Wohoo~ ini benar-benar menakjubkan aku dapat menyapamu, Desember. Pagi yang indah juga penuh gairah di awal Desember bukan? Ah, tunggu! Sepertinya aku melompat terlalu jauh.
***
September 2015
"Alasan dari semua ini karena Line, bukan?" ia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa kamu meragukanku? Sejak kapan selera humormu begitu buruk" aku menanggapinya dengan senyum kecut. Ia terlihat frustasi untuk meyakinkanku. Hah, sudah kuduga. Lebih dari dua tahun kita berteman, tapi ia masih tak mengerti juga bahwa aku tak pernah sekalipun meragukannya.
Perasaan ini... ya, perasaan ini tentu bukan karena aku ragu padanya. Aku yakin itu. Aku hanya... hanya... aku hanya merasa kecewa. Tunggu, bukan kecewa melainkan sedikit kecewa. Ya, sedikit. Jadi, apa kau mengerti? Apa kau mendengarku, Key?
***
***
Selamat tahun baru 2015. Semangat baru dengan lembaran baru tapi masih dengan tokoh yang sama. That's right babe, masih belum berubah. Kita masih membuat kue manis yang sama juga dengan tangan yang sama, tapi dengan teknik yang berbeda tentunya. Dua tahun mencintainya, tanpa menunjukkan perasaan padanya, hanya puas dengan melihat punggungnya tanpa tau jika dia ternyata memiliki kelopak mata yang menghangatkan juga senyum simpul yang membingkai manis wajahnya. Itu kuno. Kita buat berbeda kali ini.
"Selamat tahun baru" aku mendaratkankan bokongku dengan mulus di kursi taman. Ia tersenyum simpul. Aish... manisnya.
"Selamat tahun baru, Mir" balasnya.
Ia memalingkan wajahnya dariku. Kami terdiam. Dia asik memandang sekelompok capung yang terbang kesana kemari. Dan aku yang asik memandang salah satu masterpiece-Nya, Muhammad Haikal Saputra. Laki-laki yang duduk di sampingku ini telah menyita perhatianku dua tahun belakangan. Ia memiliki kulit sawo matang dengan wajah oval. Tidak setampan Herjunot Ali memang, juga tidak sekeren Vino G. Bastian. Tapi cukup terkenal di kalangan siswa perempuan sekolah kita dulu.
Hening. Tak ada suara yang keluar dari mulutku juga mulutnya. Dari deretan daftar kalimat yang telah kubuat semalam tak ada satupun yang kuingat. Benar-benar canggung. Pasalnya selama dua tahun aku memujanya diam-diam tentu tak pernah sekalipun aku berani mendekatinya. Ditambah hanya duduk berdua seperti ini. Aku mencoba mengingat satu kalimat yang ada di daftar itu lebih keras lagi.
Hening. Tak ada suara yang keluar dari mulutku juga mulutnya. Dari deretan daftar kalimat yang telah kubuat semalam tak ada satupun yang kuingat. Benar-benar canggung. Pasalnya selama dua tahun aku memujanya diam-diam tentu tak pernah sekalipun aku berani mendekatinya. Ditambah hanya duduk berdua seperti ini. Aku mencoba mengingat satu kalimat yang ada di daftar itu lebih keras lagi.
Ahhh... ini konyol. Aku tak bisa mengingatnya.
"Bagaimana kabarmu?" ia membuka suara, akhirnya. Melegakan.
"Bagaimana kabarmu?" ia membuka suara, akhirnya. Melegakan.
"Masih dengan kabar yang sama seperti dua tahun belakangan" aku menunduk menatap kakiku yang bergerak berlawanan, ke depan dan ke belakang.
"Kalau kamu?" aku buru-buru melanjutkan. Tak ingin percakapan berhenti sampai disitu.
"Baik, mungkin?" ia menoleh ke arahku dan tersenyum.
"Baik, mungkin?" ia menoleh ke arahku dan tersenyum.
Dan tubuhku kini mencair. Jangan lakukan itu!
"Too much exercises and tasks. Benar-benar kehidupan kampus" ia menganggukkan kepalanya seakan mengerti sesuatu. Kali ini ia menyilangkan tangannya di depan dada dan memainkan bibirnya ke depan, samping kanan, samping kiri. Ia juga mengayunkan kakinya ke depan dan ke belakang.
"You are bored, aren't you?" tebakku. Ia hanya tersenyum (lagi). Jangan lakukan itu, idiot! Aish.
"You are bored, aren't you?" tebakku. Ia hanya tersenyum (lagi). Jangan lakukan itu, idiot! Aish.
