Minggu, 25 September 2016

Your Expired Admirer

"Hello, December!"

Wohoo~ ini benar-benar menakjubkan aku dapat menyapamu, Desember. Pagi yang indah juga penuh gairah di awal Desember bukan? Ah, tunggu! Sepertinya aku melompat terlalu jauh.

***

September 2015

"Alasan dari semua ini karena Line, bukan?" ia mengusap wajahnya dengan kasar.

"Apa kamu meragukanku? Sejak kapan selera humormu begitu buruk" aku menanggapinya dengan senyum kecut. Ia terlihat frustasi untuk meyakinkanku. Hah, sudah kuduga. Lebih dari dua tahun kita berteman, tapi ia masih tak mengerti juga bahwa aku tak pernah sekalipun meragukannya. 
Perasaan ini... ya, perasaan ini tentu bukan karena aku ragu padanya. Aku yakin itu. Aku hanya... hanya... aku hanya merasa kecewa. Tunggu, bukan kecewa melainkan sedikit kecewa. Ya, sedikit. Jadi, apa kau mengerti? Apa kau mendengarku, Key?

***

Selamat tahun baru 2015. Semangat baru dengan lembaran baru tapi masih dengan tokoh yang sama. That's right babe, masih belum berubah. Kita masih membuat kue manis yang sama juga dengan tangan yang sama, tapi dengan teknik yang berbeda tentunya. Dua tahun mencintainya, tanpa menunjukkan perasaan padanya, hanya puas dengan melihat punggungnya tanpa tau jika dia ternyata memiliki kelopak mata yang menghangatkan juga senyum simpul yang membingkai manis wajahnya. Itu kuno. Kita buat berbeda kali ini.

"Selamat tahun baru" aku mendaratkankan bokongku dengan mulus di kursi taman. Ia tersenyum simpul. Aish... manisnya.

"Selamat tahun baru, Mir" balasnya. 

Ia memalingkan wajahnya dariku. Kami terdiam. Dia asik memandang sekelompok capung yang terbang kesana kemari. Dan aku yang asik memandang salah satu masterpiece-Nya, Muhammad Haikal Saputra. Laki-laki yang duduk di sampingku ini telah menyita perhatianku dua tahun belakangan. Ia memiliki kulit sawo matang dengan wajah oval. Tidak setampan Herjunot Ali memang, juga tidak sekeren Vino G. Bastian. Tapi cukup terkenal di kalangan siswa perempuan sekolah kita dulu.

Hening. Tak ada suara yang keluar dari mulutku juga mulutnya. Dari deretan daftar kalimat yang telah kubuat semalam tak ada satupun yang kuingat. Benar-benar canggung. Pasalnya selama dua tahun aku memujanya diam-diam tentu tak pernah sekalipun aku berani mendekatinya. Ditambah hanya duduk berdua seperti ini. Aku mencoba mengingat satu kalimat yang ada di daftar itu lebih keras lagi. 
Ahhh... ini konyol. Aku tak bisa mengingatnya.

"Bagaimana kabarmu?" ia membuka suara, akhirnya. Melegakan.

"Masih dengan kabar yang sama seperti dua tahun belakangan" aku menunduk menatap kakiku yang bergerak berlawanan, ke depan dan ke belakang. 
"Kalau kamu?" aku buru-buru melanjutkan. Tak ingin percakapan berhenti sampai disitu.

"Baik, mungkin?"  ia menoleh ke arahku dan tersenyum. 
Dan tubuhku kini mencair. Jangan lakukan itu!  

"Too much exercises and tasks. Benar-benar kehidupan kampus" ia menganggukkan kepalanya seakan mengerti sesuatu. Kali ini ia menyilangkan tangannya di depan dada dan memainkan bibirnya ke depan, samping kanan, samping kiri. Ia juga mengayunkan kakinya ke depan dan ke belakang.

"You are bored, aren't you?" tebakku. Ia hanya tersenyum (lagi). Jangan lakukan itu, idiot! Aish. 

"Waktu delapan bulan tidak cukup untuk merubah kebiasaan jam karet mereka. Butuh seumur hidup untuk merubahnya, for your information" Haikal terkekeh mendengarnya. 

Sepuluh menit berharga dalam hidupku duduk berdua dengan Haikal. Ya, karena sepuluh menit berikutnya mereka datang menghampiri kami. Hari ini karena libur tengah semester, maka angkatan kami mengadakan "kumpul kecil-kecilan" kami menyebutnya. Delapan bulan terpisah membuat kami merindukan satu sama lain rupanya. Kami saling menyapa dan berangkulan. Dari sekian banyak teman yang hadir, aku mencari-cari sosok perempuan dengan otak setengah itu. Ia berjanji akan datang tapi tidak kutemukan sosoknya. Otak setengahnya itu sangat menonjol oleh karena itu seharusnya tidak sulit menemukannya jika sosoknya hadir meskipun ditengah keramaian seperti ini.

"I know you'll be missing me, dude" seseorang menjitak kepalaku dari belakang. 
Aku membalikkan tubuh dan merangkulnya. Aku kenal betul dengan suara itu. Iya, perempuan dengan otak setengah yang aku cari. Aku mencarinya dan dia menemukanku. Selalu seperti itu. Dulu dan sekarang. Tak pernah berubah sedikitpun. Kami berpelukan sangat erat hingga bulir air turun dari kelopak mataku. Tentu saja itu air mata karena dia merangkulku begitu erat sehingga membuat aku kesakitan. Bukan karena aku merindukannya!

Ia melepas pelukannya, aku buru-buru menyeka air mataku. Ia menatapku dengan menaik turunkan alisnya dan tersenyum jahil. Aku menggelengkan kepalaku, benar-benar tak ada yang berubah dari wanita jalang ini rupanya membuatku berdecak kagum.

Sepulang dari kumpulan itu, aku dan Mikaila menyempatkan diri pergi ke tempat yang dulu sering kita kunjungi. Sama seperti kami, tidak ada perubahan sedikitpun di tempat itu. Menu, warna cat, tata letak, juga karyawan di sana masih sama seperti dulu. Pesanan kami juga masih sama, jahe merah susu, sosis bakar ukuran medium, dan roti bakar keju coklat. Rasanya benar-benar melegakan mengetahui tak ada yang berubah sedikitpun dari kami. Kupikir bertemu dengan beberapa orang baru dapat merubah kami. Aku juga berpikir berpisah selama delapan bulan itu dapat membuat jarak diantara kami. 

Mikaila menyesap jahe merahnya dengan menutup mata "Ah, rasanya masih sama"

Aku tersenyum melihatnya.

"Ya, apa kau pikir setelah delapan bulan rasa jahe merah berubah menjadi orange juice?" cibirku.

Mikaila terlihat kesal "Apa kau pikir perasaan Haikal juga akan berubah setelah kau mengubah teknikmu dengan mendekatinya secara terang-terangan, huh?" kini aku yang dibuat kesal. 

Bocah tengik ini bagaimana bisa mengatakan kejujuran semudah itu di depan wajahku. Aish, benar-benar.

Aku membanting gelasku "Ya, ya, ya prediksiku benar. Dalam waktu delapan bulan tidak akan bisa menumpulkan mulutmu itu. Ah aku akan menjadi peramal jika seperti ini"

"Mengapa aku menyempatkan diri duduk bersama wanita gila yang tempramen seperti ini. Aish, aku bisa tertular virusnya" ia berdecak kesal.

Aku yang juga kesal langsung menarik lengannya dan menggigitnya "Sekarang kau mendapatkan virusnya"

Kami tertawa menyadari suara kami terlalu keras hingga menarik perhatian pengunjung lain.

***

Coklat dan bunga laku keras hari ini. Segala pernak-pernik serba merah muda habis terjual. Banyak kejutan. Juga banyak cinta pastinya. Ya, ya, ya aku tau kalian sudah bisa menebaknya bahwa hari ini adalah hari valentine, hari kasih sayang mereka menyebutnya. Biasanya disimbolkan dengan memberi bunga atau coklat ke orang yang mereka cintai. Aku juga hari ini membeli coklat, tapi sedikit ragu untuk memberikannya. Aku memandangi coklat yang ada di tanganku, menimbang-nimbang apa ini tak masalah jika aku memberikannya. Aku menghembuskan napas kasar.

