Selasa, 26 Januari 2016

Keyword (bagian 2 )

“Bisa enggak kita istirahat sebentar aja?”  Juan menggerutu karena dari dua jam yang lalu Haikal tidak juga membiarkannya bernapas barang sedetik. Ditambah lelaki itu juga telah mengacaukan minggu paginya. Subuh tadi lelaki itu mengiriminya sebuah pesan untuk bertemu di taman belakang sekolah.  Haikal berdecak, “Baru juga dua jam”. Bocah itu berhasil membuat mulut Juan menganga. Baru juga dua jam dia bilang? Juan rasa Haikal bukan manusia melainkan sebuah mesin. Dia tidak punya hati, kaku, dingin, dan tidak memiliki rasa bosan seperti manusia pada umumnya ketika melakukan suatu pekerjaan tanpa istirahat.

“Males deh gue kerja sama lo. Lamban”.

 APAAA ?

“Kita ngerjain ini udah tiga kali, tapi belum kelar juga. Aneh. Atau mungkin lo sengaja memperlambatnya supaya lo bisa berduaan sama gue?” Sekarang Juan sudah naik pitam. Giginya bergemeletuk, kedua tangannya mengepal. Tanpa berpikir lagi ia menjambak rambut Haikal kuat-kuat membuat badan lelaki itu mengikuti arah tarikan. Haikal berteriak keras kesakitan.

“Wow, elo keliatan normal sekarang” Juan menghentikan aksinya, takjub mendengar teriakan Haikal. Lelaki itu bernapas lega, kedua tangannya meraba rambut yang terasa akan lepas dari kulit kepala karena kelakuan bar-bar Juan barusan.

“Sekarang? Gue memang terlahir normal” wanita itu terkekeh tidak peduli pada bentakan Haikal. Membuat Haikal memutar bola mata.

“Gue sama Mikaila mikirnya elo enggak punya emosi layaknya manusia”

“Hebat. Jadi selama ini kalian memperhatikan gue. Memang enggak ada orang yang bisa menolak pesona gue”  Juan mendengus, sekarang  ia yakin Haikal benar-benar manusia berkat kepercayaan diri yang tinggi itu.
“Pikiran kalian gelap sekali”  Haikal menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Hm... bener juga sih. Kita malah mikir lo ini seorang gay” Juan menaikkan kedua alisnya. Mulut lelaki itu terbuka, keningnya berkerut tak percaya pada pikiran wanita-wanita gila tersebut. Tunggu, wanita gila? Ya, mereka wanita gila, Haikal tak perlu terkejut mendengar pemikiran yang tidak waras dari kedua wanita gila.

“Emang elo bener suka sama perempuan?”

“Iyalah”

“Buktiin dong”

Juan, kamu mengatakan kalimat yang salah, sayang. Sedetik kemudian setelah kalimat terakhir yang Juan lontarkan Haikal menarik tubuh wanita itu mendekat padanya. Mata beningnya menatap lekat tiap inch wajah Juan. Hanya desau angin dan hembusan napas mereka yang terdengar di sana. Gemuruh di dada keduanya tersamarkan, juga diabaikan pemiliknya masing-masing. Terlalu gengsi untuk mengakui rupanya. Juan berdehem membuat Haikal melepaskan tangannya dari pinggang wanita itu. Haikal terkikik melihat pipi Juan yang bersemu merah.

“Seorang gay juga bisa membuat pipi seorang wanita bersemu, ya?” sindir Haikal. Ia meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku akibat aksi nekatnya. Setetes air mengenai kulit tangannya. Kepalanya mendengak ke atas. Hujan. Lelaki itu merapikan barang-barang dan menarik lengan Juan berlari masuk ke dalam gedung sekolah.

Mereka berada di sebuah kelas. Juan mengambil tempat duduk di dekat jendela. Lelaki itu memperhatikannya. Kejadian seperti ini pernah Juan alami, entah berapa tahun yang lalu. Ia tidak berniat mengingatnya. Hening tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, hanya terdengar derasnya hujan di sana sampai akhirnya Juan kalah dengan membuka suara.

“Drama? Dimana kameranya? Dimana sutradaranya?”  Juan terkikik. Matanya masih mengamati segerombolan bulir air di luar. 
“Kenapa ada manusia se-ajaib elo?”

