“Key, Haikal itu orangnya gimana?”
Sepulang
dari sekolah Mikaila mengunjungi rumah Juan, dan keheranan mendengar pertanyaan
tiba-tiba yang dilontarkan wanita paruh baya itu. Ia kembali meletakkan es
jeruk yang akan ditenggaknya ke meja, kemudian melipat kedua kakinya di atas sofa memposisikan tubuhnya
menghadap wanita paruh baya yang duduk santai di sebelahnya sedang menonton
sebuah drama korea bersamanya dengan semangkuk kacang di tangan.
“Muhammad Haikal?”
Wanita paruh baya
itu mengangguk agak ragu. Seingatnya memang nama itu yang ia baca di tag nama
seragam laki-laki tersebut.
“Yang kulitnya sawo matang?”
Yang
ditanya me-respond dengan sebuah
anggukan.
“Badannya bagus?”
Anggukan lagi.
“Yang...”
“Iya, yang senyumnya manis. Wajahnya oval.
Rambutnya hitam legam yang panjangnya hampir setelinga. Punya lesung pipi.
Iya, Muhammad Haikal itu yang tante maksud, Key” wanita paruh baya itu memotong kalimat
Mikaila. Sebagai gantinya ia yang menjelaskan detail dari Haikal yang membuat
Mikaila cengengesan.
“Tante kenal Haikal darimana?” gadis
itu mencomot segenggam kacang dari mangkuk yang dipangku oleh lawan bicaranya dan
memasukkannya kedalam mulut.
“Tadi pagi dia jemput Juan kesini. Mereka
lagi deket, ya? Juan jadi udah move on nih, Key?”
“Widih udah sedekat itu ya mereka? Asem bener Juan engga cerita”
“Lah, jadi kamu enggak tau toh, Key? Ih payah” tahu Mikaila tidak
mengetahui kabar panas tersebut wanita paruh baya itu menyombongkan diri .
Berhasil membuat Mikaila mencibir. Juan berhutang penjelasan padanya pikir
Mikaila.
“Udah hampir malam tapi Juan belum pulang
juga. Mereka kerja kelompoknya enggak yang macem-macem kan, Key? Beneran
kerja kelompok, kan?” tanya wanita paruh baya itu mulai khawatir.
Mikaila
menangkap kekhawatiran itu. Saatnya balas dendam, teriak batin Mikaila.
“Oh, tante kurang informasi ya soal Haikal?”
Wanita paruh
baya itu mendengus, ia menangkap kalimat pembalasan dendam Mikaila.
“Tante kalem aja. Juan pasti aman kok kalau
sama Haikal”
“Wah anaknya pasti bertanggung jawab ya, Key?”
Mikaila
menggeleng, menyembunyikan senyum jahil.
“Dia gay”
Bibir wanita
paruh baya itu menganga. Matanya membulat. Sebentar lagi bola matanya akan
jatuh ke lantai. Ia lemas, menjatuhkan tubuhnya ke punggung sofa. Setengah tak
percaya melihat Haikal yang memiliki fisik ‘laki-laki sekali’ ternyata tidak
tertarik pada lawan jenis. Baru saja wanita itu menaruh banyak harapan pada
Haikal untuk membahagiakan anaknya. Dasar Mikaila si pemberi harapan palsu. Harusnya
sedari awal dia memberikan informasi penting itu agar wanita paruh baya ini
tidak keburu berharap dan kecewa seperti ini.
Mikaila terbahak,
membuat wanita paruh baya tersebut memicingkan matanya.
“Kamu serius?”
Mikaila
menjawab dengan menggelengkan kepalanya, ia masih tertawa hingga keluar air
mata. Wanita paruh baya itu kembali bersemangat. Ia menegakkan tubuhnya. Juga
kembali berharap tentunya. Tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya,
deretan rencana untuk mendekatkan Juan dengan Haikal tertanam di kepalanya.
