Rabu, 16 September 2020

"Hati-hati, ya"

Pernah enggak ngerasa tersentuh banget sama ucapan seseorang? Padahal sebenernya bagi orang yang ngomong ucapan itu biasa aja, tapi kitanya aja yang baperan.


Karena saya mengawalinya dengan pertanyaan itu, tentu aja saya pernah merasakannya dan ingin mengungkapkannya di sini.


Dari rumah ke tempat kerja atau dari tempat kerja ke rumah, saya selalu menggunakan angkutan umum. Tiap kali turun dari bus saya selalu bilang makasih ke abang kondekturnya dan biasanya dapet jawaban "Iya" atau ga sunyi sepi senyap. Baru kali itu saat saya bilang makasih, bapaknya bilang gini "Iya hati-hati, dek".

Saat itu juga hati saya langsung tersentuh terenyuh wuh edaaas haha.


Jauh sebelum kejadian itu, dapet ucapan yang sama tapi dari orang yang berbeda.

Waktu berangkat kerja, saya suka mampir dulu beli sarapan. Biasanya beli uduk, atau nasi kuning, atau ketoprak, tapi karena lagi bosen jadi cuma jajan pancong (gatau deh di tempat kalian apa namanya sama atau enggak). Waktu bilang makasih, bapaknya juga bilang hal yang sama "Hati-hati ya, neng".


Buat bapak penjual pancong atau bapak kondektur bus kayaknya ucapan mereka cuma biasa aja. Bisa jadi cuma asal ngomong. Tapi gatau kenapa saat itu saya merasa terharu banget seakan itu ucapan paling tulus sama seperti ucapan ibu saya tiap kali saya berangkat kerja. Rasanya seneng banget dapet do'a dari orang yang ga dikenal supaya selamat sampai tujuan. Karena sehat dan selamat adalah rezeki. Rasanya bukan Agisni Safarina banget sih ngomong beginian hahaha.


Mungkin saat itu saya lagi sensitive aja hahaha. Meski sampai sekarang saya masih mengingatnya.


Temen-temen yang sedang dalam perjalanan, hati-hati ya. Sehat selalu.


Minggu, 13 September 2020

Kedamaian

Kali ini saya mau mengakui satu dari jutaan sifat buruk saya.

Hal-hal buruk yang orang lain katakan atau lakukan pada saya, tidak pernah bisa untuk dilupakan. Saya selalu mengingatnya. Saya selalu menyimpannya baik-baik di dalam hati juga ingatan.


Sebagian hanya saya simpan, sisanya jika itu benar-benar menyakiti hati, saya tidak akan memaafkannya. Berniat untuk memaafkannya pun tidak. I'll really burn the bridge. Saya tidak akan memaki, saya hanya memutus segalanya. Meski begitu saya masih merasa terluka karena saya tetap menyimpannya.

Intinya memaafkan orang lain adalah pekerjaan yang sulit saya lakukan. Jika itu benar-benar amat sangat menyakitkan bagi saya, maka persentase kemungkinan dapat dimaafkan oleh saya adalah 0,00000000000001%. Jangan bilang Tuhan aja maha pemaaf blablabla masa kamu blablabla, saya juga sadar itu.


Hari ini saya baca satu kutipan dari author simply an inspired life, Jonathan Lockwood Huie.


"Forgive others not because they deserve forgiveness, but because you deserve peace"


Saya sadar pasti saya pun pernah menyakiti perasaan orang lain tanpa saya sadari. Kemungkinan mereka sudah mengampuni saya. Tapi hati saya yang busuk ini tidak bisa melakukan hal yang sama seperti yang orang lain lakukan pada saya.


Saya sudah mengatakannya, meski begitu hati saya masih terluka. Saya melupakan hal yang sangat penting, bahwa saya pantas mendapatkan kedamaian.

Jumat, 11 September 2020

Apa bacaan dan film yang saya konsumsi benar-benar mempengaruhi isi kepala saya?

"Boikot buku x"

"Boikot film z"


Pasti udah enggak asing lagi sama kalimat itu. Alasan diboikot kebanyakan karena dianggap akan mempengaruhi seseorang untuk melakukan sesuatu hal yang buruk.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat report video youtuber x karena menurut saya berisi informasi yang misleading. Khawatir sebagian penontonnya akan menganggap informasi yang ada di video tersebut adalah hal yang benar.

Tapi,
saya penasaran apa sebuah buku, video, atau film benar-benar mempengaruhi isi kepala kita?


Saya pernah membaca sebuah buku yang berjudul : Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur.

Sebagai hamba yang biasa-biasa saja alias islam turunan, saya juga pernah kehilangan harapan, kecewa juga marah pada Tuhan. Beruntungnya, saya masih diberi rasa takut untuk melakukan perbuatan yang menimbulkan dosa besar. Mungkin rasa kecewa saya tidak sebanding dengan tokoh utama di buku tersebut. Namun, bisa jadi, itu semua karena saya masih bisa berpikir bahwa hal tersebut tidak benar untuk bisa saya ikuti.
Jadi, buku ini tidak mempengaruhi saya sama sekali.