"Biar ku tebak, coklat!" Haikal menduduki kursi kosong di sampingku. 
Lelaki ini darimana dia datang, lagi-lagi membuat jantungku terkejut dan berdetak abnormal. 

Aku menganggukkan kepalaku "Yup. Untuk siapa?" aku memancingnya.

"Apa kau mencoba memancingku?" ia menaikkan sebelah alisnya seakan mencurigaiku. 
Lagi-lagi aku menganggukkan kepala tak mengelak.

"Baiklah jika kau bertanya untuk siapa, maka jawabannya masih sama seperti dua tahun lalu" ungkapnya. Aku hanya tersenyum. Rupanya dia telah menyadari bahwa aku mengaguminya sedari dulu. Cukup menarik.

***

Bulan terus berganti, hubunganku dengan Haikal juga bisa kukatakan sedikit berubah. Se-di-kit. Hubungan kami masih sebatas teman tentunya. Hanya, kali ini benar-benar layaknya teman. Mengobrol juga bercanda ternyata aku bisa melakukan itu dengan Haikal. Jika sebelumnya aku hanya bisa menyimpan perasaanku dan menghindarinya, kali ini aku bisa lebih terbuka. Tapi sepertinya ada yang janggal menurutku. Aku sendiri tidak begitu yakin, tapi ini sedikit mengganggu.

Hari ini rasanya matahari benar-benar berada tepat di atas kepalaku, siang yang terik. Aku merogoh sebuah buku dari ransel dan mengibaskannya di wajahku. Panas sekali membuat kerongkonganku semakin kering. Mataku terpejam, tiba-tiba ada yang menarik hidungku membuat aku kembali membuka mata. Sudah kuduga, Bima tak akan memberikanku kehidupan yang tenang di kampus. Karena aku tidak satu kampus dengan Mikaila, bukan berarti semuanya menjadi aman. Bima ini ibarat Mikaila dalam tubuh laki-laki. Kami berteman dan aku merasa nyaman bercerita dengannya.

"Bima, please ini bulan puasa. Aku harus menghemat tenagaku. Jangan buat aku membuangnya percuma" aku memejamkan mataku kembali.

"Bagaimana hubunganmu dengan Haikal?" tanyanya.

Aku menjawabnya dengan pertanyaan "Apa Anita masih menganggap kau mencintaiku?"

Aku tak bisa melihat ekspresinya karena aku masih memejamkan mataku. Kalaupun aku membuka mata, aku tetap tak bisa membaca ekspresi Bima saat aku menyinggung mantan yang paling dia cintai itu. Hampir setahun berteman dengannya tapi aku masih tak mengerti apa yang dia pikirkan sebenarnya. Dia seperti bunglon, mudah berubah. Detik ini ia mengakui perasaannya yang masih mencintai Anita, dan detik berikutnya sudah berubah. Sebenarnya aku tak menyukai Anita, karena dia menjadikanku kambing hitam atas perubahan sikap Bima padanya. Sepertinya dia benar-benar bodoh sampai tak menyadari bahwa kecurigaannya pada Bima yang membuat Bima berubah. Anita ini membuatku iri karena memiliki Bima yang sangat mencintainya.

"Kupikir, sebuah pertanyaan membutuhkan jawaban, bukan pertanyaan" sindirnya.

"Entahlah. Kemarin dia mengirim pesan selamat berbuka puasa" jawabku tak acuh. 

Ia diam, menunggu aku melanjutkan cerita sepertinya.
Aku membuka mataku, dan mengubah posisiku menjadi duduk 
"Hal itu membuatku senang sekaligus khawatir"
Aku berdehem "Aku pikir dia mencintai Mikaila"
Aku berhenti, menatapnya dan menunggu tanggapannya. Tapi ia balik manatapku dalam diam, masih tak berkomentar sedikitpun.

Membuat aku melanjutkan ceritaku "Waktu itu~" 
 
Aku kembali ke beberapa bulan sebelumnya. Saat tahun baru, siswa sekolah angkatanku mengadakan "kumpul kecil-kecilan" itu.

"You are bored, aren't you?" tebakku. Ia hanya tersenyum (lagi). Jangan lakukan itu, idiot! Aish. 

"Waktu delapan bulan tidak cukup untuk merubah kebiasaan jam karet mereka. Butuh seumur hidup untuk merubahnya, for your information" Haikal terkekeh mendengarnya.

"Aku penasaran delapan bulan ini apa Mikaila bisa lebih manis?" 
Apa ini? Pertanyaan Haikal membungkamku.

Bima memukul kepalaku, mengembalikanku di waktu bersamanya.

"Seperti katamu, Mikaila adalah wanita jalang. Tentunya dia tidak bisa diam bukan? Manis yang ia maksud pasti lebih calm. Like that"

Aku menyanggahnya dan menceritakan Line Haikal pada Mikaila. Haikal berkata ingin menjadikan Mikaila miliknya.

"Kamu ini benar-benar tidak memiliki selera humor" Bima menggelengkan kepalanya dan meninggalkanku. 

Bocah tengik itu benar-benar membuatku kesal. Dia tak tau jika di sekolah Haikal memang dekat dengan Mikaila. Aku sebenarnya tidak masalah jika Haikal memang mencintai Mikaila. Tentu hatiku akan sakit, karena aku sepertinya menyerahkan hatiku sepenuhnya untuk dia. Dari sekian banyak orang baru yang kutemui, bahkan tidak ada yang berubah dari siapa alasan jantungku berdetak abnormal. Dari jarak antara aku dan Haikal yang semakin jauh tidak merubah bahwa masih hanya saat bertemu dengannya jantungku ini berdetak abnormal. Meskipun begitu aku akan rela melepasnya, karena dia memang bukan milikku, dan dia tak pernah memilihku. Jika akhirnya pun Haikal memilih Mikaila, aku tidak akan marah padanya. Sesakit apapun, aku akan mengatasinya sendiri. Yang aku takutkan bukan karena aku tidak bisa mengobati lukaku, tapi aku takut Haikal tidak mengatakan perasaannya pada Mikaila karena mencoba menghargaiku dan tak ingin membuat pertemanan kami berantakan.

***

 September 2015

"Apa kamu meragukanku? Sejak kapan selera humormu begitu buruk?" Mikaila frustasi meyakinkanku.

"Cepat atau lambat aku akan kehilangan laki-laki yang kucintai. Apa aku juga akan kehilangan my human diary that I love? Mari lupakan ini" aku merangkulnya erat sekali. Ia membalas rangkulanku. Malam itu kami menghabiskan tiga box tisu.

***

"Hello, December!"

Wohoo~ ini benar-benar menakjubkan aku dapat menyapamu, Desember. Pagi yang indah juga penuh gairah di awal Desember bukan? Aku bahkan tak pernah menyangka dapat menyapamu dengan semangat terisi penuh seperti ini. Bulan Desember ini pertanda akhir dari tahun 2015. Bulan-bulan sebelumnya memberikanku kenangan manis juga pahit. Karena pahit, apa aku harus membuangnya? Ah, sepertinya aku tidak akan melakukan itu. Karena ini satu paket. 

Sebulan yang lalu hubunganku dengan Bima tidak berjalan dengan baik karena tuduhan Anita padaku yang membuatku kesal. Akhirnya aku meminta Bima untuk menjauhiku. Bima benar-benar menjauhiku. Aku senang terbebas dari hal tidak masuk akal yang Anita tuduhkan padaku, tapi juga merasa menyesal karena tidak bisa mempertahankan teman sebaik Bima. Aku merindukannya. Bagaimanapun kabar Bima sekarang, aku berharap dia baik-baik saja dan semoga dia menepati janjinya bahwa dia akan lebih sukses dariku. Dimanapun kamu sekarang, aku berterimakasih karena kamu selalu menghiburku saat itu. 