Haikal mendekat, ia mengambil tempat duduk tepat di depan Juan. Ia membelakangi wanita itu. Dia masih menutup mulutnya rapat-rapat tidak berniat membantah ucapan wanita itu.
“Kenapa elo membantu Mikaila menyembunyikan alasan gue yang enggak masuk saat itu? Elo enggak penasaran sama ‘kebiasaan gila’ gue itu?” tatapan Juan masih tidak berpaling.

“Kalau gue bilang ‘iya gue amat sangat penasaran’  apa lo mau ceritain itu semua?”
Tidak ada jawaban. Juan tidak menjawab pertanyaannya.

“Kejadian di cafe itu, gue minta maaf udah bikin lo jadi pusat perhatian”
Juan tersenyum simpul mendengarnya.

“Saat hujan gue selalu jadi pusat perhatian. Udah jadi hal yang lumrah buat gue”

Suasana kembali hening. Entah keduanya tidak ada yang berniat untuk membuka mulut. Asik dengan pikirannya masing-masing. Masa lalu keduanya yang masih mereka bawa hingga saat ini. Masih mencari kata kunci untuk dapat melepaskannya.

Dering ponsel lelaki itu memecah keheningan. Suaranya menjuru ke seisi ruangan. Melihat nama yang tertera di layar, Haikal tak berniat menjawabnya. Ia meletakkan ponselnya di meja, mengabaikan panggilan yang meraung berkali-kali.

Juan berdecak, “Ganggu abis”. 
Haikal mendengus sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.

“Ya”

……..

Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut lelaki tersebut. Juan meliriknya dengan ekor mata, penasaran. Sampai akhirnya ia benar-benar mengalihkan pandangan dari jendela. Dilihatnya punggung lelaki itu menegang. Juan menyipitkan mata,berusaha fokus untuk dapat melihat lebih jelas pergerakan bahu lelaki tersebut. Tidak ada pergerakan. Sampai ia menyadari, lelaki itu tidak bernapas! Juan panik, ia berlari ke depan Haikal. Entah apa yang dikatakan seseorang di sebrang telfon itu, yang pasti orang tersebut berhasil mencetak wajah  tampan –yang baru saja ia sadari- Haikal pucat pasi. Tapi tetap tampan, masterpiece. Astaga, apa yang dipikirkan Juan sekarang ini. Ia mengguncangkan bahu Haikal, berusaha menyadarkan lelaki itu untuk bernapas. Tidak berhasil. Ia mengubah usahanya dengan menepuk-nepuk pipi lelaki tersebut. Masih tidak berhasil. Lelaki itu lupa caranya bernapas. Oh, astaga, Juan memang sering melihat Haikal seperti tidak bernapas saat fokus pada sesuatu yang lelaki itu kerjakan, tapi demi Tuhan saat ini Haikal benar-benar tidak bernapas membuat Juan ketakutan setengah mati. Juan menyerah, ia menangis sejadi-jadinya.

“SIALAN. BERNAPASLAH!” Juan berteriak dengan tangannya memukuli dada bidang Haikal.

Hhhh…

Itu hembusan napas. Melegakan. Seketika lutut wanita itu terasa lemas, tubuhnya melorot ke lantai. Air matanya masih merembes. Hujan ini tidak mungkin mengambil sesuatu darinya lagi. Jangan lagi. Meskipun lelaki ini, jangan pernah. Rapal wanita tersebut dalam hati.
Haikal melihat Juan bersimpuh di kakinya. Ia membantu Juan berdiri dan membawa pergi wanita itu dari sana.

***

Juan tersentak mendapati dirinya berada di sebuah kamar rumah sakit. Saat melihat Haikal kembali bernapas, kesadarannya sebagian menghilang. Ia melihat Haikal menatap seseorang yang terbaring di ranjang kamar itu. Perlahan Juan mendekat ingin melihat lebih jelas sosok yang ditatap lelaki itu. Seorang wanita paruh baya. Tunggu, dia adalah wanita yang Juan temui di toko buku juga cafe waktu itu. Dan, apa ini hanya perasaan Juan saja bahwa wanita tersebut tidak bernapas?

“Dia cantik, kan? Bahkan di usianya yang tidak lagi muda. Juga tanpa polesan seperti ini. Wajah pucat menambah kecantikannya, kan?”  Haikal menyusuri wajah wanita paruh baya itu dengan telunjuknya. Juan mengangguk, mengiyakan.

