Jumat, 17 Juni 2016

Keyword (bagian 4 )

“Key, Haikal itu orangnya gimana?”

Sepulang dari sekolah Mikaila mengunjungi rumah Juan, dan keheranan mendengar pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan wanita paruh baya itu. Ia kembali meletakkan es jeruk yang akan ditenggaknya ke meja, kemudian melipat kedua  kakinya di atas sofa memposisikan tubuhnya menghadap wanita paruh baya yang duduk santai di sebelahnya sedang menonton sebuah drama korea bersamanya dengan semangkuk kacang di tangan.

“Muhammad Haikal?” 

Wanita paruh baya itu mengangguk agak ragu. Seingatnya memang nama itu yang ia baca di tag nama seragam laki-laki tersebut.

“Yang kulitnya sawo matang?” 
Yang ditanya me-respond dengan sebuah anggukan.

“Badannya bagus?”
Anggukan lagi.

“Yang...”

“Iya, yang senyumnya manis. Wajahnya oval. Rambutnya hitam legam yang panjangnya hampir setelinga. Punya lesung pipi. Iya, Muhammad Haikal itu yang tante maksud, Key”  wanita paruh baya itu memotong kalimat Mikaila. Sebagai gantinya ia yang menjelaskan detail dari Haikal yang membuat Mikaila cengengesan.

“Tante kenal Haikal darimana?” gadis itu mencomot segenggam kacang dari mangkuk yang dipangku oleh lawan bicaranya dan memasukkannya kedalam mulut.

“Tadi pagi dia jemput Juan kesini. Mereka lagi deket, ya? Juan jadi udah move on nih, Key?”

“Widih udah sedekat itu ya mereka? Asem bener Juan engga cerita”

“Lah, jadi kamu enggak tau toh, Key? Ih payah”  tahu Mikaila tidak mengetahui kabar panas tersebut wanita paruh baya itu menyombongkan diri . Berhasil membuat Mikaila mencibir. Juan berhutang penjelasan padanya pikir Mikaila.

“Udah hampir malam tapi Juan belum pulang juga. Mereka kerja kelompoknya enggak yang macem-macem kan, Key? Beneran kerja kelompok, kan?” tanya wanita paruh baya itu mulai khawatir.

Mikaila menangkap kekhawatiran itu. Saatnya balas dendam, teriak batin Mikaila. 
“Oh, tante kurang informasi ya soal Haikal?”

Wanita paruh baya itu mendengus, ia menangkap kalimat pembalasan dendam Mikaila.

“Tante kalem aja. Juan pasti aman kok kalau sama Haikal”

“Wah anaknya pasti bertanggung jawab ya, Key?”

Mikaila menggeleng, menyembunyikan senyum jahil.
“Dia gay”   

Bibir wanita paruh baya itu menganga. Matanya membulat. Sebentar lagi bola matanya akan jatuh ke lantai. Ia lemas, menjatuhkan tubuhnya ke punggung sofa. Setengah tak percaya melihat Haikal yang memiliki fisik ‘laki-laki sekali’ ternyata tidak tertarik pada lawan jenis. Baru saja wanita itu menaruh banyak harapan pada Haikal untuk membahagiakan anaknya. Dasar Mikaila si pemberi harapan palsu. Harusnya sedari awal dia memberikan informasi penting itu agar wanita paruh baya ini tidak keburu berharap dan kecewa seperti ini.

Mikaila terbahak, membuat wanita paruh baya tersebut memicingkan matanya.
“Kamu serius?”

Mikaila menjawab dengan menggelengkan kepalanya, ia masih tertawa hingga keluar air mata. Wanita paruh baya itu kembali bersemangat. Ia menegakkan tubuhnya. Juga kembali berharap tentunya. Tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, deretan rencana untuk mendekatkan Juan dengan Haikal tertanam di kepalanya.

“Aku tebak, tante punya rencana buat mendekatkan Haikal dengan Juan, kan?”

Wanita paruh baya itu mencibir “Bukan urusanmu”

Membuat Mikaila berdecak, “Tante, tau engga sih maksud gelengan aku tadi? Selama ini Haikal belum pernah deket sama cewek. Jadi maksudnya, aku tuh enggak tau dia beneran gay atau bukan”
Mikaila tertawa sampai memegangi perutnya mendapat pukulan bantal sofa bertubi-tubi dari wanita paruh baya yang sangat kesal mengetahui dirinya dipermainkan oleh Mikaila.

Sebuah deheman menghentikan tangan wanita paruh baya itu dari kegiatannya menyiksa Mikaila.


***

Juan tersenyum sumringah memasuki rumah dengan sebuah lollipop di tangan kanannya. Suara cekikikan dua orang wanita yang berasal dari ruang keluarga terdengar sampai ruang tamu. Juan menapaki kakinya hingga tiba di sumber suara. Hatinya mencelos mendapati keakraban Mikaila dengan ibunya. Cemburu. Perasaan yang mati-matian diabaikan Juan. Ia berdehem, membuat tangan wanita paruh baya itu berhenti dari kegiatannya menyiksa Mikaila. Gadis itu bersitatap dengan ibunya, raut wajah datar sedingin es yang terus Juan pertahankan dari dulu hingga sekarang dan entah kapan akan berubah.
Wanita paruh baya menelan ludahnya, ia memperbaiki ekspresi keterkejutannya dengan seulas senyum tulus –yang selalu terasa damai, menentramkan.
“Baru pulang, Ju?”

“Key, ke kamar gue aja, yuk”  Juan melenggang pergi, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Gadis itu mengabaikan ibunya. Mikaila tersenyum canggung. Ia mengusap tangan wanita paruh baya itu dengan ibu jarinya, berusaha menenangkan.