Sedangkan hubunganku dengan Mikaila tentu baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Tidak perduli jutaan kali kita saling memaki, pada akhirnya kita akan saling merangkul. Kita akan seperti ini sampai akhir. 

Sebulan yang lalu aku mendapat kabar bahwa Haikal memiliki kekasih. Bukan, wanita itu bukan Mikaila melainkan teman satu fakultasnya. Kuakui dia memang cantik. Tapi apa kau pikir aku tidak cantik? Tentu aku cantik. Lebih cantik darinya ha..ha..haa. Dan aku menyadari bahwa aku harus mengakhirinya. 

Selamat tinggal cinta tak berbalas. 
With love, your expired admirer.

Kamis, 07 Juli 2016

Keyword (bagian 5 )

Semilir angin membawa harum kopi menyerbak dan asap sebatang  rokok yang dibakar hilang tak berbekas di udara. Diterangi sinar bulan dua lelaki ini duduk berdampingan di taman belakang rumah, ada sebuah meja bundar yang memisahkan mereka.

“Selesai urusan bisnis di Jogja kemarin, ayah sempat mampir ke rumah tante Lisa” kepulan asap keluar dari mulut lelaki paruh baya itu. Lawan bicaranya bergeming, tahu bahwa kalimat lelaki itu belum selesai. Lelaki paruh baya kembali menghisap rokok sebelum melanjutkan ucapannya, “Anak semata wayangnya tumbuh dengan baik. Semakin cantik juga sopan. Dia sempat nanyain kabar kamu. Kapan-kapan kita main kesana, ya!”

Jelas bukan pertanyaan. Karena malas menanggapi, lawan bicara lelaki paruh baya itu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kolam ikan yang terletak di depan mereka. Tumbuhan rambat merambat dari atas tembok sampai tepian kolam. Juga merambat di sekeliling air terjun buatan di pinggir kolam. Lelaki itu melemparkan remah-remah roti yang ia ambil dari meja bundar ke dalam kolam, membuat air kolam yang tenang berkecipak akibat pergerakan ikan-ikan yang saling berebut makanan.

“Kamu lagi suka sama perempuan lain?”
yang ditanya hanya menggeleng. Masih asik dengan kegiatannya mengamati ikan-ikan yang saling berebut makanan untuk bertahan hidup. Memang, memang berlebihan sekali.

“Memang enak terus-terusan sendiri? Keluar dan cari perempuan, Kal”

“Aku enggak suka perempuan. Aku..”

“Kal..”

“Gay”

“Haikal!” Lelaki paruh baya itu membentak anak semata wayangnya. Bahunya menegang, napasnya menderu. Sedang lawan bicaranya masih santai melemparkan remah-remah roti ke dalam kolam. Ayah Haikal memejamkan matanya, ia menghirup dan menghembuskan udara secara perlahan berharap emosinya kembali stabil. Berkali-kali mengangkat topik ini dengan anaknya selalu tidak berakhir baik. Ia pun memilih pergi meninggalkan anaknya.

“Sampai kapan kamu mau seperti ini, Kal? Berhentilah, Nak” ucap ayah Haikal sebelum ditelan pintu bercat coklat. Sementara Haikal tetap bergeming di tempatnya.

***

“Oke, karena tema perlombaan pensi untuk kelas dua tahun ini yaitu drama, jadi kita mau angkat cerita apa?” Fahmi selaku ketua kelas membuka diskusi untuk menentukan cerita yang akan di tampilkan dalam perlombaan pensi antar kelas yang diadakan setiap tahun oleh sekolahnya. Tema tahun ini untuk kelas satu yaitu musik tradisional, sedang kelas tiga adalah tari modern.

“Lokal atau internasional?” siswi berkacamata bertanya.

“Lokal aja gimana? Selain acting, kita juga harus menyiapkan kostum kan? Susah loh cari kostum buat drama internasional gitu. Kalaupun ada pasti mahal. Opsi kedua pasti sewa, di kota kita ini setau gue engga ada tempat penyewaan kostum gitu. Ada di luar kota tapi sewa dihitung per-hari. Karena di luar kota otomatis kita engga bisa nyewa satu hari, jauh bet broh. Intinya pasti ribet” Mikaila menjelaskan secara rinci seperti biasa. Kecerdasan tidak pernah mengkhianatinya.

“Cemerlang seperti biasa. Jadi kita pilih cerita lokal. Ada usul lagi?” Fahmi berdecak kagum pada Mikaila.

“Bawang merah bawang putih aja”  celetuk Juan membuat seisi ruangan memutar bola mata.

“Elo jadi bawang merah. Lebih gampang enggak perlu acting”

“Selera elo, Ju”

“Standar banget”

“Kuno abis” anak-anak lain mencemooh pilihan Juan tidak terkecuali sahabatnya juga Haikal. Bahkan Fahmi yang biasa menjadi penengah di tengah keributan kini terkikik berusaha setengah mati menahan tawa. Membuat Juan mencebik mulutnya.

“Dasar otak ciki, kebanyakan makan mecin lo. Namanya juga cerita lokal, ya jelas kuno lah!”  Juan bersungut tak terima dikucilkan.

“Elo kan udah SMA, Ju. Pilih yang romance bisa kali. Rrrrr~”

Kini giliran Juan yang memutar bola matanya. Karena jika bermain peran seperti ini jelas dia tidak akan kebagian peran. Secara dia tidak berbakat dalam acting.

Menari.

Menyanyi.

Belajar.

Memasak.

Oke, singkatnya Juan tidak berbakat dalam hal apapun. Terlalu panjang hingga memakan banyak waktu jika harus menyebutkan bakat yang tidak Juan kuasai. Satu hal yang sangat-sangat ia kuasai yaitu mengumpat.

“Oke, gue jadi team sukses property” ucap Juan lirih membuat tawa teman-temannya membahana ke seisi kelas.

“Gimana kalau Jaka tarub? Lumayan banyak loh perannya” lelaki yang duduk di pojok ruangan bersuara. Anak-anak seisi kelas mengangguk setuju.

“Siapa aja yang mau jadi 7 bidadari?”

“Laila”

“Mila”

“Widya”

“Tania”

“Mikaila” seseorang menyarankan.

“Fani”

“Maura”  Fahmi menulis nama-nama yang di sebutkan ke papan tulis.

“JUAAAANNN” perempuan itu meneriaki namanya sendiri. “Kenapa enggak ada yang menyarankan gue, sih? Padahal kecantikan gue mengalahi bidadari”

“Karena acting lo akan menghancurkan kelas kita!” jawab mereka kompak. Apa boleh buat Juan harus menelan pil pahit. Tidak ada satu orangpun yang mengasihaninya.

“Ibu Jaka tarub siapa?”

“Gueeeee” lagi, perempuan itu mengangkat tangannya, menyarankan dirinya sendiri. Mencoba kesempatan sekali lagi agar mereka memberikan kesempatan pada Juan untuk menunjukkan bakat acting berantakan yang menurutnya bisa diperbaiki.

“Ju, team sukses property membutuhkan orang berkompeten seperti elo” Juan tahu diri, ia pura-pura menangis terharu merasa sangat dibutuhkan dalam team property.

“Ck, acting nangis aja gagal begitu” Haikal bersuara yang mendapat pelototan tajam dari Juan.

“Emang lo bisa ?” tantang Juan

“Bisa”

“Buktiin dong”

“Oke”

“Ok, jadi peran Jaka tarub diambil Haikal, ya” ucap Fahmi seketika mengambil kesempatan emas. Secara fisik Haikal mendukung sekali untuk menjadi peran utama. Berguna untuk menarik perhatian penonton. Karena selain penilaian dari juri, antusias penonton juga masuk dalam penilaian. Tak masalah meski acting lelaki itu buruk, lagipula penonton akan tetap antusias menonton dramanya –koreksi, Haikal.


