum, bentuk kepala akibat vakum, anak keduanya yang selalu terlihat bagus tidak peduli baju yang dipakai murah, mahal, ataupun kumal, sepanjang perjalanan beliau berceloteh tapi saya enggak terganggu sama sekali. Pantas saja beliau berbintang 5. Dan menariknya, ternyata keponakan beliau juga bekerja di pabrik yang sama dengan saya, lebih menariknya lagi, saya cukup mengenal keponakannya tersebut. Benar adanya bahwa dunia ini tak selebar daun kelor.
Sepulangnya dari UDD PMI Kab. Serang saya memutuskan menuju ke perpustakaan sebagai healing. Ternyata perpustakaannya tutup. Kalau sekedar dilihat, perjalanan kali ini saya sial sekali, ya? Tapi saya kurang setuju karena saya mendapat banyak sudut pandang dari perjalanan ini. Cerita selanjutnya adalah cerita tentang driver angkutan umum yang saya tumpangi saat perjalanan pulang. Ia membuka percakapan dengan
“Orang Indonesia lama-lama sehat yaa paru-parunya karena pakai masker terus,
Neng”
Tentu saja saya
tau hal itu ditujukan pada saya yang menggunakan double masker sedangkan beliau
tidak sama sekali. Dari sini pasti bisa kalian tebak topik pembicaraan kami
sepanjang perjalanan hahaha. Beliau mengatakan banyak hal yang bagi saya hal
tersebut adalah berita palsu, apa saya
menyanggah semua perkataannya? Tidak sama sekali. Saya hanya tersenyum. Saya tidak
membenarkan dan juga tidak menyalahkan pemikirannya hingga saya sendiri terkejut
akan apa yang telah saya lakukan. Saya hanya berdo’a kita semua selalu sehat. Ini
bukan satire, saya benar-benar berharap saya, bapak tersebut, kalian,
orang-orang yang percaya dan tidak percaya covid-19 itu ada, kita semua agar selalu sehat. Ada satu pandangan kami (saya dan bapak tersebut) yang sama,
bahwa pemerintah seringkali membungkam orang-orang yang berani berkata benar.
Hal yang
benar-benar ingin saya bagi pada tulisan ini sebenarnya adalah tentang mengapresiasi
kebaikan kecil. Saya tidak membicarakan orang lain, saya membicarakan diri saya
sendiri. Saya seringkali lupa untuk mengapresiasi kebaikan kecil dari orang
lain. Tiap kali ditegur, ada banyak alasan “astaga, orang cuma gitu doang” “yaelah,
begituan aja. Padahal gue blablabla”
Saya sudah
mengatakannya di awal bahwa cuaca di Cikande siang ini mendung. Saat berangkat,
saya bertemu tetangga indekos (juga teman sepabrik) yang menanyakan tujuan saya
pergi tapi saya tidak memberitahunya.
“Mendung, lu
bawa payung ga?”
“Enggak,
minggu kemaren payungnya ketinggalan sih di angkot”
“Nih, mau
pinjem payung gue gak?”
See?
Hal remeh,
kan? Sekedar minjemin payung. Tapi itu tetap perbuatan baik yang harusnya patut
diapresiasi. Kamu ketemu temen kamu yang mau pergi secara enggak sengaja,
sebagian besar orang cuma basa-basi bentar terus bilang hati-hati, udah. Jarang
ada yang mikir sampe ‘oh sekarang kan mendung, dia bawa payung ga tuh’,
jarangggg bangett.
Kebaikan kecil
sering kali tidak terlihat. Padahal, sekecil apapun, kebaikan tetaplah kebaikan,
dan patut untuk diapresiasi.
Kamu pernah
menerima sebuah chat yang sebenarnya sudah kamu baca tapi orang yang mengirim
tidak mengetahui apakah kamu sudah membacanya, orang tersebut hanya akan tahu
jika kamu membalasnya. Unseen.
