Semilir
angin membawa harum kopi menyerbak dan asap sebatang rokok yang dibakar hilang tak berbekas di
udara. Diterangi sinar bulan dua lelaki ini duduk berdampingan di taman
belakang rumah, ada sebuah meja bundar yang memisahkan mereka.
“Selesai urusan bisnis di Jogja kemarin, ayah
sempat mampir ke rumah tante Lisa” kepulan asap keluar dari mulut lelaki
paruh baya itu. Lawan bicaranya bergeming, tahu bahwa kalimat lelaki itu belum
selesai. Lelaki paruh baya kembali menghisap rokok sebelum melanjutkan
ucapannya, “Anak semata wayangnya tumbuh
dengan baik. Semakin cantik juga sopan. Dia sempat nanyain kabar kamu.
Kapan-kapan kita main kesana, ya!”
Jelas bukan
pertanyaan. Karena malas menanggapi, lawan bicara lelaki paruh baya itu berdiri
dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kolam ikan yang terletak di depan
mereka. Tumbuhan rambat merambat dari atas tembok sampai tepian kolam. Juga
merambat di sekeliling air terjun buatan di pinggir kolam. Lelaki itu
melemparkan remah-remah roti yang ia ambil dari meja bundar ke dalam kolam,
membuat air kolam yang tenang berkecipak akibat pergerakan ikan-ikan yang
saling berebut makanan.
“Kamu lagi suka sama perempuan lain?”
yang ditanya
hanya menggeleng. Masih asik dengan kegiatannya mengamati ikan-ikan yang saling
berebut makanan untuk bertahan hidup. Memang, memang berlebihan sekali.
“Memang enak terus-terusan sendiri? Keluar
dan cari perempuan, Kal”
“Aku enggak suka perempuan. Aku..”
“Kal..”
“Gay”
“Haikal!” Lelaki paruh baya itu
membentak anak semata wayangnya. Bahunya menegang, napasnya menderu. Sedang
lawan bicaranya masih santai melemparkan remah-remah roti ke dalam kolam. Ayah
Haikal memejamkan matanya, ia menghirup dan menghembuskan udara secara perlahan
berharap emosinya kembali stabil. Berkali-kali mengangkat topik ini dengan
anaknya selalu tidak berakhir baik. Ia pun memilih pergi meninggalkan anaknya.
“Sampai kapan kamu mau seperti ini, Kal? Berhentilah, Nak” ucap ayah Haikal sebelum ditelan pintu bercat coklat.
Sementara Haikal tetap bergeming di tempatnya.
***
“Oke, karena tema perlombaan pensi untuk kelas
dua tahun ini yaitu drama, jadi kita mau angkat cerita apa?” Fahmi selaku
ketua kelas membuka diskusi untuk menentukan cerita yang akan di tampilkan
dalam perlombaan pensi antar kelas yang diadakan setiap tahun oleh sekolahnya.
Tema tahun ini untuk kelas satu yaitu musik tradisional, sedang kelas tiga
adalah tari modern.
“Lokal atau internasional?” siswi
berkacamata bertanya.
“Lokal aja gimana? Selain acting, kita
juga harus menyiapkan kostum kan? Susah loh cari kostum buat drama
internasional gitu. Kalaupun ada pasti mahal. Opsi kedua pasti sewa, di kota
kita ini setau gue engga ada tempat penyewaan kostum gitu. Ada di luar kota
tapi sewa dihitung per-hari. Karena di luar kota otomatis kita engga bisa nyewa
satu hari, jauh bet broh. Intinya pasti ribet” Mikaila menjelaskan secara
rinci seperti biasa. Kecerdasan tidak pernah mengkhianatinya.
“Cemerlang seperti biasa. Jadi kita pilih
cerita lokal. Ada usul lagi?” Fahmi berdecak kagum pada Mikaila.
“Bawang merah bawang putih aja” celetuk Juan membuat seisi ruangan memutar
bola mata.
“Elo jadi bawang merah. Lebih gampang enggak
perlu acting”
“Selera elo, Ju”
“Standar banget”
“Kuno abis” anak-anak lain mencemooh
pilihan Juan tidak terkecuali sahabatnya juga Haikal. Bahkan Fahmi yang biasa
menjadi penengah di tengah keributan kini terkikik berusaha setengah mati
menahan tawa. Membuat Juan mencebik mulutnya.
“Dasar otak ciki, kebanyakan makan mecin lo.
Namanya juga cerita lokal, ya jelas kuno lah!” Juan bersungut tak terima dikucilkan.
“Elo kan udah SMA, Ju. Pilih yang romance
bisa kali. Rrrrr~”
Kini giliran
Juan yang memutar bola matanya. Karena jika bermain peran seperti ini jelas dia
tidak akan kebagian peran. Secara dia tidak berbakat dalam acting.
Menari.
Menyanyi.
Belajar.
Memasak.
Oke,
singkatnya Juan tidak berbakat dalam hal apapun. Terlalu panjang hingga memakan
banyak waktu jika harus menyebutkan bakat yang tidak Juan kuasai. Satu hal yang
sangat-sangat ia kuasai yaitu mengumpat.
“Oke, gue jadi team sukses property” ucap
Juan lirih membuat tawa teman-temannya membahana ke seisi kelas.
“Gimana kalau Jaka tarub? Lumayan banyak
loh perannya” lelaki yang duduk di pojok ruangan bersuara. Anak-anak seisi
kelas mengangguk setuju.
“Siapa aja yang mau jadi 7 bidadari?”
“Laila”
“Mila”
“Widya”
“Tania”
“Mikaila” seseorang menyarankan.
“Fani”
“Maura” Fahmi menulis nama-nama yang di sebutkan
ke papan tulis.
“JUAAAANNN” perempuan itu meneriaki
namanya sendiri. “Kenapa enggak ada yang
menyarankan gue, sih? Padahal kecantikan gue mengalahi bidadari”
“Karena acting lo akan menghancurkan kelas
kita!” jawab mereka kompak. Apa boleh buat Juan harus menelan pil pahit.
Tidak ada satu orangpun yang mengasihaninya.
“Ibu Jaka tarub siapa?”
“Gueeeee” lagi, perempuan itu mengangkat
tangannya, menyarankan dirinya sendiri. Mencoba kesempatan sekali lagi agar
mereka memberikan kesempatan pada Juan untuk menunjukkan bakat acting berantakan yang menurutnya bisa
diperbaiki.
“Ju, team sukses property membutuhkan orang
berkompeten seperti elo” Juan tahu diri, ia pura-pura menangis terharu
merasa sangat dibutuhkan dalam team
property.
“Ck, acting nangis aja gagal begitu” Haikal
bersuara yang mendapat pelototan tajam dari Juan.
“Emang lo bisa ?” tantang Juan
“Bisa”
“Buktiin dong”
“Oke”
“Ok, jadi peran Jaka tarub diambil Haikal,
ya” ucap Fahmi seketika mengambil kesempatan emas. Secara fisik Haikal
mendukung sekali untuk menjadi peran utama. Berguna untuk menarik perhatian
penonton. Karena selain penilaian dari juri, antusias penonton juga masuk dalam
penilaian. Tak masalah meski acting lelaki itu buruk, lagipula penonton akan tetap antusias menonton dramanya –koreksi,
Haikal.
Fahmi
mengetukkan penghapus ke papan tulis sebanyak tiga kali. Suara tepuk tangan
bergemuruh ke seisi kelas, membuat Haikal mendesah. Mau tak mau ia harus
menyetujui kesepakatan ini.