“Dia, nyokap gue”  Juan tahu tanpa Haikal mengucapkannya. Sesaat melihat wanita paruh baya itu, Juan menyadari anak lelaki juga teman yang ia bicarakan dengan wanita itu adalah Haikal. Rasanya  pertama kali juga untuk yang terakhir kali Juan bertemu, wanita paruh baya ini sangat bersemangat. Jelas wanita ini sangat sehat. Lalu apa yang menyebabkan kematiannya?

“Bunda menderita kanker rahim” Juan tidak bertanya. “Meskipun sakit, Bunda selalu bersemangat. Tiap kali melihatnya, gue bahkan lupa kalau Bunda menderita kanker rahim”  lelaki itu bisa membaca pikiran Juan sepertinya. Ia menjawab pertanyaan Juan yang tidak wanita itu utarakan.

“Iya, gue tahu”  kening Haikal berkerut mendengar ucapan Juan.

***

Hari pemakaman

Saat menapaki bahu jalan beraspal Juan kembali membalikkan tubuhnya menatap Haikal yang  masih berjongkok di samping pusara. Dilihatnya wali kelas mereka juga masih berada di tempat itu. Menurutnya ada yang tidak wajar dengan sikap yang ditunjukkan wali kelasnya itu hari ini. Mulai dari rumah duka, jazad dimasukkan ke liang lahat, sampai sekarang tertimbun dengan setumpuk tanah, air mata Bu Andini terus merembes. Seingatnya, wali kelasnya itu selalu tidak sepaham dengan Haikal. Tapi, air mata itu. Ada hubungan apa sebenarnya antara Bu Andini dengan Bunda Haikal?

Benar bukan apa yang Juan pikirkan, Haikal dan wali kelas mereka tidak pernah sepaham. Lihat, sekarang mereka beradu mulut. Jarak yang terlalu jauh membuat Juan tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Yang pasti, Bu Andini berlari pergi meninggalkan pusara itu dengan tangisan yang makin menjadi. Dan, ada apa dengan ekspresi Haikal? Mungkinkah? Juan tidak yakin. Wanita itu jadi ragu untuk melangkah. Memilih meninggalkan tempat itu atau kembali ke pusara untuk memastikan ekspresi Haikal yang baru saja ia lihat.

***

“Belum pulang?”  Haikal mengambil posisi disamping Juan. Beberapa menit berpikir, tidak juga membuat wanita itu menemukan pilihannya. Akhirnya ia berakhir disini, duduk di bahu jalan berjam-jam lamanya. Menunggu Haikal? Wanita ini saja tak tahu apa tujuannya. Juan tidak menjawab pertanyaan lelaki itu. Jelas sekali ia masih berada di sini.

“Soal ucapan lo di rumah sakit kemarin...”

“Iya, gue kenal nyokap lo” Juan menjawab sebelum Haikal menyelesaikan pertanyaannya. 
“Di toko buku”  tambah Juan. Wanita itu meluruskan kakinya yang semula bersila. Kedua tangan ia letakkan ke belakang untuk menopang tubuh bagian atasnya. Haikal diam menunggu Juan selesai bercerita. Mereka tidak saling menatap. Keduanya membuang pandangan lurus ke depan.

“Gue ini punya ‘kebiasaan gila’ saat hujan. Seisi sekolah udah tau itu pasti. Tanpa terkecuali elo. Meskipun itu udah jadi hal yang lumrah buat gue dan kalian, tapi nyatanya kalian masih penasaran sama kebenarannya. Sejujurnya, gue merasa terusik karena rasa  ‘penasaran’ itu. Gue muak sama tatapan kalian. Sebisa mungkin gue menghindari tatapan itu”

Sesuatu menohok hati Haikal. Muak sama tatapan kalian. Apa ibunya juga merasakan hal yang sama?

“Ini bukan trauma, tapi hujan selalu membawa sesuatu yang belum selesai di masa lalu kembali. Gue engga pernah bisa menjelaskan ke orang-orang gimana tepatnya perasaan gue saat sesuatu itu kembali karena mereka engga akan ngerti seberapapun usaha mereka untuk mencoba mengerti”.

 Gue engga pernah bisa menjelaskan ke orang-orang gimana tepatnya perasaan gue saat sesuatu itu kembali karena mereka engga akan ngerti seberapapun usaha mereka untuk mencoba mengerti. Benar, Bunda? Pandangan Haikal sedikit mengabur karena air yang berkumpul di kelopak matanya.

