Jumat, 11 September 2020

Apa bacaan dan film yang saya konsumsi benar-benar mempengaruhi isi kepala saya?

"Boikot buku x"

"Boikot film z"


Pasti udah enggak asing lagi sama kalimat itu. Alasan diboikot kebanyakan karena dianggap akan mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu hal yang buruk.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat report video youtuber x karena menurut saya berisi informasi yang misleading. Khawatir sebagian penontonnya akan menganggap informasi yang ada di video tersebut adalah hal yang benar.

Tapi,
saya penasaran apa sebuah buku, video, atau film benar-benar mempengaruhi isi kepala kita?


Saya pernah membaca sebuah buku yang berjudul : Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur.

Sebagai hamba yang biasa-biasa saja alias islam turunan, saya juga pernah kehilangan harapan, kecewa juga marah pada Tuhan. Beruntungnya, saya masih diberi rasa takut untuk melakukan perbuatan yang menimbulkan dosa besar. Mungkin rasa kecewa saya tidak sebanding dengan tokoh utama di buku tersebut. Namun, bisa jadi, itu semua karena saya masih bisa berpikir bahwa hal tersebut tidak benar untuk bisa saya ikuti.
Jadi, buku ini tidak mempengaruhi saya sama sekali.


Saya ini suka sekali menonton film Shark dkk. Karena itu saya jadi takut berenang di laut, padahal dari kecil saya suka sekali berenang di laut. Bukankah jelas suatu kemustahilan ada hiu di pinggir pantai? Saya tau bahwa itu adalah hal yang sangat mustahil tapi saya tetap tidak bisa menghilangkan perasaan takut saya. Aneh karena saya terpengaruh oleh film ini (sekali lagi saya tekankan) meski saya sadar bahwa hiu di pinggir pantai adalah hal yang mustahil. (Hiu yang saya maksud adalah hiu besar, ganas, dan mengerikan seperti di film)


Jika berdasarkan dua kasus saya tersebut, apa yang saya baca atau apa yang saya tonton sebenarnya tidak benar-benar mempengaruhi saya. Karena saya sendiri yang menentukan apa yang saya yakini, apa yang akan saya lakukan. Saya sendiri yang bertanggung jawab atas pikiran-pikiran saya.


Tapi,
jika pikiran-pikiran saya adalah pikiran yang buruk, membaca atau menonton sesuatu yang mendukung akan hal buruk yang saya pikirkan dapat menjadi pembenaran untuk saya melakukan hal buruk tersebut. Yang artinya, hal itu mempengaruhi pikiran saya.


Kalau begitu, yang bermasalah adalah pikiran saya, kan? Sekali lagi, saya yang bertanggung jawab atas apa yang saya pikirkan.


Saya memang bertanggung jawab atas apa yang saya pikirkan, tapi jika tidak ada pemicu yang membenarkan pikiran buruk saya, bisa jadi saya tidak akan melakukan hal buruk yang saya pikirkan.


Pada akhirnya saya tidak bisa membuat keputusan.

Jadi, apakah bacaan atau film yang saya konsumsi benar-benar mempengaruhi saya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate