Senin, 14 Maret 2016

Keyword (bagian 3 )

Seseorang merentangkan kedua tangannya. Menghirup udara bersih pagi ini dengan rakusnya seperti baru saja terbebas dari ratusan tahun terjebak dalam penjara bawah tanah. Ia membuka kedua matanya yang semula terpejam. Kilatan semangat dari matanya berubah sendu saat mendapati tatapan permusuhan seorang wanita dari balik jendela sebuah kamar.
Ia memasuki rumahnya menuju dapur, pandangannya kembali bertumbukkan dengan si pemilik tatapan permusuhan.

“Kamu baru mau mandi ya? Kamu mau dibuatin sarapan apa, Ju?”  Ia mencoba berkomunikasi dengan pemilik tatapan permusuhan meskipun ia tahu dengan pasti respond  yang akan dia dapat.  Hingga tubuh itu ditelan pintu kamar mandi tetap tidak ada jawaban untuk pertanyaannya. Gadis itu mengabaikannya. Lagi. Juan menolak keberadaannya. Lagi. Ia tersenyum, menelan bulat-bulat rasa pahitnya. Sesuatu di masa lalu itu akan terus bersamanya sampai mereka menemukan kata kunci untuk membuatnya pergi. Ia mengalihkan rasa nyeri di ulu hatinya dengan memasak.

***

Sebuah ketukan memecah kesunyian di meja makan mereka. Juan sedikitpun tidak beranjak dari kegiatannya, fokus menghabiskan sarapan secepat yang ia bisa. Wanita di depan Juan beranjak dari tempatnya duduk  untuk melihat siapa tamu yang datang sepagi itu.

“Bagus, tamu itu menyelamatkan suasana yang enggak nyaman. Siapa malaikat yang datang se-pagi ini?“ Juan menenggak habis segelas susunya dan beranjak dari meja makan sialan itu setengah berlari. Ia ingin cepat pergi dari rumah sialan itu dan berterima kasih pada malaikat yang baik hati tersebut.

“Nah, itu anaknya. Ini Haikal udah nunggu katanya mau bareng kamu, Ju“
Juan membeku, ia seketika menghentikan pergerakan kakinya. Tolong edit kata malaikat dari kalimat Juan barusan. Ia menghampiri Haikal dan ibunya dengan wajah tanpa ekspresi. Jenis pagi macam apa ini?

“Kita pergi dulu, Tan”  Haikal berpamitan dan dibalas dengan anggukan –plus senyuman (selalu)- oleh  ibu Juan. Tampak jelas kekesalan yang tidak bisa disembunyikan Juan tapi ia tetap mengekori Haikal menuju motor lelaki itu dan mereka perlahan menjauh dari pekarangan rumahnya.

Tidak ada percakapan di sepanjang perjalanan hingga tiba di parkiran sekolah yang masih sepi. Juan menyerahkan helmnya –koreksi helm milik Haikal- pada Haikal.
“Lo kenal nyokap gue?” Kening Haikal berkerut untuk beberapa detik kemudian ia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Juan.

“Darimana?”

“Dari tadi”

“Serius annjj… hmmp.. hmmp” Tahu apa yang akan dikatakan gadis itu, Haikal membekap mulut Juan dengan tangannya. Lagi-lagi sasaran empuk untuk Juan yang omnivora. Gadis itu menggigit telapak tangan Haikal membuat lelaki itu menarik cepat tangannya.

“Dasar karnivora” Haikal berdecak sambil mengusap lembut bagian yang digigit Juan.

“Sok tau. Gue omnivora!”  Juan menepuk sekali dadanya terlalu bangga akan kemampuannya memakan segala jenis makanan membuat Haikal menaikkan sebelah alisnya dan menggeleng tak percaya. Juan terbahak –yang ia sendiri tak tahu sebabnya- dan melenggang pergi menuju kelas dengan Haikal mengekorinya.

“Kal, elo mulai tertarik ya sama gue?”

“Gue gay”

Juan berhenti mendadak membuat Haikal yang tepat berada di belakang gadis itu menubruk tubuh Juan “Elo kalau mau berhenti itu minggir jangan menghalangi jalan orang gitu dong”.
Juan tersenyum lega mengetahui kebenaran bahwa itu hanya kekhawatirannya yang berlebihan.

“Kenapa?” Haikal bertanya tepat di depan wajah Juan.

“Gue seneng lo bener-bener gay. Jadi gue engga harus khawatir kalau elo jatuh cinta sama gue” Gadis itu cengengesan dan menepuk wajah Haikal dengan santainya. Keras sekali hingga lelaki itu menekan wajah dengan tangannya berharap nyerinya hilang.

“Lo ini kasar banget sih. Bertolak belakang banget sama nyokap lo. Jangan-jangan lo ini bukan anak kandungnya”

Tatapan Juan menggelap, bibirnya membentuk garis tipis “Elo tahu apa soal nyokap gue?”
Juan setengah berlari meninggalkan Haikal. Wajah gadis itu merah padam, Haikal tidak pernah melihat Juan semarah itu.

***

“Siaga 10” Mikaila menyenggol lengan Juan dengan sikunya. “Haikal siap nerkam elo“ lanjutnya setengah berbisik. Juan tidak bereaksi meski ditatap Haikal secara terang-terangan. Gadis itu tetap menekuk wajahnya sedari pagi tadi. Juga bergeming di tempatnya duduk meski  bel pulang membahana ke seisi gedung.

