Minggu, 07 April 2019

#curhatyok Moksa Praja

 

                           



Bagus kenang adalah salah satu dari lare winih, anak-anak pilihan yang disiapkan sebagai penerus kerajaan sanggabuana. Mereka mengikuti gladi di moksa praja, kerajaan yang hilang karena suatu bencana yang maha dahsyat. Kenyataannya mereka tidak hanya melakukan gladi, tapi mereka menghadapi 'sesuatu' itu disana. 'Sesuatu' yang luar biasa, alasan dibentuknya lare winih.

Saya membeli buku ini di bazar buku hanya dengan harga 25.000 ? 10.000 ? Atau 15.000 rupiah, entahlah saya lupa tepatnya berapa. Saya merasa malu dan amat sangat tidak pantas setelah membacanya.
Moksa praja membawa saya masuk ke dalam dunianya.

Saya ikut bertanya dan coba menjawab alasan kenapa rombongan gaok putih tidak pernah kembali ? Siapa sebenarnya gadung lelono ? Kenapa pangeran Arcapada tidak datang ke padas hulu ? Ada hubungan apa bagus kenang dan kala upas ? Dan tentunya masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan yang saya pikirkan selama membaca cerita ini. Sayangnya, cerita ini benar-benar berbeda, saya tidak bisa menebak jalan ceritanya. Penulis memberi kejutan yang tidak terpikirkan oleh saya tentunya.

Bagus kenang yang berasal dari desa kecil bernama lembah seroja tak pernah melihat dunia di luar desanya akhirnya memiliki kesempatan itu. Dia mencari jawaban atas apa-apa yang ingin diketahui, tapi kenyataannya makin banyak yang dia tahu, semakin banyak yang membingungkannya. Tentu kebingungan itu tidak bertahan selamanya, karena waktu selalu mengungkap segalanya.


Perjalanan bagus kenang bersama para lare winih atau anak-anak pilihan memberi banyak pelajaran hidup bagi saya. Baik atau buruknya sesuatu yang terjadi pada saya, bergantung pada apa yang saya pikir dan lakukan. Sejujurnya, meskipun saya tahu betul cerita ini fiksi, tapi saya begitu kagum pada lare winih seperti  Warugunung, Ayu kemuning, terutama Darulintang. Mereka sungguh anak-anak yang luar biasa dengan pemikiran yang luar biasa pula tentunya. Ya, karena mereka memang anak-anak pilihan. Hahahaha.

Tapi dari kisah moksa praja ini, saya masih belum puas dengan 2 kasus. Kejelasan akan Ayu kemuning yang mengambil bagian dari tosan taranggana kemudian jatuh di lumpur  pijar, juga nasib dari Ludira Mahalaya. Saya sebenarnya berharap mendapat jawaban di buku ke-2. Sayangnya saat saya mencari soal moksa praja di internet, saya kesulitan. Saya tidak menemukan titik terang bahwa ada buku ke-2. Bahkan saya kesulitan untuk mencari akun sosial media penulis moksa praja. Padahal buku ini sangat menarik bagi saya.

Terakhir, saya sangat tertarik pada kalimat yang satu ini :

Kekuatan pikiran itu berlaku di mana-mana. Yang Maha Kuasa telah menciptakan alam semesta ini untuk kepentingan manusia. Maka apa yang diinginkan manusia dengan penuh keyakinan, alam semesta ini akan mempersembahkan untuknya.



Rabu, 03 April 2019

#curhatyok SEPTICTANK




Sejujurnya, saya berniat membeli buku ini semenjak pandji menyebut provocative proactive dibahas dalam buku ini. Tapi, saat saya tau hadiah #BalasDi18 bulan maret kemarin adalah buku ini, saya iseng ikutan, dan wah tidak terduga yaa ternyata saya menang huhu 👏 👏 (aslinya, bersyukur banget karena duitnya bisa buat beli buku lain lagi. Dasar missqueen 😂)

Buku ini bercerita tentang pengalaman pandji nyemplung di kolam politik (yaa kalian juga pasti udah tau kalau ini 😂)

Buku ini membosankan ? Menurut saya enggak. Bagaimana pandji bercerita lewat tulisannya, juga tampilan dari keseluruhan buku ini menarik. Apayaa, efek stabilo (?) di buku ini sungguh membantu.

Dimulai dari pandji yang bercerita duit penghasilan pertamanya ternyata dari duit lumpur panas lapindo (bukan woy bukan, duh gimanasih caranya ngedit tulisan
😭)

Kemudian dilanjut dengan Provocative Proactive, acara yang katanya badung sebadung-badungnya. Untuk penonton PP tentu masih membekas adegan dimana raditya dika bersama bingkai foto pak XX keluar dari sebuah kotak kado. Andari, Jflow, Ronal, Radit, dan pandji sendiri melakban foto pak XX karena cuitan belio yang asal sebagai ketua uhuk DPR saat itu. Semoga saya tidak salah ingat kejadian ini, karena saat saya ingin memastikan ternyata video kejadian tsb sudah dihapus dari YouTube.

Saat pandji membahas anies dan hasil kerja di kemendikbud, mantan menteri ESDM, cawapres dari petahana, terpidana kasus terorisme, terpidana kasus Bank Century, serta kalimat 

"ada ketakutan bahwa pak jokowi tidak punya kuasa atas pemerintahannya" 

saya seketika bertanya, saya sedang ada di posisi mana, opini saya terbentuk karena cuitan pandji, atau mata saya terbuka ?

Kemudian di bagian 2024, jika Pak Jokowi menang di pilpres tahun ini, pandji memprediksi pak jokowi akan lebih berani mengambil keputusan strategis. Akan lebih banyak mengambil keputusan yang tidak semata mendukung kebutuhan partai. 

Saya tau dimana posisi saya berada, lagi-lagi karena opini orang lain. HA-HA.

Pandji juga menyebutkan nama-nama yang sekiranya kuat untuk maju di pilpres 2024. BTP salah satunya. Saya jadi inget materi Standup Rindra di Youth Proactive Night, hari anti korupsi sedunia. Korupsi hilang itu hope. Indonesia punya presiden non muslim juga hope. Dan doi lebih percaya kalau korupsi itu hilang. Huhuhuhu 😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂😂

"Saya enggak tau apa-apa soal caleg yang maju" 

kalimat tsb saya temukan di bagian Starter pack politik dalam buku ini. Saya sarankan teman-teman membuka situs www.caleg2019.id atau lebih jelasnya ke twitter @caleg2019id



Terakhir, kalimat yang membekas dari buku ini bagi saya adalah :

Ketika sudah punya peluang untuk menentukan siapa yang pantas mewakili suara kita, 
kenapa tidak dimaksimalkan ?


Translate