“Nanti aku cari info soal Haikal dan membagi kabar panas itu sama tante, oke?” Mikaila membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjukknya , tak lupa dengan satu kedipan mata. Wanita paruh baya itu menampilkan seulas senyum dan menganggukan kepalanya. Mikaila ikut tersenyum dan melenggang pergi menuju kamar Juan.


Juan sedang berbaring dikasurnya dengan sebuah lollipop ditangan kanan teracung ke atas saat Mikaila merampas objek yang ia amati. Salah satu dari dua gadis bar-bar itu bersiap membuka bungkus lollipop dan di gagalkan gadis bar-bar lainnya.

“Sedikit pemanis buatan dalam tumpukan rasa pahit”

Dahi Mikaila berkenyit mendengar kalimat yang Juan lontarkan. Tak mengerti kalimat asal yang tiba-tiba keluar dari mulut penuh sarkasme yang Juan miliki.

“Ah udah jangan berpikir. Jangan membuat otak kecil lo itu bekerja terlalu keras”  Juan menggibaskan tangannya di udara. Gigi Mikaila bergemeletuk, ia menerjang Juan dengan kepalanya hingga jatuh di atas kasur. Juan yang merasakan perutnya ditumbuk benda sekeras batu berteriak kesakitan, tak mau kalah ia menangkap kedua telinga Mikaila dengan tangan dan menariknya ke samping.

***

Setelah puas dengan kegiatan bar-bar yang dilakukan oleh dua wanita bar-bar, di sinilah mereka berakhir. Terbaring berdampingan di atas kasur dengan kepala menggantung ke bawah. Beberapa saat terdiam, Mikaila membuka percakapan,
“Gue tau lollipop itu dari Haikal”

“Cie.. alih profesi jadi cenayang”

“Yup” Mikaila mengangsurkan telapak tangannya yang terbuka ke atas menagih sesuatu. Juan hanya menaikkan kedua alisnya tak mengerti.

“Bayaran untuk konsultasi dengan cenayang”

“Baru juga sedetik, Mbah”

“Salah. Itu udah 6 seconds, for your information”

“Peritungan bet zehhh”

“Karena time is money, bitch!”

Juan memutar bola matanya, jengah. Sekali. Sangat jengah sekali. Ia menatap lollipop yang tergeletak di nakas.

“Menurut lo Haikal beneran gay? Gue serius”

Mikaila mengendikkan bahunya, ia memang tak tahu kebenarannya. Jika dilihat dari fisik dan tingkah laku memang Haikal jelas tidak tertarik dengan sesama jenis. Tapi juga tidak ada yang tahu bukan jika Haikal menutupi ketertarikan pada sesama jenis dengan fisik dan tingkah lakunya. Lagipula, selama ini Haikal tidak pernah menunjukkan ketertarikan dengan lawan jenis.

“Meskipun dia gay, bukan urusan lo. Kecuali elo menaruh hati padanya”

Gadis itu bergeming, tidak langsung menjawab. Alih-alih menjawab, ia menutup kedua kelopak matanya. Mikaila meliriknya, menunggu jawaban.

“Bukan. Ini urusan gue”

“Jadi, elo beneran jatuh cinta sama Haikal? Gila, ide-ide nyokap lo buat mendekatkan elo sama Haikal hangus terbakar jadi abu dong”  Mikaila cekikikan membayangkan wanita paruh baya itu yang sudah pasti kecewa karena rencana yang tertanam di otaknya menjadi sia-sia.

“Bukan gitu. Gue enggak jatuh cinta sama Haikal. Gue yakin se-yakin-yakinnya. Ini urusan gue, karena gue temen dia. Dan sebagai teman yang baik, gue engga bisa dong membiarkan dia tertarik sama laki-laki padahal masih banyak cewe bohay yang udah pasti mau sama dia. Engga akan nolak meskipun pake bayar. Lo deket ya sama nyokap gue, by the way” Juan mengubah posisinya duduk bersandar di kepala ranjang sebelum menjelaskan kekeliruan pada Mikaila.

“Sejak kapan lo berteman sama dia? Dan gue memang deket sama nyokap lo dari dulu, kan. Kenapa deh lo. Tiba-tiba bilang gitu”

Benar juga, sejak pertama kali mengunjungi rumah Juan, Mikaila memang bisa langsung berbaur dengan ibu Juan. Jelas terlihat ibunya juga nyaman berada di dekat Mikaila, mereka berdua terlihat seperti ibu dan anak sungguhan. Seringkali mereka juga terlihat seperti adik kakak karena tingkah laku keduanya yang seperti anak kecil.

“Cenayang yang ilmunya mulai luntur” Juan berdecak pura-pura kecewa. Membangkitkan bakat acting terpendam yang dimiliki Mikaila.

“Bukan seperti itu shay, aku ya cuma bosan aja nerawang dan selalu benar gitu” Mikaila mendudukkan dirinya di atas kasur, bersila. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit seperti membaca beberapa mantra, tangannya ia rentangkan ke samping kemudian ia gerakkan dengan cepat ke atas kepalanya, ia tangkupkan kedua telapak tangannya hingga telapak kanan dan kiri bertemu dan ia gerakkan turun secara perlahan-lahan dengan mulut yang masih komat-kamit.

Tiba-tiba ia membuka kedua kelopak matanya, dan berujar “Kamu dan lelaki itu, kalian berdua, akan jatuh cinta”

BBUUKK..

“Klasik” Juan melemparkan bantal ke wajah Mikaila dan pergi untuk mandi. Menyegarkan badannya yang sudah terasa lengket.





Translate