Fahmi mengetukkan penghapus ke papan tulis sebanyak tiga kali. Suara tepuk tangan bergemuruh ke seisi kelas, membuat Haikal mendesah. Mau tak mau ia harus menyetujui kesepakatan ini.

Jumat, 17 Juni 2016

Keyword (bagian 4 )

“Key, Haikal itu orangnya gimana?”

Sepulang dari sekolah Mikaila mengunjungi rumah Juan, dan keheranan mendengar pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan wanita paruh baya itu. Ia kembali meletakkan es jeruk yang akan ditenggaknya ke meja, kemudian melipat kedua  kakinya di atas sofa memposisikan tubuhnya menghadap wanita paruh baya yang duduk santai di sebelahnya sedang menonton sebuah drama korea bersamanya dengan semangkuk kacang di tangan.

“Muhammad Haikal?” 

Wanita paruh baya itu mengangguk agak ragu. Seingatnya memang nama itu yang ia baca di tag nama seragam laki-laki tersebut.

“Yang kulitnya sawo matang?” 
Yang ditanya me-respond dengan sebuah anggukan.

“Badannya bagus?”
Anggukan lagi.

“Yang...”

“Iya, yang senyumnya manis. Wajahnya oval. Rambutnya hitam legam yang panjangnya hampir setelinga. Punya lesung pipi. Iya, Muhammad Haikal itu yang tante maksud, Key”  wanita paruh baya itu memotong kalimat Mikaila. Sebagai gantinya ia yang menjelaskan detail dari Haikal yang membuat Mikaila cengengesan.

“Tante kenal Haikal darimana?” gadis itu mencomot segenggam kacang dari mangkuk yang dipangku oleh lawan bicaranya dan memasukkannya kedalam mulut.

“Tadi pagi dia jemput Juan kesini. Mereka lagi deket, ya? Juan jadi udah move on nih, Key?”

“Widih udah sedekat itu ya mereka? Asem bener Juan engga cerita”

“Lah, jadi kamu enggak tau toh, Key? Ih payah”  tahu Mikaila tidak mengetahui kabar panas tersebut wanita paruh baya itu menyombongkan diri . Berhasil membuat Mikaila mencibir. Juan berhutang penjelasan padanya pikir Mikaila.

“Udah hampir malam tapi Juan belum pulang juga. Mereka kerja kelompoknya enggak yang macem-macem kan, Key? Beneran kerja kelompok, kan?” tanya wanita paruh baya itu mulai khawatir.

Mikaila menangkap kekhawatiran itu. Saatnya balas dendam, teriak batin Mikaila. 
“Oh, tante kurang informasi ya soal Haikal?”

Wanita paruh baya itu mendengus, ia menangkap kalimat pembalasan dendam Mikaila.

“Tante kalem aja. Juan pasti aman kok kalau sama Haikal”

“Wah anaknya pasti bertanggung jawab ya, Key?”

Mikaila menggeleng, menyembunyikan senyum jahil.
“Dia gay”   

Bibir wanita paruh baya itu menganga. Matanya membulat. Sebentar lagi bola matanya akan jatuh ke lantai. Ia lemas, menjatuhkan tubuhnya ke punggung sofa. Setengah tak percaya melihat Haikal yang memiliki fisik ‘laki-laki sekali’ ternyata tidak tertarik pada lawan jenis. Baru saja wanita itu menaruh banyak harapan pada Haikal untuk membahagiakan anaknya. Dasar Mikaila si pemberi harapan palsu. Harusnya sedari awal dia memberikan informasi penting itu agar wanita paruh baya ini tidak keburu berharap dan kecewa seperti ini.

Mikaila terbahak, membuat wanita paruh baya tersebut memicingkan matanya.
“Kamu serius?”

Mikaila menjawab dengan menggelengkan kepalanya, ia masih tertawa hingga keluar air mata. Wanita paruh baya itu kembali bersemangat. Ia menegakkan tubuhnya. Juga kembali berharap tentunya. Tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, deretan rencana untuk mendekatkan Juan dengan Haikal tertanam di kepalanya.

“Aku tebak, tante punya rencana buat mendekatkan Haikal dengan Juan, kan?”

Wanita paruh baya itu mencibir “Bukan urusanmu”

Membuat Mikaila berdecak, “Tante, tau engga sih maksud gelengan aku tadi? Selama ini Haikal belum pernah deket sama cewek. Jadi maksudnya, aku tuh enggak tau dia beneran gay atau bukan”
Mikaila tertawa sampai memegangi perutnya mendapat pukulan bantal sofa bertubi-tubi dari wanita paruh baya yang sangat kesal mengetahui dirinya dipermainkan oleh Mikaila.

Sebuah deheman menghentikan tangan wanita paruh baya itu dari kegiatannya menyiksa Mikaila.


***

Juan tersenyum sumringah memasuki rumah dengan sebuah lollipop di tangan kanannya. Suara cekikikan dua orang wanita yang berasal dari ruang keluarga terdengar sampai ruang tamu. Juan menapaki kakinya hingga tiba di sumber suara. Hatinya mencelos mendapati keakraban Mikaila dengan ibunya. Cemburu. Perasaan yang mati-matian diabaikan Juan. Ia berdehem, membuat tangan wanita paruh baya itu berhenti dari kegiatannya menyiksa Mikaila. Gadis itu bersitatap dengan ibunya, raut wajah datar sedingin es yang terus Juan pertahankan dari dulu hingga sekarang dan entah kapan akan berubah.
Wanita paruh baya menelan ludahnya, ia memperbaiki ekspresi keterkejutannya dengan seulas senyum tulus –yang selalu terasa damai, menentramkan.
“Baru pulang, Ju?”

“Key, ke kamar gue aja, yuk”  Juan melenggang pergi, menaiki anak tangga menuju kamarnya. Gadis itu mengabaikan ibunya. Mikaila tersenyum canggung. Ia mengusap tangan wanita paruh baya itu dengan ibu jarinya, berusaha menenangkan.

“Nanti aku cari info soal Haikal dan membagi kabar panas itu sama tante, oke?” Mikaila membuat lingkaran dengan ibu jari dan telunjukknya , tak lupa dengan satu kedipan mata. Wanita paruh baya itu menampilkan seulas senyum dan menganggukan kepalanya. Mikaila ikut tersenyum dan melenggang pergi menuju kamar Juan.


Juan sedang berbaring dikasurnya dengan sebuah lollipop ditangan kanan teracung ke atas saat Mikaila merampas objek yang ia amati. Salah satu dari dua gadis bar-bar itu bersiap membuka bungkus lollipop dan di gagalkan gadis bar-bar lainnya.

“Sedikit pemanis buatan dalam tumpukan rasa pahit”

Dahi Mikaila berkenyit mendengar kalimat yang Juan lontarkan. Tak mengerti kalimat asal yang tiba-tiba keluar dari mulut penuh sarkasme yang Juan miliki.

“Ah udah jangan berpikir. Jangan membuat otak kecil lo itu bekerja terlalu keras”  Juan menggibaskan tangannya di udara. Gigi Mikaila bergemeletuk, ia menerjang Juan dengan kepalanya hingga jatuh di atas kasur. Juan yang merasakan perutnya ditumbuk benda sekeras batu berteriak kesakitan, tak mau kalah ia menangkap kedua telinga Mikaila dengan tangan dan menariknya ke samping.

***

Setelah puas dengan kegiatan bar-bar yang dilakukan oleh dua wanita bar-bar, di sinilah mereka berakhir. Terbaring berdampingan di atas kasur dengan kepala menggantung ke bawah. Beberapa saat terdiam, Mikaila membuka percakapan,
“Gue tau lollipop itu dari Haikal”

“Cie.. alih profesi jadi cenayang”

“Yup” Mikaila mengangsurkan telapak tangannya yang terbuka ke atas menagih sesuatu. Juan hanya menaikkan kedua alisnya tak mengerti.

“Bayaran untuk konsultasi dengan cenayang”

“Baru juga sedetik, Mbah”

“Salah. Itu udah 6 seconds, for your information”

“Peritungan bet zehhh”

“Karena time is money, bitch!”