“Aku tebak, tante punya rencana buat
mendekatkan Haikal dengan Juan, kan?”
Wanita paruh
baya itu mencibir “Bukan urusanmu”
Membuat
Mikaila berdecak, “Tante, tau engga sih
maksud gelengan aku tadi? Selama ini Haikal belum pernah deket sama cewek.
Jadi maksudnya, aku tuh enggak tau dia beneran gay atau bukan”
Mikaila
tertawa sampai memegangi perutnya mendapat pukulan bantal sofa bertubi-tubi
dari wanita paruh baya yang sangat kesal mengetahui dirinya dipermainkan oleh
Mikaila.
Sebuah
deheman menghentikan tangan wanita paruh baya itu dari kegiatannya menyiksa
Mikaila.
***
Juan
tersenyum sumringah memasuki rumah dengan sebuah lollipop di tangan kanannya.
Suara cekikikan dua orang wanita yang berasal dari ruang keluarga terdengar
sampai ruang tamu. Juan menapaki kakinya hingga tiba di sumber suara. Hatinya
mencelos mendapati keakraban Mikaila dengan ibunya. Cemburu. Perasaan yang
mati-matian diabaikan Juan. Ia berdehem, membuat tangan wanita paruh baya itu
berhenti dari kegiatannya menyiksa Mikaila. Gadis itu bersitatap dengan ibunya,
raut wajah datar sedingin es yang terus Juan pertahankan dari dulu hingga
sekarang dan entah kapan akan berubah.
Wanita paruh
baya menelan ludahnya, ia memperbaiki ekspresi keterkejutannya dengan seulas
senyum tulus –yang selalu terasa damai, menentramkan.
“Baru pulang, Ju?”
“Key, ke kamar gue aja, yuk” Juan melenggang pergi, menaiki anak tangga
menuju kamarnya. Gadis itu mengabaikan ibunya. Mikaila tersenyum canggung. Ia
mengusap tangan wanita paruh baya itu dengan ibu jarinya, berusaha menenangkan.
“Nanti aku cari info soal Haikal dan membagi
kabar panas itu sama tante, oke?” Mikaila membuat lingkaran dengan ibu
jari dan telunjukknya , tak lupa dengan satu kedipan mata. Wanita paruh baya
itu menampilkan seulas senyum dan menganggukan kepalanya. Mikaila ikut
tersenyum dan melenggang pergi menuju kamar Juan.
Juan sedang
berbaring dikasurnya dengan sebuah lollipop ditangan kanan teracung ke atas saat
Mikaila merampas objek yang ia amati. Salah satu dari dua gadis bar-bar itu
bersiap membuka bungkus lollipop dan di gagalkan gadis bar-bar lainnya.
“Sedikit pemanis buatan dalam tumpukan rasa
pahit”
Dahi Mikaila
berkenyit mendengar kalimat yang Juan lontarkan. Tak mengerti kalimat asal yang
tiba-tiba keluar dari mulut penuh sarkasme yang Juan miliki.
“Ah udah jangan berpikir. Jangan membuat
otak kecil lo itu bekerja terlalu keras” Juan menggibaskan tangannya di udara. Gigi
Mikaila bergemeletuk, ia menerjang Juan dengan kepalanya hingga jatuh di atas
kasur. Juan yang merasakan perutnya ditumbuk benda sekeras batu berteriak kesakitan, tak mau kalah ia menangkap kedua telinga Mikaila dengan tangan dan
menariknya ke samping.
***
Setelah puas
dengan kegiatan bar-bar yang dilakukan oleh dua wanita bar-bar, di sinilah
mereka berakhir. Terbaring berdampingan di atas kasur dengan kepala menggantung
ke bawah. Beberapa saat terdiam, Mikaila membuka percakapan,
“Gue tau lollipop itu dari Haikal”
“Cie.. alih profesi jadi cenayang”
“Yup” Mikaila mengangsurkan telapak
tangannya yang terbuka ke atas menagih sesuatu. Juan hanya menaikkan kedua
alisnya tak mengerti.
