
Bagus kenang adalah salah satu dari lare winih, anak-anak pilihan yang disiapkan sebagai penerus kerajaan sanggabuana. Mereka mengikuti gladi di moksa praja, kerajaan yang hilang karena suatu bencana yang maha dahsyat. Kenyataannya mereka tidak hanya melakukan gladi, tapi mereka menghadapi 'sesuatu' itu disana. 'Sesuatu' yang luar biasa, alasan dibentuknya lare winih.
Saya membeli buku ini di bazar buku hanya dengan harga 25.000 ? 10.000 ? Atau 15.000 rupiah, entahlah saya lupa tepatnya berapa. Saya merasa malu dan amat sangat tidak pantas setelah membacanya.
Moksa praja membawa saya masuk ke dalam dunianya.
Saya ikut bertanya dan coba menjawab alasan kenapa rombongan gaok putih tidak pernah kembali ? Siapa sebenarnya gadung lelono ? Kenapa pangeran Arcapada tidak datang ke padas hulu ? Ada hubungan apa bagus kenang dan kala upas ? Dan tentunya masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang saya pikirkan selama membaca cerita ini. Sayangnya, cerita ini benar-benar berbeda, saya tidak bisa menebak jalan ceritanya. Penulis memberi kejutan yang tidak terpikirkan oleh saya tentunya.
Bagus kenang yang berasal dari desa kecil bernama lembah seroja tak pernah melihat dunia di luar desanya akhirnya memiliki kesempatan itu. Dia mencari jawaban atas apa-apa yang ingin diketahui, tapi kenyataannya makin banyak yang dia tahu, semakin banyak yang membingungkannya. Tentu kebingungan itu tidak bertahan selamanya, karena waktu selalu mengungkap segalanya.
Perjalanan bagus kenang bersama para lare winih atau anak-anak pilihan memberi banyak pelajaran hidup bagi saya. Baik atau buruknya sesuatu yang terjadi pada saya, bergantung pada apa yang saya pikir dan lakukan. Sejujurnya, meskipun saya tahu betul cerita ini fiksi, tapi saya begitu kagum pada lare winih seperti Warugunung, Ayu kemuning, terutama Darulintang. Mereka sungguh anak-anak yang luar biasa dengan pemikiran yang luar biasa pula tentunya. Ya, karena mereka memang anak-anak pilihan. Hahahaha.
Tapi dari kisah moksa praja ini, saya masih belum puas dengan 2 kasus. Kejelasan akan Ayu kemuning yang mengambil bagian dari tosan taranggana kemudian jatuh di lumpur pijar, juga nasib dari Ludira Mahalaya. Saya sebenarnya berharap mendapat jawaban di buku ke-2. Sayangnya saat saya mencari soal moksa praja di internet, saya kesulitan. Saya tidak menemukan titik terang bahwa ada buku ke-2. Bahkan saya kesulitan untuk mencari akun sosial media penulis moksa praja. Padahal buku ini sangat menarik bagi saya.
Terakhir, saya sangat tertarik pada kalimat yang satu ini :
Kekuatan pikiran itu berlaku di mana-mana. Yang Maha Kuasa telah menciptakan alam semesta ini untuk kepentingan manusia. Maka apa yang diinginkan manusia dengan penuh keyakinan, alam semesta ini akan mempersembahkan untuknya.