“Tugas kelompok. Taman belakang. Sekarang juga” Lelaki itu berhenti sebentar di tempat Juan dan kembali melenggang pergi. Mikaila mengerutkan keningnya mendengar tiga kalimat tidak normal yang dilontarkan Haikal. Juga melirik sahabatnya yang merapikan barang-barang dan segera mengekori Haikal tanpa mengucap sepatah katapun padanya. Mikaila mendesah sekaligus memutar bola matanya.
Mereka berdua sekarang duduk di salah satu bangku taman tanpa ada percakapan diantara keduanya. Sibuk dengan kegiatan masing-masing. Juan menyalakan notebook-nya dan Haikal sibuk mencari sesuatu di salah satu kantung tasnya. Ketemu. Lelaki itu akhirnya menyerahkan sebuah benda ramping berwarna putih tulang. Juan menerima flashdisk dan memasangkan di notebook-nya. Tangan gadis itu cekatan membuka sebuah –satu-satunya folder- yang ada di dalam flashdisk, terdapat satu dokumen tugas mereka dan sebuah foto… keluarga? Gadis itu menoleh pada Haikal yang memberinya sebuah anggukan. Rasa penasaran juga persetujuan dari pemiliknya membuat Juan akhirnya men-double klik  dan muncul foto yang lebih besar tampilannya. Sebuah sofa untuk dua orang berada di tengah ruangan, Haikal mengenakan tuxedo hitam kemeja putih tanpa dasi berdiri di belakang sofa dengan ekspresi tak terbaca, tidak ada seulas senyum yang membingkai wajah tampannya. Berbanding terbalik dengan dua orang di depannya yang duduk di sofa marun itu. Seorang lelaki paruh baya mengenakan pakaian yang sama dengan Haikal ditambah dasi biru tua bermotif garis-garis putih. Dan seorang wanita bergaun putih dengan kuku yang di cat biru tua tersenyum manis sekali. Senyum dan wajah yang sangat tidak asing bagi Juan.

“Ini, bokap gue” Haikal menunjuk foto lelaki yang duduk di sofa,  jarinya kini bergeser ke wanita di sebelahnya membuat Juan menahan napas sebelum Haikal melanjutkan perkenalan keluarga lelaki itu. “Dan ini, Bu Andini, adik nyokap gue”  Haikal menarik napas dalam, menghirup oksigen dengan rakus “Juga.. nyokap tiri gue”

Hening. Tidak ada yang keluar dari pita suara mereka. Sementara jari Juan yang gemetaran dibungkus oleh telapak tangan yang lebih besar –milik Haikal. Wajah Juan memanas.

“Kapanpun elo berniat membuka diri, gue orang yang siap menyimpannya” Haikal mengulang ucapan Juan tempo hari. Lelaki itu kembali membuka suaranya, membawa Juan ke sesuatu di masa lalu yang tidak pernah dibagi pada siapapun.

“Lo pernah bilang kalau elo dan nyokap gue punya masalah yang sama, itu benar. Kejadian pahit yang kalian alami saat hujan turun di masa lalu masih terus mengalir sampai sekarang, bukan? Selama ini gue selalu benci tiap kali hujan, nyokap gue jadi melankolis. Kinerja otaknya menurun waktu hujan. Gue selalu bilang ngerti apa yang nyokap gue rasain tapi nyokap gue enggak bisa terus seperti itu. Sampai gue disadarkan oleh elo. Gue enggak akan pernah ngerti gimana rasanya cinta setulus hati yang dikhianati, sekeras apapun gue coba mengerti. Gue enggak akan benar-benar  ngerti gimana rasanya dikhianati sama adik kandung” Haikal melepas genggamannya pada Juan. Ia menggesekkan kedua kulit telapak tangannya dengan kulit wajah. Sementara Juan menggenggam tangannya sendiri yang kosong akibat ditinggal tangan Haikal. Wanita itu masih gemetaran yang sekarang merambat ke sekujur tubuhnya.

“Gue engga akan benar-benar ngerti apa yang nyokap gue rasain. Sama seperti nyokap gue yang engga akan benar-benar ngerti apa yang dirasain anak umur 5 tahun ngeliat perselingkuhan ayahnya dengan mata kepalanya sendiri” Haikal tersenyum miris.

Lelaki itu merogoh tasnya mengeluarkan sebungkus lollipop yang ia sodorkan pada Juan 

“Sedikit pemanis buatan dalam tumpukan rasa pahit. Maaf soal pagi tadi”

Juan menatap lollipop yang disodorkan Haikal, tidak buru-buru mengambilnya, tubuh wanita itu masih gemetaran dibawa ke masa lalu. Tangannya bergerak memeluk dirinya sendiri berharap dia akan berhenti gemetaran. Ia mengalihkan iris matanya menatap Haikal yang menyunggingkan seulas senyum, seketika itu rasa takut Juan menghilang. Akhirnya wanita itu menerima lollipop yang disodorkan Haikal.

“Pulang? atau masih mau di sini?” tawar Haikal pada Juan.

“Masih mau di sini”

Haikal tersenyum menggoda membuat kening Juan berkerut tak mengerti dan memasang ekspresi, apa?

“Elo masih betah berduaan sama gay. Gue tebak sebentar lagi elo bakal jatuh cinta sama gay satu ini”

“Engga akan pernah sampai kapanpun”

Haikal menatap lekat Juan dan tersenyum kikuk “Gue harap seperti itu”. 
Lelaki tersebut memutus kontak mata dengan Juan, ia membaca sebuah buku yang didapat dari dalam tasnya “Jangan pernah jatuh cinta sama gue”

“Kenapa?”

“Karena gue gay”



Translate