Juan memutar bola matanya, jengah. Sekali. Sangat jengah sekali. Ia menatap lollipop yang tergeletak di nakas.

“Menurut lo Haikal beneran gay? Gue serius”

Mikaila mengendikkan bahunya, ia memang tak tahu kebenarannya. Jika dilihat dari fisik dan tingkah laku memang Haikal jelas tidak tertarik dengan sesama jenis. Tapi juga tidak ada yang tahu bukan jika Haikal menutupi ketertarikan pada sesama jenis dengan fisik dan tingkah lakunya. Lagipula, selama ini Haikal tidak pernah menunjukkan ketertarikan dengan lawan jenis.

“Meskipun dia gay, bukan urusan lo. Kecuali elo menaruh hati padanya”

Gadis itu bergeming, tidak langsung menjawab. Alih-alih menjawab, ia menutup kedua kelopak matanya. Mikaila meliriknya, menunggu jawaban.

“Bukan. Ini urusan gue”

“Jadi, elo beneran jatuh cinta sama Haikal? Gila, ide-ide nyokap lo buat mendekatkan elo sama Haikal hangus terbakar jadi abu dong”  Mikaila cekikikan membayangkan wanita paruh baya itu yang sudah pasti kecewa karena rencana yang tertanam di otaknya menjadi sia-sia.

“Bukan gitu. Gue enggak jatuh cinta sama Haikal. Gue yakin se-yakin-yakinnya. Ini urusan gue, karena gue temen dia. Dan sebagai teman yang baik, gue engga bisa dong membiarkan dia tertarik sama laki-laki padahal masih banyak cewe bohay yang udah pasti mau sama dia. Engga akan nolak meskipun pake bayar. Lo deket ya sama nyokap gue, by the way” Juan mengubah posisinya duduk bersandar di kepala ranjang sebelum menjelaskan kekeliruan pada Mikaila.

“Sejak kapan lo berteman sama dia? Dan gue memang deket sama nyokap lo dari dulu, kan. Kenapa deh lo. Tiba-tiba bilang gitu”

Benar juga, sejak pertama kali mengunjungi rumah Juan, Mikaila memang bisa langsung berbaur dengan ibu Juan. Jelas terlihat ibunya juga nyaman berada di dekat Mikaila, mereka berdua terlihat seperti ibu dan anak sungguhan. Seringkali mereka juga terlihat seperti adik kakak karena tingkah laku keduanya yang seperti anak kecil.

“Cenayang yang ilmunya mulai luntur” Juan berdecak pura-pura kecewa. Membangkitkan bakat acting terpendam yang dimiliki Mikaila.

“Bukan seperti itu shay, aku ya cuma bosan aja nerawang dan selalu benar gitu” Mikaila mendudukkan dirinya di atas kasur, bersila. Matanya terpejam, mulutnya komat-kamit seperti membaca beberapa mantra, tangannya ia rentangkan ke samping kemudian ia gerakkan dengan cepat ke atas kepalanya, ia tangkupkan kedua telapak tangannya hingga telapak kanan dan kiri bertemu dan ia gerakkan turun secara perlahan-lahan dengan mulut yang masih komat-kamit.

Tiba-tiba ia membuka kedua kelopak matanya, dan berujar “Kamu dan lelaki itu, kalian berdua, akan jatuh cinta”

BBUUKK..

“Klasik” Juan melemparkan bantal ke wajah Mikaila dan pergi untuk mandi. Menyegarkan badannya yang sudah terasa lengket.





Senin, 14 Maret 2016

Keyword (bagian 3 )

Seseorang merentangkan kedua tangannya. Menghirup udara bersih pagi ini dengan rakusnya seperti baru saja terbebas dari ratusan tahun terjebak dalam penjara bawah tanah. Ia membuka kedua matanya yang semula terpejam. Kilatan semangat dari matanya berubah sendu saat mendapati tatapan permusuhan seorang wanita dari balik jendela sebuah kamar.
Ia memasuki rumahnya menuju dapur, pandangannya kembali bertumbukkan dengan si pemilik tatapan permusuhan.

“Kamu baru mau mandi ya? Kamu mau dibuatin sarapan apa, Ju?”  Ia mencoba berkomunikasi dengan pemilik tatapan permusuhan meskipun ia tahu dengan pasti respond  yang akan dia dapat.  Hingga tubuh itu ditelan pintu kamar mandi tetap tidak ada jawaban untuk pertanyaannya. Gadis itu mengabaikannya. Lagi. Juan menolak keberadaannya. Lagi. Ia tersenyum, menelan bulat-bulat rasa pahitnya. Sesuatu di masa lalu itu akan terus bersamanya sampai mereka menemukan kata kunci untuk membuatnya pergi. Ia mengalihkan rasa nyeri di ulu hatinya dengan memasak.

***

Sebuah ketukan memecah kesunyian di meja makan mereka. Juan sedikitpun tidak beranjak dari kegiatannya, fokus menghabiskan sarapan secepat yang ia bisa. Wanita di depan Juan beranjak dari tempatnya duduk  untuk melihat siapa tamu yang datang sepagi itu.

“Bagus, tamu itu menyelamatkan suasana yang enggak nyaman. Siapa malaikat yang datang se-pagi ini?“ Juan menenggak habis segelas susunya dan beranjak dari meja makan sialan itu setengah berlari. Ia ingin cepat pergi dari rumah sialan itu dan berterima kasih pada malaikat yang baik hati tersebut.

“Nah, itu anaknya. Ini Haikal udah nunggu katanya mau bareng kamu, Ju“
Juan membeku, ia seketika menghentikan pergerakan kakinya. Tolong edit kata malaikat dari kalimat Juan barusan. Ia menghampiri Haikal dan ibunya dengan wajah tanpa ekspresi. Jenis pagi macam apa ini?

“Kita pergi dulu, Tan”  Haikal berpamitan dan dibalas dengan anggukan –plus senyuman (selalu)- oleh  ibu Juan. Tampak jelas kekesalan yang tidak bisa disembunyikan Juan tapi ia tetap mengekori Haikal menuju motor lelaki itu dan mereka perlahan menjauh dari pekarangan rumahnya.

Tidak ada percakapan di sepanjang perjalanan hingga tiba di parkiran sekolah yang masih sepi. Juan menyerahkan helmnya –koreksi helm milik Haikal- pada Haikal.
“Lo kenal nyokap gue?” Kening Haikal berkerut untuk beberapa detik kemudian ia menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Juan.

“Darimana?”

“Dari tadi”

“Serius annjj… hmmp.. hmmp” Tahu apa yang akan dikatakan gadis itu, Haikal membekap mulut Juan dengan tangannya. Lagi-lagi sasaran empuk untuk Juan yang omnivora. Gadis itu menggigit telapak tangan Haikal membuat lelaki itu menarik cepat tangannya.

“Dasar karnivora” Haikal berdecak sambil mengusap lembut bagian yang digigit Juan.

“Sok tau. Gue omnivora!”  Juan menepuk sekali dadanya terlalu bangga akan kemampuannya memakan segala jenis makanan membuat Haikal menaikkan sebelah alisnya dan menggeleng tak percaya. Juan terbahak –yang ia sendiri tak tahu sebabnya- dan melenggang pergi menuju kelas dengan Haikal mengekorinya.

“Kal, elo mulai tertarik ya sama gue?”

“Gue gay”

Juan berhenti mendadak membuat Haikal yang tepat berada di belakang gadis itu menubruk tubuh Juan “Elo kalau mau berhenti itu minggir jangan menghalangi jalan orang gitu dong”.
Juan tersenyum lega mengetahui kebenaran bahwa itu hanya kekhawatirannya yang berlebihan.

“Kenapa?” Haikal bertanya tepat di depan wajah Juan.

“Gue seneng lo bener-bener gay. Jadi gue engga harus khawatir kalau elo jatuh cinta sama gue” Gadis itu cengengesan dan menepuk wajah Haikal dengan santainya. Keras sekali hingga lelaki itu menekan wajah dengan tangannya berharap nyerinya hilang.