"Waktu delapan bulan tidak cukup untuk merubah kebiasaan jam karet mereka. Butuh seumur hidup untuk merubahnya, for your information" Haikal terkekeh mendengarnya.
Sepuluh menit berharga dalam hidupku duduk berdua dengan Haikal. Ya, karena sepuluh menit berikutnya mereka datang menghampiri kami. Hari ini karena libur tengah semester, maka angkatan kami mengadakan "kumpul kecil-kecilan" kami menyebutnya. Delapan bulan terpisah membuat kami merindukan satu sama lain rupanya. Kami saling menyapa dan berangkulan. Dari sekian banyak teman yang hadir, aku mencari-cari sosok perempuan dengan otak setengah itu. Ia berjanji akan datang tapi tidak kutemukan sosoknya. Otak setengahnya itu sangat menonjol oleh karena itu seharusnya tidak sulit menemukannya jika sosoknya hadir meskipun ditengah keramaian seperti ini.
"I know you'll be missing me, dude" seseorang menjitak kepalaku dari belakang.
"I know you'll be missing me, dude" seseorang menjitak kepalaku dari belakang.
Aku membalikkan tubuh dan merangkulnya. Aku kenal betul dengan suara itu. Iya, perempuan dengan otak setengah yang aku cari. Aku mencarinya dan dia menemukanku. Selalu seperti itu. Dulu dan sekarang. Tak pernah berubah sedikitpun. Kami berpelukan sangat erat hingga bulir air turun dari kelopak mataku. Tentu saja itu air mata karena dia merangkulku begitu erat sehingga membuat aku kesakitan. Bukan karena aku merindukannya!
Ia melepas pelukannya, aku buru-buru menyeka air mataku. Ia menatapku dengan menaik turunkan alisnya dan tersenyum jahil. Aku menggelengkan kepalaku, benar-benar tak ada yang berubah dari wanita jalang ini rupanya membuatku berdecak kagum.
Sepulang dari kumpulan itu, aku dan Mikaila menyempatkan diri pergi ke tempat yang dulu sering kita kunjungi. Sama seperti kami, tidak ada perubahan sedikitpun di tempat itu. Menu, warna cat, tata letak, juga karyawan di sana masih sama seperti dulu. Pesanan kami juga masih sama, jahe merah susu, sosis bakar ukuran medium, dan roti bakar keju coklat. Rasanya benar-benar melegakan mengetahui tak ada yang berubah sedikitpun dari kami. Kupikir bertemu dengan beberapa orang baru dapat merubah kami. Aku juga berpikir berpisah selama delapan bulan itu dapat membuat jarak diantara kami.
Mikaila menyesap jahe merahnya dengan menutup mata "Ah, rasanya masih sama"
Aku tersenyum melihatnya.
"Ya, apa kau pikir setelah delapan bulan rasa jahe merah berubah menjadi orange juice?" cibirku.
Mikaila terlihat kesal "Apa kau pikir perasaan Haikal juga akan berubah setelah kau mengubah teknikmu dengan mendekatinya secara terang-terangan, huh?" kini aku yang dibuat kesal.
Bocah tengik ini bagaimana bisa mengatakan kejujuran semudah itu di depan wajahku. Aish, benar-benar.
Aku membanting gelasku "Ya, ya, ya prediksiku benar. Dalam waktu delapan bulan tidak akan bisa menumpulkan mulutmu itu. Ah aku akan menjadi peramal jika seperti ini"
"Mengapa aku menyempatkan diri duduk bersama wanita gila yang tempramen seperti ini. Aish, aku bisa tertular virusnya" ia berdecak kesal.
"Mengapa aku menyempatkan diri duduk bersama wanita gila yang tempramen seperti ini. Aish, aku bisa tertular virusnya" ia berdecak kesal.
Aku yang juga kesal langsung menarik lengannya dan menggigitnya "Sekarang kau mendapatkan virusnya"
Kami tertawa menyadari suara kami terlalu keras hingga menarik perhatian pengunjung lain.
***
Coklat dan bunga laku keras hari ini. Segala pernak-pernik serba merah muda habis terjual. Banyak kejutan. Juga banyak cinta pastinya. Ya, ya, ya aku tau kalian sudah bisa menebaknya bahwa hari ini adalah hari valentine, hari kasih sayang mereka menyebutnya. Biasanya disimbolkan dengan memberi bunga atau coklat ke orang yang mereka cintai. Aku juga hari ini membeli coklat, tapi sedikit ragu untuk memberikannya. Aku memandangi coklat yang ada di tanganku, menimbang-nimbang apa ini tak masalah jika aku memberikannya. Aku menghembuskan napas kasar.