“Bayaran untuk konsultasi dengan cenayang”
“Baru juga sedetik, Mbah”
“Salah. Itu udah 6 seconds, for your
information”
“Peritungan bet zehhh”
“Karena time is money, bitch!”
Juan memutar
bola matanya, jengah. Sekali. Sangat jengah sekali. Ia menatap lollipop yang
tergeletak di nakas.
“Menurut lo Haikal beneran gay? Gue
serius”
Mikaila mengendikkan
bahunya, ia memang tak tahu kebenarannya. Jika dilihat dari fisik dan tingkah
laku memang Haikal jelas tidak tertarik dengan sesama jenis. Tapi juga tidak
ada yang tahu bukan jika Haikal menutupi ketertarikan pada sesama jenis dengan
fisik dan tingkah lakunya. Lagipula, selama ini Haikal tidak pernah menunjukkan
ketertarikan dengan lawan jenis.
“Meskipun dia gay, bukan urusan lo. Kecuali
elo menaruh hati padanya”
Gadis itu
bergeming, tidak langsung menjawab. Alih-alih menjawab, ia menutup kedua kelopak
matanya. Mikaila meliriknya, menunggu jawaban.
“Bukan. Ini urusan gue”
“Jadi, elo beneran jatuh cinta sama Haikal? Gila, ide-ide nyokap lo buat mendekatkan elo sama Haikal hangus terbakar jadi
abu dong” Mikaila cekikikan
membayangkan wanita paruh baya itu yang sudah pasti kecewa karena rencana yang
tertanam di otaknya menjadi sia-sia.
“Bukan gitu. Gue enggak jatuh cinta sama
Haikal. Gue yakin se-yakin-yakinnya. Ini urusan gue, karena gue temen dia. Dan
sebagai teman yang baik, gue engga bisa dong membiarkan dia tertarik sama
laki-laki padahal masih banyak cewe bohay yang udah pasti mau sama dia. Engga akan
nolak meskipun pake bayar. Lo deket ya sama nyokap gue, by the way” Juan
mengubah posisinya duduk bersandar di kepala ranjang sebelum menjelaskan
kekeliruan pada Mikaila.
“Sejak kapan lo berteman sama dia? Dan gue
memang deket sama nyokap lo dari dulu, kan. Kenapa deh lo. Tiba-tiba bilang
gitu”
Benar juga,
sejak pertama kali mengunjungi rumah Juan, Mikaila memang bisa langsung berbaur
dengan ibu Juan. Jelas terlihat ibunya juga nyaman berada di dekat Mikaila,
mereka berdua terlihat seperti ibu dan anak sungguhan. Seringkali mereka juga
terlihat seperti adik kakak karena tingkah laku keduanya yang seperti anak
kecil.
“Cenayang yang ilmunya mulai luntur” Juan
berdecak pura-pura kecewa. Membangkitkan bakat acting terpendam yang dimiliki Mikaila.
“Bukan seperti itu shay, aku ya cuma bosan
aja nerawang dan selalu benar gitu” Mikaila mendudukkan dirinya di atas
kasur, bersila. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit seperti membaca beberapa
mantra, tangannya ia rentangkan ke samping kemudian ia gerakkan dengan cepat ke
atas kepalanya, ia tangkupkan kedua telapak tangannya hingga telapak kanan dan
kiri bertemu dan ia gerakkan turun secara perlahan-lahan dengan mulut yang
masih komat-kamit.
Tiba-tiba ia
membuka kedua kelopak matanya, dan berujar “Kamu
dan lelaki itu, kalian berdua, akan jatuh cinta”
BBUUKK..
“Klasik” Juan melemparkan bantal ke
wajah Mikaila dan pergi untuk mandi. Menyegarkan badannya yang sudah terasa
lengket.