“Lo ini kasar banget sih. Bertolak belakang banget sama nyokap lo. Jangan-jangan lo ini bukan anak kandungnya”

Tatapan Juan menggelap, bibirnya membentuk garis tipis “Elo tahu apa soal nyokap gue?”
Juan setengah berlari meninggalkan Haikal. Wajah gadis itu merah padam, Haikal tidak pernah melihat Juan semarah itu.

***

“Siaga 10” Mikaila menyenggol lengan Juan dengan sikunya. “Haikal siap nerkam elo“ lanjutnya setengah berbisik. Juan tidak bereaksi meski ditatap Haikal secara terang-terangan. Gadis itu tetap menekuk wajahnya sedari pagi tadi. Juga bergeming di tempatnya duduk meski  bel pulang membahana ke seisi gedung.

“Tugas kelompok. Taman belakang. Sekarang juga” Lelaki itu berhenti sebentar di tempat Juan dan kembali melenggang pergi. Mikaila mengerutkan keningnya mendengar tiga kalimat tidak normal yang dilontarkan Haikal. Juga melirik sahabatnya yang merapikan barang-barang dan segera mengekori Haikal tanpa mengucap sepatah katapun padanya. Mikaila mendesah sekaligus memutar bola matanya.
Mereka berdua sekarang duduk di salah satu bangku taman tanpa ada percakapan diantara keduanya. Sibuk dengan kegiatan masing-masing. Juan menyalakan notebook-nya dan Haikal sibuk mencari sesuatu di salah satu kantung tasnya. Ketemu. Lelaki itu akhirnya menyerahkan sebuah benda ramping berwarna putih tulang. Juan menerima flashdisk dan memasangkan di notebook-nya. Tangan gadis itu cekatan membuka sebuah –satu-satunya folder- yang ada di dalam flashdisk, terdapat satu dokumen tugas mereka dan sebuah foto… keluarga? Gadis itu menoleh pada Haikal yang memberinya sebuah anggukan. Rasa penasaran juga persetujuan dari pemiliknya membuat Juan akhirnya men-double klik  dan muncul foto yang lebih besar tampilannya. Sebuah sofa untuk dua orang berada di tengah ruangan, Haikal mengenakan tuxedo hitam kemeja putih tanpa dasi berdiri di belakang sofa dengan ekspresi tak terbaca, tidak ada seulas senyum yang membingkai wajah tampannya. Berbanding terbalik dengan dua orang di depannya yang duduk di sofa marun itu. Seorang lelaki paruh baya mengenakan pakaian yang sama dengan Haikal ditambah dasi biru tua bermotif garis-garis putih. Dan seorang wanita bergaun putih dengan kuku yang di cat biru tua tersenyum manis sekali. Senyum dan wajah yang sangat tidak asing bagi Juan.

“Ini, bokap gue” Haikal menunjuk foto lelaki yang duduk di sofa,  jarinya kini bergeser ke wanita di sebelahnya membuat Juan menahan napas sebelum Haikal melanjutkan perkenalan keluarga lelaki itu. “Dan ini, Bu Andini, adik nyokap gue”  Haikal menarik napas dalam, menghirup oksigen dengan rakus “Juga.. nyokap tiri gue”

Hening. Tidak ada yang keluar dari pita suara mereka. Sementara jari Juan yang gemetaran dibungkus oleh telapak tangan yang lebih besar –milik Haikal. Wajah Juan memanas.

“Kapanpun elo berniat membuka diri, gue orang yang siap menyimpannya” Haikal mengulang ucapan Juan tempo hari. Lelaki itu kembali membuka suaranya, membawa Juan ke sesuatu di masa lalu yang tidak pernah dibagi pada siapapun.

“Lo pernah bilang kalau elo dan nyokap gue punya masalah yang sama, itu benar. Kejadian pahit yang kalian alami saat hujan turun di masa lalu masih terus mengalir sampai sekarang, bukan? Selama ini gue selalu benci tiap kali hujan, nyokap gue jadi melankolis. Kinerja otaknya menurun waktu hujan. Gue selalu bilang ngerti apa yang nyokap gue rasain tapi nyokap gue enggak bisa terus seperti itu. Sampai gue disadarkan oleh elo. Gue enggak akan pernah ngerti gimana rasanya cinta setulus hati yang dikhianati, sekeras apapun gue coba mengerti. Gue enggak akan benar-benar  ngerti gimana rasanya dikhianati sama adik kandung” Haikal melepas genggamannya pada Juan. Ia menggesekkan kedua kulit telapak tangannya dengan kulit wajah. Sementara Juan menggenggam tangannya sendiri yang kosong akibat ditinggal tangan Haikal. Wanita itu masih gemetaran yang sekarang merambat ke sekujur tubuhnya.

“Gue engga akan benar-benar ngerti apa yang nyokap gue rasain. Sama seperti nyokap gue yang engga akan benar-benar ngerti apa yang dirasain anak umur 5 tahun ngeliat perselingkuhan ayahnya dengan mata kepalanya sendiri” Haikal tersenyum miris.

Lelaki itu merogoh tasnya mengeluarkan sebungkus lollipop yang ia sodorkan pada Juan 

“Sedikit pemanis buatan dalam tumpukan rasa pahit. Maaf soal pagi tadi”

Juan menatap lollipop yang disodorkan Haikal, tidak buru-buru mengambilnya, tubuh wanita itu masih gemetaran dibawa ke masa lalu. Tangannya bergerak memeluk dirinya sendiri berharap dia akan berhenti gemetaran. Ia mengalihkan iris matanya menatap Haikal yang menyunggingkan seulas senyum, seketika itu rasa takut Juan menghilang. Akhirnya wanita itu menerima lollipop yang disodorkan Haikal.

“Pulang? atau masih mau di sini?” tawar Haikal pada Juan.

“Masih mau di sini”

Haikal tersenyum menggoda membuat kening Juan berkerut tak mengerti dan memasang ekspresi, apa?

“Elo masih betah berduaan sama gay. Gue tebak sebentar lagi elo bakal jatuh cinta sama gay satu ini”

“Engga akan pernah sampai kapanpun”

Haikal menatap lekat Juan dan tersenyum kikuk “Gue harap seperti itu”. 
Lelaki tersebut memutus kontak mata dengan Juan, ia membaca sebuah buku yang didapat dari dalam tasnya “Jangan pernah jatuh cinta sama gue”

“Kenapa?”

“Karena gue gay”



Selasa, 26 Januari 2016

Keyword (bagian 2 )

“Bisa enggak kita istirahat sebentar aja?”  Juan menggerutu karena dari dua jam yang lalu Haikal tidak juga membiarkannya bernapas barang sedetik. Ditambah lelaki itu juga telah mengacaukan minggu paginya. Subuh tadi lelaki itu mengiriminya sebuah pesan untuk bertemu di taman belakang sekolah.  Haikal berdecak, “Baru juga dua jam”. Bocah itu berhasil membuat mulut Juan menganga. Baru juga dua jam dia bilang? Juan rasa Haikal bukan manusia melainkan sebuah mesin. Dia tidak punya hati, kaku, dingin, dan tidak memiliki rasa bosan seperti manusia pada umumnya ketika melakukan suatu pekerjaan tanpa istirahat.

“Males deh gue kerja sama lo. Lamban”.

 APAAA ?

“Kita ngerjain ini udah tiga kali, tapi belum kelar juga. Aneh. Atau mungkin lo sengaja memperlambatnya supaya lo bisa berduaan sama gue?” Sekarang Juan sudah naik pitam. Giginya bergemeletuk, kedua tangannya mengepal. Tanpa berpikir lagi ia menjambak rambut Haikal kuat-kuat membuat badan lelaki itu mengikuti arah tarikan. Haikal berteriak keras kesakitan.

“Wow, elo keliatan normal sekarang” Juan menghentikan aksinya, takjub mendengar teriakan Haikal. Lelaki itu bernapas lega, kedua tangannya meraba rambut yang terasa akan lepas dari kulit kepala karena kelakuan bar-bar Juan barusan.