"Biar ku tebak, coklat!" Haikal menduduki kursi kosong di sampingku.
Lelaki ini darimana dia datang, lagi-lagi membuat jantungku terkejut dan berdetak abnormal.
Aku menganggukkan kepalaku "Yup. Untuk siapa?" aku memancingnya.
"Apa kau mencoba memancingku?" ia menaikkan sebelah alisnya seakan mencurigaiku.
"Apa kau mencoba memancingku?" ia menaikkan sebelah alisnya seakan mencurigaiku.
Lagi-lagi aku menganggukkan kepala tak mengelak.
"Baiklah jika kau bertanya untuk siapa, maka jawabannya masih sama seperti dua tahun lalu" ungkapnya. Aku hanya tersenyum. Rupanya dia telah menyadari bahwa aku mengaguminya sedari dulu. Cukup menarik.
***
Bulan terus berganti, hubunganku dengan Haikal juga bisa kukatakan sedikit berubah. Se-di-kit. Hubungan kami masih sebatas teman tentunya. Hanya, kali ini benar-benar layaknya teman. Mengobrol juga bercanda ternyata aku bisa melakukan itu dengan Haikal. Jika sebelumnya aku hanya bisa menyimpan perasaanku dan menghindarinya, kali ini aku bisa lebih terbuka. Tapi sepertinya ada yang janggal menurutku. Aku sendiri tidak begitu yakin, tapi ini sedikit mengganggu.
Hari ini rasanya matahari benar-benar berada tepat di atas kepalaku, siang yang terik. Aku merogoh sebuah buku dari ransel dan mengibaskannya di wajahku. Panas sekali membuat kerongkonganku semakin kering. Mataku terpejam, tiba-tiba ada yang menarik hidungku membuat aku kembali membuka mata. Sudah kuduga, Bima tak akan memberikanku kehidupan yang tenang di kampus. Karena aku tidak satu kampus dengan Mikaila, bukan berarti semuanya menjadi aman. Bima ini ibarat Mikaila dalam tubuh laki-laki. Kami berteman dan aku merasa nyaman bercerita dengannya.
"Bima, please ini bulan puasa. Aku harus menghemat tenagaku. Jangan buat aku membuangnya percuma" aku memejamkan mataku kembali.
"Bagaimana hubunganmu dengan Haikal?" tanyanya.
"Bagaimana hubunganmu dengan Haikal?" tanyanya.
Aku menjawabnya dengan pertanyaan "Apa Anita masih menganggap kau mencintaiku?"
Aku tak bisa melihat ekspresinya karena aku masih memejamkan mataku. Kalaupun aku membuka mata, aku tetap tak bisa membaca ekspresi Bima saat aku menyinggung mantan yang paling dia cintai itu. Hampir setahun berteman dengannya tapi aku masih tak mengerti apa yang dia pikirkan sebenarnya. Dia seperti bunglon, mudah berubah. Detik ini ia mengakui perasaannya yang masih mencintai Anita, dan detik berikutnya sudah berubah. Sebenarnya aku tak menyukai Anita, karena dia menjadikanku kambing hitam atas perubahan sikap Bima padanya. Sepertinya dia benar-benar bodoh sampai tak menyadari bahwa kecurigaannya pada Bima yang membuat Bima berubah. Anita ini membuatku iri karena memiliki Bima yang sangat mencintainya.
"Kupikir, sebuah pertanyaan membutuhkan jawaban, bukan pertanyaan" sindirnya.
"Kupikir, sebuah pertanyaan membutuhkan jawaban, bukan pertanyaan" sindirnya.
"Entahlah. Kemarin dia mengirim pesan selamat berbuka puasa" jawabku tak acuh.
Ia diam, menunggu aku melanjutkan cerita sepertinya.
Aku membuka mataku, dan mengubah posisiku menjadi duduk
Aku membuka mataku, dan mengubah posisiku menjadi duduk
"Hal itu membuatku senang sekaligus khawatir"
Aku berdehem "Aku pikir dia mencintai Mikaila"
Aku berhenti, menatapnya dan menunggu tanggapannya. Tapi ia balik manatapku dalam diam, masih tak berkomentar sedikitpun.
Membuat aku melanjutkan ceritaku "Waktu itu~"
Aku kembali ke beberapa bulan sebelumnya. Saat tahun baru, siswa sekolah angkatanku mengadakan "kumpul kecil-kecilan" itu.
"You are bored, aren't you?" tebakku. Ia hanya tersenyum (lagi). Jangan lakukan itu, idiot! Aish.
