Kamis, 07 Juli 2016

Keyword (bagian 5 )

Semilir angin membawa harum kopi menyerbak dan asap sebatang  rokok yang dibakar hilang tak berbekas di udara. Diterangi sinar bulan dua lelaki ini duduk berdampingan di taman belakang rumah, ada sebuah meja bundar yang memisahkan mereka.

“Selesai urusan bisnis di Jogja kemarin, ayah sempat mampir ke rumah tante Lisa” kepulan asap keluar dari mulut lelaki paruh baya itu. Lawan bicaranya bergeming, tahu bahwa kalimat lelaki itu belum selesai. Lelaki paruh baya kembali menghisap rokok sebelum melanjutkan ucapannya, “Anak semata wayangnya tumbuh dengan baik. Semakin cantik juga sopan. Dia sempat nanyain kabar kamu. Kapan-kapan kita main kesana, ya!”

Jelas bukan pertanyaan. Karena malas menanggapi, lawan bicara lelaki paruh baya itu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kolam ikan yang terletak di depan mereka. Tumbuhan rambat merambat dari atas tembok sampai tepian kolam. Juga merambat di sekeliling air terjun buatan di pinggir kolam. Lelaki itu melemparkan remah-remah roti yang ia ambil dari meja bundar ke dalam kolam, membuat air kolam yang tenang berkecipak akibat pergerakan ikan-ikan yang saling berebut makanan.

“Kamu lagi suka sama perempuan lain?”
yang ditanya hanya menggeleng. Masih asik dengan kegiatannya mengamati ikan-ikan yang saling berebut makanan untuk bertahan hidup. Memang, memang berlebihan sekali.

“Memang enak terus-terusan sendiri? Keluar dan cari perempuan, Kal”

“Aku enggak suka perempuan. Aku..”

“Kal..”

“Gay”

“Haikal!” Lelaki paruh baya itu membentak anak semata wayangnya. Bahunya menegang, napasnya menderu. Sedang lawan bicaranya masih santai melemparkan remah-remah roti ke dalam kolam. Ayah Haikal memejamkan matanya, ia menghirup dan menghembuskan udara secara perlahan berharap emosinya kembali stabil. Berkali-kali mengangkat topik ini dengan anaknya selalu tidak berakhir baik. Ia pun memilih pergi meninggalkan anaknya.

“Sampai kapan kamu mau seperti ini, Kal? Berhentilah, Nak” ucap ayah Haikal sebelum ditelan pintu bercat coklat. Sementara Haikal tetap bergeming di tempatnya.

***

“Oke, karena tema perlombaan pensi untuk kelas dua tahun ini yaitu drama, jadi kita mau angkat cerita apa?” Fahmi selaku ketua kelas membuka diskusi untuk menentukan cerita yang akan di tampilkan dalam perlombaan pensi antar kelas yang diadakan setiap tahun oleh sekolahnya. Tema tahun ini untuk kelas satu yaitu musik tradisional, sedang kelas tiga adalah tari modern.

“Lokal atau internasional?” siswi berkacamata bertanya.

“Lokal aja gimana? Selain acting, kita juga harus menyiapkan kostum kan? Susah loh cari kostum buat drama internasional gitu. Kalaupun ada pasti mahal. Opsi kedua pasti sewa, di kota kita ini setau gue engga ada tempat penyewaan kostum gitu. Ada di luar kota tapi sewa dihitung per-hari. Karena di luar kota otomatis kita engga bisa nyewa satu hari, jauh bet broh. Intinya pasti ribet” Mikaila menjelaskan secara rinci seperti biasa. Kecerdasan tidak pernah mengkhianatinya.

“Cemerlang seperti biasa. Jadi kita pilih cerita lokal. Ada usul lagi?” Fahmi berdecak kagum pada Mikaila.

“Bawang merah bawang putih aja”  celetuk Juan membuat seisi ruangan memutar bola mata.

“Elo jadi bawang merah. Lebih gampang enggak perlu acting”

“Selera elo, Ju”

“Standar banget”

“Kuno abis” anak-anak lain mencemooh pilihan Juan tidak terkecuali sahabatnya juga Haikal. Bahkan Fahmi yang biasa menjadi penengah di tengah keributan kini terkikik berusaha setengah mati menahan tawa. Membuat Juan mencebik mulutnya.

“Dasar otak ciki, kebanyakan makan mecin lo. Namanya juga cerita lokal, ya jelas kuno lah!”  Juan bersungut tak terima dikucilkan.

“Elo kan udah SMA, Ju. Pilih yang romance bisa kali. Rrrrr~”

Kini giliran Juan yang memutar bola matanya. Karena jika bermain peran seperti ini jelas dia tidak akan kebagian peran. Secara dia tidak berbakat dalam acting.

Menari.

Menyanyi.

Belajar.

Memasak.

Oke, singkatnya Juan tidak berbakat dalam hal apapun. Terlalu panjang hingga memakan banyak waktu jika harus menyebutkan bakat yang tidak Juan kuasai. Satu hal yang sangat-sangat ia kuasai yaitu mengumpat.

“Oke, gue jadi team sukses property” ucap Juan lirih membuat tawa teman-temannya membahana ke seisi kelas.

“Gimana kalau Jaka tarub? Lumayan banyak loh perannya” lelaki yang duduk di pojok ruangan bersuara. Anak-anak seisi kelas mengangguk setuju.

“Siapa aja yang mau jadi 7 bidadari?”

“Laila”

“Mila”

“Widya”

“Tania”

“Mikaila” seseorang menyarankan.

“Fani”

“Maura”  Fahmi menulis nama-nama yang di sebutkan ke papan tulis.

“JUAAAANNN” perempuan itu meneriaki namanya sendiri. “Kenapa enggak ada yang menyarankan gue, sih? Padahal kecantikan gue mengalahi bidadari”

“Karena acting lo akan menghancurkan kelas kita!” jawab mereka kompak. Apa boleh buat Juan harus menelan pil pahit. Tidak ada satu orangpun yang mengasihaninya.

“Ibu Jaka tarub siapa?”

“Gueeeee” lagi, perempuan itu mengangkat tangannya, menyarankan dirinya sendiri. Mencoba kesempatan sekali lagi agar mereka memberikan kesempatan pada Juan untuk menunjukkan bakat acting berantakan yang menurutnya bisa diperbaiki.

“Ju, team sukses property membutuhkan orang berkompeten seperti elo” Juan tahu diri, ia pura-pura menangis terharu merasa sangat dibutuhkan dalam team property.

“Ck, acting nangis aja gagal begitu” Haikal bersuara yang mendapat pelototan tajam dari Juan.

“Emang lo bisa ?” tantang Juan

“Bisa”

“Buktiin dong”

“Oke”

“Ok, jadi peran Jaka tarub diambil Haikal, ya” ucap Fahmi seketika mengambil kesempatan emas. Secara fisik Haikal mendukung sekali untuk menjadi peran utama. Berguna untuk menarik perhatian penonton. Karena selain penilaian dari juri, antusias penonton juga masuk dalam penilaian. Tak masalah meski acting lelaki itu buruk, lagipula penonton akan tetap antusias menonton dramanya –koreksi, Haikal.


Fahmi mengetukkan penghapus ke papan tulis sebanyak tiga kali. Suara tepuk tangan bergemuruh ke seisi kelas, membuat Haikal mendesah. Mau tak mau ia harus menyetujui kesepakatan ini.

Translate