“Sekarang? Gue memang terlahir normal” wanita itu terkekeh tidak peduli pada bentakan Haikal. Membuat Haikal memutar bola mata.

“Gue sama Mikaila mikirnya elo enggak punya emosi layaknya manusia”

“Hebat. Jadi selama ini kalian memperhatikan gue. Memang enggak ada orang yang bisa menolak pesona gue”  Juan mendengus, sekarang  ia yakin Haikal benar-benar manusia berkat kepercayaan diri yang tinggi itu.
“Pikiran kalian gelap sekali”  Haikal menggelengkan kepalanya tak percaya.

“Hm... bener juga sih. Kita malah mikir lo ini seorang gay” Juan menaikkan kedua alisnya. Mulut lelaki itu terbuka, keningnya berkerut tak percaya pada pikiran wanita-wanita gila tersebut. Tunggu, wanita gila? Ya, mereka wanita gila, Haikal tak perlu terkejut mendengar pemikiran yang tidak waras dari kedua wanita gila.

“Emang elo bener suka sama perempuan?”

“Iyalah”

“Buktiin dong”

Juan, kamu mengatakan kalimat yang salah, sayang. Sedetik kemudian setelah kalimat terakhir yang Juan lontarkan Haikal menarik tubuh wanita itu mendekat padanya. Mata beningnya menatap lekat tiap inch wajah Juan. Hanya desau angin dan hembusan napas mereka yang terdengar di sana. Gemuruh di dada keduanya tersamarkan, juga diabaikan pemiliknya masing-masing. Terlalu gengsi untuk mengakui rupanya. Juan berdehem membuat Haikal melepaskan tangannya dari pinggang wanita itu. Haikal terkikik melihat pipi Juan yang bersemu merah.

“Seorang gay juga bisa membuat pipi seorang wanita bersemu, ya?” sindir Haikal. Ia meregangkan tubuhnya yang sedikit kaku akibat aksi nekatnya. Setetes air mengenai kulit tangannya. Kepalanya mendengak ke atas. Hujan. Lelaki itu merapikan barang-barang dan menarik lengan Juan berlari masuk ke dalam gedung sekolah.

Mereka berada di sebuah kelas. Juan mengambil tempat duduk di dekat jendela. Lelaki itu memperhatikannya. Kejadian seperti ini pernah Juan alami, entah berapa tahun yang lalu. Ia tidak berniat mengingatnya. Hening tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka, hanya terdengar derasnya hujan di sana sampai akhirnya Juan kalah dengan membuka suara.

“Drama? Dimana kameranya? Dimana sutradaranya?”  Juan terkikik. Matanya masih mengamati segerombolan bulir air di luar. 
“Kenapa ada manusia se-ajaib elo?”

Haikal mendekat, ia mengambil tempat duduk tepat di depan Juan. Ia membelakangi wanita itu. Dia masih menutup mulutnya rapat-rapat tidak berniat membantah ucapan wanita itu.
“Kenapa elo membantu Mikaila menyembunyikan alasan gue yang enggak masuk saat itu? Elo enggak penasaran sama ‘kebiasaan gila’ gue itu?” tatapan Juan masih tidak berpaling.

“Kalau gue bilang ‘iya gue amat sangat penasaran’  apa lo mau ceritain itu semua?”
Tidak ada jawaban. Juan tidak menjawab pertanyaannya.

“Kejadian di cafe itu, gue minta maaf udah bikin lo jadi pusat perhatian”
Juan tersenyum simpul mendengarnya.

“Saat hujan gue selalu jadi pusat perhatian. Udah jadi hal yang lumrah buat gue”

Suasana kembali hening. Entah keduanya tidak ada yang berniat untuk membuka mulut. Asik dengan pikirannya masing-masing. Masa lalu keduanya yang masih mereka bawa hingga saat ini. Masih mencari kata kunci untuk dapat melepaskannya.

Dering ponsel lelaki itu memecah keheningan. Suaranya menjuru ke seisi ruangan. Melihat nama yang tertera di layar, Haikal tak berniat menjawabnya. Ia meletakkan ponselnya di meja, mengabaikan panggilan yang meraung berkali-kali.

Juan berdecak, “Ganggu abis”. 
Haikal mendengus sebelum akhirnya menjawab panggilan itu.

“Ya”

……..

Tak ada lagi suara yang keluar dari mulut lelaki tersebut. Juan meliriknya dengan ekor mata, penasaran. Sampai akhirnya ia benar-benar mengalihkan pandangan dari jendela. Dilihatnya punggung lelaki itu menegang. Juan menyipitkan mata,berusaha fokus untuk dapat melihat lebih jelas pergerakan bahu lelaki tersebut. Tidak ada pergerakan. Sampai ia menyadari, lelaki itu tidak bernapas! Juan panik, ia berlari ke depan Haikal. Entah apa yang dikatakan seseorang di sebrang telfon itu, yang pasti orang tersebut berhasil mencetak wajah  tampan –yang baru saja ia sadari- Haikal pucat pasi. Tapi tetap tampan, masterpiece. Astaga, apa yang dipikirkan Juan sekarang ini. Ia mengguncangkan bahu Haikal, berusaha menyadarkan lelaki itu untuk bernapas. Tidak berhasil. Ia mengubah usahanya dengan menepuk-nepuk pipi lelaki tersebut. Masih tidak berhasil. Lelaki itu lupa caranya bernapas. Oh, astaga, Juan memang sering melihat Haikal seperti tidak bernapas saat fokus pada sesuatu yang lelaki itu kerjakan, tapi demi Tuhan saat ini Haikal benar-benar tidak bernapas membuat Juan ketakutan setengah mati. Juan menyerah, ia menangis sejadi-jadinya.

“SIALAN. BERNAPASLAH!” Juan berteriak dengan tangannya memukuli dada bidang Haikal.

Hhhh…

Itu hembusan napas. Melegakan. Seketika lutut wanita itu terasa lemas, tubuhnya melorot ke lantai. Air matanya masih merembes. Hujan ini tidak mungkin mengambil sesuatu darinya lagi. Jangan lagi. Meskipun lelaki ini, jangan pernah. Rapal wanita tersebut dalam hati.
Haikal melihat Juan bersimpuh di kakinya. Ia membantu Juan berdiri dan membawa pergi wanita itu dari sana.

***

Juan tersentak mendapati dirinya berada di sebuah kamar rumah sakit. Saat melihat Haikal kembali bernapas, kesadarannya sebagian menghilang. Ia melihat Haikal menatap seseorang yang terbaring di ranjang kamar itu. Perlahan Juan mendekat ingin melihat lebih jelas sosok yang ditatap lelaki itu. Seorang wanita paruh baya. Tunggu, dia adalah wanita yang Juan temui di toko buku juga cafe waktu itu. Dan, apa ini hanya perasaan Juan saja bahwa wanita tersebut tidak bernapas?

“Dia cantik, kan? Bahkan di usianya yang tidak lagi muda. Juga tanpa polesan seperti ini. Wajah pucat menambah kecantikannya, kan?”  Haikal menyusuri wajah wanita paruh baya itu dengan telunjuknya. Juan mengangguk, mengiyakan.

“Dia, nyokap gue”  Juan tahu tanpa Haikal mengucapkannya. Sesaat melihat wanita paruh baya itu, Juan menyadari anak lelaki juga teman yang ia bicarakan dengan wanita itu adalah Haikal. Rasanya  pertama kali juga untuk yang terakhir kali Juan bertemu, wanita paruh baya ini sangat bersemangat. Jelas wanita ini sangat sehat. Lalu apa yang menyebabkan kematiannya?

“Bunda menderita kanker rahim” Juan tidak bertanya. “Meskipun sakit, Bunda selalu bersemangat. Tiap kali melihatnya, gue bahkan lupa kalau Bunda menderita kanker rahim”  lelaki itu bisa membaca pikiran Juan sepertinya. Ia menjawab pertanyaan Juan yang tidak wanita itu utarakan.