"Waktu delapan bulan tidak cukup untuk merubah kebiasaan jam karet mereka. Butuh seumur hidup untuk merubahnya, for your information" Haikal terkekeh mendengarnya.
"Aku penasaran delapan bulan ini apa Mikaila bisa lebih manis?"
"Aku penasaran delapan bulan ini apa Mikaila bisa lebih manis?"
Apa ini? Pertanyaan Haikal membungkamku.
Bima memukul kepalaku, mengembalikanku di waktu bersamanya.
Bima memukul kepalaku, mengembalikanku di waktu bersamanya.
"Seperti katamu, Mikaila adalah wanita jalang. Tentunya dia tidak bisa diam bukan? Manis yang ia maksud pasti lebih calm. Like that"
Aku menyanggahnya dan menceritakan Line Haikal pada Mikaila. Haikal berkata ingin menjadikan Mikaila miliknya.
"Kamu ini benar-benar tidak memiliki selera humor" Bima menggelengkan kepalanya dan meninggalkanku.
Bocah tengik itu benar-benar membuatku kesal. Dia tak tau jika di sekolah Haikal memang dekat dengan Mikaila. Aku sebenarnya tidak masalah jika Haikal memang mencintai Mikaila. Tentu hatiku akan sakit, karena aku sepertinya menyerahkan hatiku sepenuhnya untuk dia. Dari sekian banyak orang baru yang kutemui, bahkan tidak ada yang berubah dari siapa alasan jantungku berdetak abnormal. Dari jarak antara aku dan Haikal yang semakin jauh tidak merubah bahwa masih hanya saat bertemu dengannya jantungku ini berdetak abnormal. Meskipun begitu aku akan rela melepasnya, karena dia memang bukan milikku, dan dia tak pernah memilihku. Jika akhirnya pun Haikal memilih Mikaila, aku tidak akan marah padanya. Sesakit apapun, aku akan mengatasinya sendiri. Yang aku takutkan bukan karena aku tidak bisa mengobati lukaku, tapi aku takut Haikal tidak mengatakan perasaannya pada Mikaila karena mencoba menghargaiku dan tak ingin membuat pertemanan kami berantakan.
***
***
September 2015
"Apa kamu meragukanku? Sejak kapan selera humormu begitu buruk?" Mikaila frustasi meyakinkanku.
"Cepat atau lambat aku akan kehilangan laki-laki yang kucintai. Apa aku juga akan kehilangan my human diary that I love? Mari lupakan ini" aku merangkulnya erat sekali. Ia membalas rangkulanku. Malam itu kami menghabiskan tiga box tisu.
***
"Hello, December!"
Wohoo~ ini benar-benar menakjubkan aku dapat menyapamu, Desember. Pagi yang indah juga penuh gairah di awal Desember bukan? Aku bahkan tak pernah menyangka dapat menyapamu dengan semangat terisi penuh seperti ini. Bulan Desember ini pertanda akhir dari tahun 2015. Bulan-bulan sebelumnya memberikanku kenangan manis juga pahit. Karena pahit, apa aku harus membuangnya? Ah, sepertinya aku tidak akan melakukan itu. Karena ini satu paket.
Sebulan yang lalu hubunganku dengan Bima tidak berjalan dengan baik karena tuduhan Anita padaku yang membuatku kesal. Akhirnya aku meminta Bima untuk menjauhiku. Bima benar-benar menjauhiku. Aku senang terbebas dari hal tidak masuk akal yang Anita tuduhkan padaku, tapi juga merasa menyesal karena tidak bisa mempertahankan teman sebaik Bima. Aku merindukannya. Bagaimanapun kabar Bima sekarang, aku berharap dia baik-baik saja dan semoga dia menepati janjinya bahwa dia akan lebih sukses dariku. Dimanapun kamu sekarang, aku berterimakasih karena kamu selalu menghiburku saat itu.
Sedangkan hubunganku dengan Mikaila tentu baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Tidak perduli jutaan kali kita saling memaki, pada akhirnya kita akan saling merangkul. Kita akan seperti ini sampai akhir.
Sebulan yang lalu aku mendapat kabar bahwa Haikal memiliki kekasih. Bukan, wanita itu bukan Mikaila melainkan teman satu fakultasnya. Kuakui dia memang cantik. Tapi apa kau pikir aku tidak cantik? Tentu aku cantik. Lebih cantik darinya ha..ha..haa. Dan aku menyadari bahwa aku harus mengakhirinya.
Selamat tinggal cinta tak berbalas.
With love, your expired admirer.