Kamis, 30 Mei 2019

#curhatyok Kang Sodrun Merayu Tuhan





Lagi-lagi saya membeli buku dengan harga yang tidak sesuai dengan pelajaran yang saya dapat dari membacanya.

Buku ini bercerita tentang kehidupan Kang Sodrun. Tentang pengalaman Kang Sodrun saat menjadi santri yang tidak bisa membayar obat saat beliau sakit hingga Kang Sodrun yang telah berkeluarga dan berkecukupan.

Ketika Kang Sodrun tidak bisa menebus obat seharga 27.000 rupiah, ada seorang lelaki yang membayar tagihannya. Kebaikan lelaki itu membuat Kang Sodrun ingin membalasnya, bukan kepada lelaki tersebut tapi kepada orang lain seperti mata rantai yang tak terputus.

Kang Sodrun juga bertemu dengan pedagang asongan yang memberi pelajaran agar kita tak perlu khawatir tidak kebagian nikmat Tuhan karena stoknya cukup banyak dan akan selalu banyak, suatu saat pasti akan kebagian. 
Sejatinya kesehatan juga adalah sebuah nikmat, bukan ?

Bagaimana Kang Sodrun yang harus menahan amarah kepada pembantunya karena lalai dalam menjaga anak beliau. Bagaimana Kang Sodrun harus memaafkan bukan hanya di bibir, tapi juga menghapus kebencian dan dendam yang bersemayam di dalam dada.

Ada juga Marni anak dari Bude Parmi (tetangga Kang Sodrun) yang bingung karena tidak memiliki cukup uang untuk biaya persalinan. Bude Parmi selalu berdo'a kepada Allah selepas sholat, tapi hasilnya belum ada juga. Keluarga Bude Parmi tetap kekurangan. Kita sebagai manusia sering kali meragukan kekuasan Tuhan untuk mengabulkan do'a kita. Padahal Allah mengabulkannya lewat Kang Sodrun yang menulis cerita tentang mereka, lewat salah satu pembaca cerita Kang Sodrun yang tergerak hatinya dan ingin membantu. Lewat ratusan orang yang belanja di toko orang itu (pembaca kang sodrun yang tergerak hatinya untuk membantu Bude Parmi). Hingga akhirnya Marni memiliki cukup biaya untuk persalinan.


Waktu baca buku ini saya berasa ditampar sama cerita Kang Sodrun "yaelah gis, lu tuh yaa jadi manusia suwombwong banget. Engga inget tetangga, engga inget Tuhan"

Punya rezeki engga inget tetangga, mikirnya "Ah cuma sedikit, saya juga kurang" padahal siapa tau rezeki saya yang sedikit itu adalah rezeki titipan Allah buat tetangga melalui saya.

Juga suwombwong banget karena sulit buat engga dendam sama orang. Berasa orang paling bener engga pernah salah sama orang lain. Padahal pasti banyak orang yang sakit hati karena perkataan atau perlakuan saya juga.

Buku ini sangat layak untuk jadi koleksi bacaan kamu :)

Seperti biasanya, berikut sebuah kutipan dari buku ini :

”Apa kau pikir Tuhan akan menjual surga-Nya dengan harga yang sangat murah ? ...”


Translate