Saya ini suka sekali menonton film Shark dkk. Karena itu saya jadi takut berenang di laut, padahal dari kecil saya suka sekali berenang di laut. Bukankah jelas suatu kemustahilan ada hiu di pinggir pantai? Saya tau bahwa itu adalah hal yang sangat mustahil tapi saya tetap tidak bisa menghilangkan perasaan takut saya. Aneh karena saya terpengaruh oleh film ini (sekali lagi saya tekankan) meski saya sadar bahwa hiu di pinggir pantai adalah hal yang mustahil. (Hiu yang saya maksud adalah hiu besar, ganas, dan mengerikan seperti di film)


Jika berdasarkan dua kasus saya tersebut, apa yang saya baca atau apa yang saya tonton sebenarnya tidak benar-benar mempengaruhi saya. Karena saya sendiri yang menentukan apa yang saya yakini, apa yang akan saya lakukan. Saya sendiri yang bertanggung jawab atas pikiran-pikiran saya.


Tapi,
jika pikiran-pikiran saya adalah pikiran yang buruk, membaca atau menonton sesuatu yang mendukung akan hal buruk yang saya pikirkan dapat menjadi pembenaran untuk saya melakukan hal buruk tersebut. Yang artinya, hal itu mempengaruhi pikiran saya.


Kalau begitu, yang bermasalah adalah pikiran saya, kan? Sekali lagi, saya yang bertanggung jawab atas apa yang saya pikirkan.


Saya memang bertanggung jawab atas apa yang saya pikirkan, tapi jika tidak ada pemicu yang membenarkan pikiran buruk saya, bisa jadi saya tidak akan melakukan hal buruk yang saya pikirkan.


Pada akhirnya saya tidak bisa membuat keputusan.

Jadi, apakah bacaan atau film yang saya konsumsi benar-benar mempengaruhi saya?

Selasa, 08 September 2020

Cuk, selamat ulang tahun!

 Hari ini temen saya ulang tahun. Saya enggak pernah mengatakan sesuatu yang baik padanya. Tentu saja saya enggak benar-benar bermaksud mengatakannya, tapi saya sedikit khawatir candaan saya melukai kepercayaan dirinya. Untuk itu saya bermaksud mengatakan hal-hal baik tentangnya hari ini.

Cuma tiga hal yang saya sebutkan tapi kebaikan dia lebih dari itu.


  • Kalau kita lagi main berdua, dia enggak pernah mengatakan hal buruk tentang Linday atau Giney. Jadi saya yakin kita beneran teman. Saya juga jadi mau belajar untuk jadi beneran teman untuknya (and yes I'm toxic. Bad person).


  • Hari terakhir dia kerja di Lapi karena kontraknya ga diperpanjang, kita ga langsung pulang. Kita main ke alun-alun, gatau mau ngapain. Kayaknya sih menghabiskan waktu berdua aja selagi masih bisa ketemu makannya disana kita cuma planga plongo ketawa ketiwi ga jelas sampai ada satu pemulung kecil, dia kasih makanan juga duit ke anak itu. Matanya berkaca-kaca liat anak itu. Saya dalam hati cuma misuh, sial ini anak lagi sedih sebenernya tapi masih bisa bantu orang lain dan malah lebih sedih ngeliat kesedihan orang lain. Dia ini keliatannya aja brutal dari luar, sebenernya mah soft banget, gampang nangis.


  • Dia tau banget kalau saya seneng koleksi merchandise BIGBANG, baca buku, juga koleksi Takeshi Gouda alias Gian. Sedangkan di indekos saya cuma punya sendok 2 biji, juga gapunya talenan. Jadi kalau motong-motong bahan masakan yaa di cobek kayu (yang dipaksa multifungsi). Waktu ulang tahun, dia ngasih kado dua item itu. Jujur saya beneran terharu dapet kado murahan dari dia.


Kalau saya udah nulis sepanjang ini, biasanya emang beneran jujur dari hati.

She's a good person inside and outside.


Kalau saya lagi marah sama dia, tolong ingatkan saya bahwa saya pernah menulis ini. Bahwa dia jenis teman baik yang terlalu berharga untuk dilepas.


Wawasannya luas, mau ngobrol apa aja selalu nyambung sama dia. Dari segi fisikpun dia engga buruk. Semua manusia rupawan, hanya bergantung pada siapa yang melihat, kan. Dan di mata saya, dia enggak buruk sama sekali.


Dia teman yang baik maka saya sedang berusaha menjadi teman yang baik dan pantas untuknya. Saya juga berharap dia mendapat seorang lelaki terbaik yang pantas menjadi pasangan seumur hidupnya.


Tapi Ya Allah, please saya duluan yang dapet jodoh. Linday dulu gpp, asal jangan dia dulu. Pokoknya saya dulu sebelum dia yaaa Ya Allah, please Ya Allah.


Hahahaha, becanda. Siapapun yang lebih dulu, saya berharap kami semua mendapat yang terbaik. Menuju takdir terbaik.


Semoga dia selalu diberikan kesehatan, juga kebahagiaan setiap harinya.


Selamat ulang tahun, Jennie blackpig.



Senin, 07 September 2020

Arus

 Baru aja nonton Begin Again yang bawain lagu Road by G.O.D.

Begini sedikit liriknya :




Hati saya jadi terusik.

Dari awal tahun ini saya emang udah mengalamai quarter life crisis. Tapi rasanya semakin mengkhawatirkan setelah denger lagu Road.

Menyedihkan karena kamu enggak tau apa yang benar-benar kamu inginkan. Menyedihkan karena merasa hanya kamu sendiri yang tidak memiliki tujuan, ikut mengalir terbawa arus.

Terakhir,



Translate