Pernah denger cerita rakyat tentang Candi Prambanan? Bandung Bondowoso gagal memenuhi permintaan Loro Jonggrang untuk membangun 1000 candi dalam satu malam.
Bagi
Sapardi, penyair kebanggaan tanah air, hujan ada di bulan Juni, namun bagi saya
hujan itu ada di bulan Juli. Tanggal 30 Juni, malam harinya saya merasa pusing,
badan saya panas, dan saya muntah. Esok harinya saya melakukan swab antigen dan
hasilnya positif. Jadi, ya, saya mengawali bulan kelahiran ini dengan kabar
buruk. Virus ini rasanya mengubah hidup saya hanya dengan satu malam. Betapa
kuatnya ia sampai bisa menandingi kemampuan sekumpulan jin yang membantu
Bandung Bondowoso melakukan sesuatu dalam satu malam.
Saat tau
hasilnya positif, saya langsung bisa menerima kenyataan yang pahit ini. Saya
yakin saya bisa mengatasinya, saya yakin bisa sembuh. Tapi, keyakinan saya
tidak bisa meredam kekhawatiran keluarga saya. Setelah mendengar kabar ini,
keluarga di rumah menangis yang juga membuat saya ikut menangis tentunya
hahhaa. Kelemahan kita semua adalah air mata anggota keluarga, bukan?
Keluarga
saya panik, khawatir bagaimana makan saya sehari-hari, hingga orang tua saya
berencana untuk tinggal di indekos bersama saya (yang positif covid). Karena
saya menyayangi orang tua saya lebih dari apapun, lebih dari saya menyayangi
BIGBANG (idol group korea kesayangan saya), ide tersebut langsung saya tolak.
Saya sampai mengancam tidak akan membukakan pintu kamar jika orang tua saya
datang hahaha. Setelah menjelaskan panjang lebar bahwa di sini ada Linday dan Jennie blackpig (teman yang saya benci juga cintai) yang membantu saya, juga Linday yang
tidak pulang ke rumah saat weekend karena khawatir kondisi saya memburuk
sewaktu-waktu, ada 2 orang teman yang akan menjaga saya di sini, akhirnya orang
tua saya mengerti.
Sejujurnya saya selalu berharap ibu saya tidak pernah mengkhawatirkan saya, karena saya juga tidak pernah khawatir akan hidup saya, saya yakin seberat apapun masalahnya, saya pasti bisa melaluinya seperti yang telah berlalu. Saya mau ibu saya tidak pernah khawatir akan putri sulungnya, karena satu-satunya hal yang dikhawatirkan putri sulungnya ini adalah ibunya mengkhawatirkan putrinya.
Selama
sakit, saya merasa bersalah kepada banyak orang.
Saya merasa bersalah karena di usia yang ke-25, saya masih membuat keluarga saya khawatir. Maafkan saya. Saya merasa bersalah karena merepotkan teman-teman.
Awalnya saat
isolasi mandiri di indekos saya pikir setiap hari saya hanya akan makan telur
hahaha. Tapi, ternyata enggak. Saya berterima kasih pada Tuhan, karena Tuhan
memberikan nikmat pada saya melalui orang-orang di sekitar saya. Tuhan
memberikan orang-orang baik di sekeliling saya. Ada banyak orang yang
menanyakan kabar saya, menawarkan bantuan, mengantarkan makanan berat, camilan,
multivitamin. Bahkan teman saya yang di Bogor juga ikut mengirimkan sesuatu
untuk saya. Maaf karena telah mengambil rezeki si kembar, juga rezeki
teman-teman semua. Terima kasih banyak dan maaf karena telah membuat banyak
orang kerepotan. Ada orang-orang yang terpaksa saya tolak dengan halus tawaran
bantuannya, bukan karena sombong ataupun menolak rezeki, tapi perasaan ini,
saya sudah tidak bisa lagi menanggung fakta karena merepotkan banyak orang.
Terima kasih juga kepada para Daddy long legs terbaik saya, yang memenuhi kebutuhan saya selama isoman ini, dari mulai makanan-minuman, keperluan dapur, keperluan kamar mandi, segala macam hal, thank you Linday, thank you Jennie blackpig. Rasanya berterima kasih aja enggak cukup untuk membalas kebaikan kalian.
Ibu saya selama ini berpikir bahwa saya memiliki hati yang sekeras batu karena saya jarang bisa menangis, hati saya juga sulit untuk “dibolak-balik”. Kenyataannya, di masa awal menjalani isoman saya selalu menangis di malam hari, karena terharu, bersyukur, bingung cara membalasnya tiap kali ada yang mengirimkan makanan. Rasanya seperti disayangi oleh orang-orang. Sekali lagi, terima kasih banyak telah mengingat saya dan mengkhawatirkan saya. Terima kasih orang baik.