“Iya, gue tahu”  kening Haikal berkerut mendengar ucapan Juan.

***

Hari pemakaman

Saat menapaki bahu jalan beraspal Juan kembali membalikkan tubuhnya menatap Haikal yang  masih berjongkok di samping pusara. Dilihatnya wali kelas mereka juga masih berada di tempat itu. Menurutnya ada yang tidak wajar dengan sikap yang ditunjukkan wali kelasnya itu hari ini. Mulai dari rumah duka, jazad dimasukkan ke liang lahat, sampai sekarang tertimbun dengan setumpuk tanah, air mata Bu Andini terus merembes. Seingatnya, wali kelasnya itu selalu tidak sepaham dengan Haikal. Tapi, air mata itu. Ada hubungan apa sebenarnya antara Bu Andini dengan Bunda Haikal?

Benar bukan apa yang Juan pikirkan, Haikal dan wali kelas mereka tidak pernah sepaham. Lihat, sekarang mereka beradu mulut. Jarak yang terlalu jauh membuat Juan tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan. Yang pasti, Bu Andini berlari pergi meninggalkan pusara itu dengan tangisan yang makin menjadi. Dan, ada apa dengan ekspresi Haikal? Mungkinkah? Juan tidak yakin. Wanita itu jadi ragu untuk melangkah. Memilih meninggalkan tempat itu atau kembali ke pusara untuk memastikan ekspresi Haikal yang baru saja ia lihat.

***

“Belum pulang?”  Haikal mengambil posisi disamping Juan. Beberapa menit berpikir, tidak juga membuat wanita itu menemukan pilihannya. Akhirnya ia berakhir disini, duduk di bahu jalan berjam-jam lamanya. Menunggu Haikal? Wanita ini saja tak tahu apa tujuannya. Juan tidak menjawab pertanyaan lelaki itu. Jelas sekali ia masih berada di sini.

“Soal ucapan lo di rumah sakit kemarin...”

“Iya, gue kenal nyokap lo” Juan menjawab sebelum Haikal menyelesaikan pertanyaannya. 
“Di toko buku”  tambah Juan. Wanita itu meluruskan kakinya yang semula bersila. Kedua tangan ia letakkan ke belakang untuk menopang tubuh bagian atasnya. Haikal diam menunggu Juan selesai bercerita. Mereka tidak saling menatap. Keduanya membuang pandangan lurus ke depan.

“Gue ini punya ‘kebiasaan gila’ saat hujan. Seisi sekolah udah tau itu pasti. Tanpa terkecuali elo. Meskipun itu udah jadi hal yang lumrah buat gue dan kalian, tapi nyatanya kalian masih penasaran sama kebenarannya. Sejujurnya, gue merasa terusik karena rasa  ‘penasaran’ itu. Gue muak sama tatapan kalian. Sebisa mungkin gue menghindari tatapan itu”

Sesuatu menohok hati Haikal. Muak sama tatapan kalian. Apa ibunya juga merasakan hal yang sama?

“Ini bukan trauma, tapi hujan selalu membawa sesuatu yang belum selesai di masa lalu kembali. Gue engga pernah bisa menjelaskan ke orang-orang gimana tepatnya perasaan gue saat sesuatu itu kembali karena mereka engga akan ngerti seberapapun usaha mereka untuk mencoba mengerti”.

 Gue engga pernah bisa menjelaskan ke orang-orang gimana tepatnya perasaan gue saat sesuatu itu kembali karena mereka engga akan ngerti seberapapun usaha mereka untuk mencoba mengerti. Benar, Bunda? Pandangan Haikal sedikit mengabur karena air yang berkumpul di kelopak matanya.

“Sekalipun itu orang terdekat gue, seperti Mikaila. Dia engga akan pernah ngerti”

Iya, Mikaila tidak akan mengerti. Seperti Haikal tidak pernah mengerti bundanya. Meskipun dia anak kandung bundanya. Meskipun darah bunda mengalir di dirinya.

“Di pertemuan pertama, nyokap elo sangat mengerti gue. Gue yakin ini bukan kebetulan ada seseorang yang mengerti gue. Melainkan kita berdua, memiliki ‘masalah’ yang sama, kan?”  Juan menatap Haikal yang memejamkan matanya, gelisah. Tangan lelaki itu mengepal, keningnya berkerut, kedua alisnya menyatu. Ditatap dari sampingpun hidung Haikal tetap terlihat menjulang tinggi. Tunggu, ada sesuatu yang keluar dari kelopak mata lelaki itu. Air? Haikal, menangis? Sungguh?

“Mau pergi ke suatu tempat ?” tawar Juan pada Haikal.

***

Wanita ini meringkuk di kasurnya. Penampilannya berantakan. Masih mengenakan pakaian serba hitam dari pemakaman tadi. Juga masih menangis sesegukan. Perasaan bersalah menyelimutinya. Ia memejamkan matanya mencoba terlelap, sayang otaknya malah memutar kembali kejadian waktu itu.

“Aku mencintaimu, Mas”

“Kamu pasti sudah gila”

“Iya, aku memang gila karenamu. Aku yang menemukanmu lebih dulu, tapi dia yang menikah denganmu. Bahkan dia melahirkan anakmu. Apa kesalahanku?”

“Mencintaiku”

***

Semburat kemerahan membingkai langit sore itu. Matahari seperti akan ditelan lautan. Gelombang air menggoyangkan perahu-perahu yang sengaja diikat dengan tali oleh para nelayan. Satu sosok memandang tidak tertarik dari suatu gubuk. Setumpuk keindahan tidak bisa mengalihkan perhatian dari kesedihannya barang sebentar. Lalu perlu berapa tumpuk untuk menukarnya?  Lelaki itu menerima sebotol air yang disodorkan seseorang.

“Enggak menarik?” Juan mendaratkan bokongnya di ujung gubuk membuat jarak dengan lelaki itu.

“Lo sering kesini?”  Haikal meneguk airnya, mengabaikan pertanyaan Juan.

“Ini yang pertama” wanita itu menarik sudut bibirnya  keatas. Pandangannya ia tumbukkan pada bulatan matahari yang memerah. Semilir angin menerbangkan sejumput rambut hitam sebahunya.

“Engga menarik?”

“Sikap Bu Andini hari ini aneh ya, Kal?” Juan menjawab dengan sebuah pertanyaan. Ia menarik tubuhnya menghadap Haikal, menyelipkan sejumput rambut yang diterbangkan angin ke belakang telinga. Saat tatapan keduanya bertumbukkan, Juan tersenyum simpul “Kapanpun elo berniat membuka diri, gue orang yang siap menyimpannya”

“Kapanpun elo berniat membuka diri, gue orang yang siap menyimpannya” Haikal mengembalikan kalimat yang diucapkan Juan. Lelaki itu membuang pandangannya ke arah semula. Kemana saja asal terbebas dari pesona yang ditebar wanita itu pikir Haikal. Ia mencabik suatu kenyataan yang coba disuarakan oleh hatinya.

“Gue masih belum yakin. ‘Itu’ benar-benar kelam. Gue engga bisa cerita”

“So do I” Haikal menaikkan sebelah alisnya.

“Gue takut elo jadi risih”

“Sama”

“Gue takut elo bocor ke anak yang lain”

“Gue juga”

“Gue benci elo”

“Senang perasaan gue enggak bertepuk sebelah tangan”

Juan mendesis. Kesal. Dia dengan kebaikan hatinya bermaksud menghibur hati lelaki itu yang entah berapa keping hancurnya. Dia dengan kemurahan hatinya meluangkan waktu untuk mendengarkan lelaki itu berkeluh kesah. Tapi si mesin es ini tidak mengetahui cara berterima kasih dengan benar. Apa mencongkel hati manusia dan memakannya dilegalkan dalam Undang-Undang? Tolong katakan “iya”.

Hm, Juan melupakan pertanyaan Apa seseorang meminta kebaikan hati dan kemurahan hatimu, Nak?


Rabu, 20 Januari 2016

Translate