“Sekalipun itu orang terdekat gue, seperti Mikaila. Dia engga akan pernah ngerti”

Iya, Mikaila tidak akan mengerti. Seperti Haikal tidak pernah mengerti bundanya. Meskipun dia anak kandung bundanya. Meskipun darah bunda mengalir di dirinya.

“Di pertemuan pertama, nyokap elo sangat mengerti gue. Gue yakin ini bukan kebetulan ada seseorang yang mengerti gue. Melainkan kita berdua, memiliki ‘masalah’ yang sama, kan?”  Juan menatap Haikal yang memejamkan matanya, gelisah. Tangan lelaki itu mengepal, keningnya berkerut, kedua alisnya menyatu. Ditatap dari sampingpun hidung Haikal tetap terlihat menjulang tinggi. Tunggu, ada sesuatu yang keluar dari kelopak mata lelaki itu. Air? Haikal, menangis? Sungguh?

“Mau pergi ke suatu tempat ?” tawar Juan pada Haikal.

***

Wanita ini meringkuk di kasurnya. Penampilannya berantakan. Masih mengenakan pakaian serba hitam dari pemakaman tadi. Juga masih menangis sesegukan. Perasaan bersalah menyelimutinya. Ia memejamkan matanya mencoba terlelap, sayang otaknya malah memutar kembali kejadian waktu itu.

“Aku mencintaimu, Mas”

“Kamu pasti sudah gila”

“Iya, aku memang gila karenamu. Aku yang menemukanmu lebih dulu, tapi dia yang menikah denganmu. Bahkan dia melahirkan anakmu. Apa kesalahanku?”

“Mencintaiku”

***

Semburat kemerahan membingkai langit sore itu. Matahari seperti akan ditelan lautan. Gelombang air menggoyangkan perahu-perahu yang sengaja diikat dengan tali oleh para nelayan. Satu sosok memandang tidak tertarik dari suatu gubuk. Setumpuk keindahan tidak bisa mengalihkan perhatian dari kesedihannya barang sebentar. Lalu perlu berapa tumpuk untuk menukarnya?  Lelaki itu menerima sebotol air yang disodorkan seseorang.

“Enggak menarik?” Juan mendaratkan bokongnya di ujung gubuk membuat jarak dengan lelaki itu.

“Lo sering kesini?”  Haikal meneguk airnya, mengabaikan pertanyaan Juan.

“Ini yang pertama” wanita itu menarik sudut bibirnya  keatas. Pandangannya ia tumbukkan pada bulatan matahari yang memerah. Semilir angin menerbangkan sejumput rambut hitam sebahunya.

“Engga menarik?”

“Sikap Bu Andini hari ini aneh ya, Kal?” Juan menjawab dengan sebuah pertanyaan. Ia menarik tubuhnya menghadap Haikal, menyelipkan sejumput rambut yang diterbangkan angin ke belakang telinga. Saat tatapan keduanya bertumbukkan, Juan tersenyum simpul “Kapanpun elo berniat membuka diri, gue orang yang siap menyimpannya”

“Kapanpun elo berniat membuka diri, gue orang yang siap menyimpannya” Haikal mengembalikan kalimat yang diucapkan Juan. Lelaki itu membuang pandangannya ke arah semula. Kemana saja asal terbebas dari pesona yang ditebar wanita itu pikir Haikal. Ia mencabik suatu kenyataan yang coba disuarakan oleh hatinya.

“Gue masih belum yakin. ‘Itu’ benar-benar kelam. Gue engga bisa cerita”

“So do I” Haikal menaikkan sebelah alisnya.

“Gue takut elo jadi risih”

“Sama”

“Gue takut elo bocor ke anak yang lain”

“Gue juga”

“Gue benci elo”

“Senang perasaan gue enggak bertepuk sebelah tangan”

Juan mendesis. Kesal. Dia dengan kebaikan hatinya bermaksud menghibur hati lelaki itu yang entah berapa keping hancurnya. Dia dengan kemurahan hatinya meluangkan waktu untuk mendengarkan lelaki itu berkeluh kesah. Tapi si mesin es ini tidak mengetahui cara berterima kasih dengan benar. Apa mencongkel hati manusia dan memakannya dilegalkan dalam Undang-Undang? Tolong katakan “iya”.

Hm, Juan melupakan pertanyaan Apa seseorang meminta kebaikan hati dan kemurahan hatimu, Nak?


Rabu, 20 Januari 2016

Translate