Selama
isoman saya berdo’a kepada Tuhan, meminta rezeki sehat, berusaha yang terbaik
dengan memakan makanan yang bergizi, minum multivitamin, berolahraga di dalam
ruangan, juga tidur yang cukup. Saya tidak mengalami keluhan yang berarti, saya
sempat anosmia dan pulih dalam waktu seminggu. Saya merasa badan saya sehat,
mungkin karena efek vaksin. Hari ke-14 saya melakukan PCR, ternyata hasilnya
masih positif dengan ct value yang rendah sekitar 20-an. Sepersekian detik saya
merasa kecewa pada Tuhan, “Loh, kok, begini?”. Beruntungnya hal tersebut
terjadi hanya sepersekian detik, beruntungnya kesadaran saya cepat kembali.
Saat itu juga saya menepuk-nepuk dada saya sembari memohon pada Tuhan untuk
diberikan kekuatan, ketabahan, juga keikhlasan untuk melaluinya. Memang pada
dasarnya Tuhan baik, saat itu juga, saya, hati saya, baik-baik saja, saya
menerimanya. Pada saat itu saya juga melihat status orang-orang di media sosial
yang kebanyakan memberikan getaran positif, saya seperti disemangati oleh
banyak orang. Saya merasa Tuhan menjanjikan kesembuhan pada saya melalui status
orang-orang tersebut.
Saya berdo’a semoga ada hikmah yang bisa saya ambil dari kondisi ini. Dan memang benar ada hikmah yang bisa saya dapatkan dari kondisi ini. Selama 6 tahun, ada duri yang tertancap di hati saya. Saya berharap Tuhan dapat membantu mencabutnya, saya berusaha menghilangkan duri tersebut dari hati saya, tapi hasilnya nihil, duri itu tertancap semakin dalam. Kata orang, Tuhan pasti akan mengabulkan do’amu atau menggantinya dengan yang lebih baik. Benar, Tuhan mengabulkan do’a saya selama ini, duri itu hilang begitu saja sekarang. Sepertinya saya sudah mengatakannya bahwa Tuhan memang baik.
Yang paling mengganggu kesehatan mental saya sebenarnya adalah pandangan dari orang-orang yang tinggal di lingkungan sekitar saya. Mungkin ini konsekuensi dari isoman di indekos hahaha. Dan yang paling menyakitkan adalah saat ibu saya mengatakan ini “Pulang sih, Nong”, saat itu juga saya tertawa, mencoba menahan air mata saya jatuh. Betapa rindunya saya dengan “rumah”, saya juga merasa bersalah pada Linda, karena saya, dia jadi tidak bisa pulang ke rumah. Maafkan saya.
Teman-teman, saya akan tersinggung jika sampai sekarang kalian masih tidak percaya bahwa covid-19 itu ada, atau yang menganggap covid-19 seperti penyakit flu biasa. Rasanya seperti perjuangan saya untuk sembuh selama ini disepelekan oleh teman saya sendiri. Saya, yang mengalami gejala ringan saja tersinggung, apalagi keluarga dari korban yang meninggal. Konspirasi, illuminati, mari tinggalkan itu semua dan gunakan rasa kemanusiaan yang kita miliki.
Kalau kamu
ingin tahu apa babi itu haram dalam islam, pendapat siapa yang akan kamu
percaya? Dokter? Ulama? Dosen? Atau katanya kata temanmu?
Ulama, bukan? Apa ulama tersebut mengatakan berdasarkan pendapat pribadinya? Bukan, tapi berdasarkan Al-Qur’an. Jika ulama tersebut mengatakan berdasarkan pendapat pribadinya, maka kamu perlu meragukan ucapannya. Kita mempercayai sesuatu yaa menurut ahlinya berdasarkan sumber yang jelas. Jadi, berhenti untuk mempercayai sesuatu yang sumbernya berdasarkan pendapat pribadi bukan berdasarkan penelitian. Berhenti menyebarkan berita yang misleading, kamu enggak pernah tahu bahwa mungkin saja ada orang yang harus kehilangan nyawanya karena membaca kemudian mempercayai berita yang kamu sebarkan.
Jangan lupa untuk vaksin. Bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tapi juga untuk melindungi orang-orang yang tidak bisa divaksin, seperti orang dengan resiko penggumpalan darah. Kita memang masih bisa terkena covid setelah vaksin, tapi biasanya hanya gejala ringan. Dan, jangan lupa berterima kasih pada Tuhan, karena sehat adalah sebuah rezeki.
Saat kalian membaca tulisan ini, artinya saya sudah sembuh.
Terima kasih banyak semuanya.
Semoga, tepat
di umur 25 tahun ini, kebaikan yang kalian berikan pada saya, bisa saya lakukan
juga pada orang lain seperti mata rantai yang tidak pernah putus.
Terakhir,
saya masih percaya akan kutipan ini:
Pelangi yang
muncul setelah hujan adalah janji alam bahwa masa buruk telah berlalu, dan masa
depan akan baik-baik saja.
Semoga kita sehat selalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar