Minggu, 06 Desember 2015

Keyword (bagian 1 )

Jika itu sebuah kesedihan maka sesulit apapun ubahlah menjadi kebahagiaan meski sedikit. Jika itu kebahagiaan, maka berbagilah. Biarkan orang lain merasakannya meski sedikit. Jika tak selalu dapat menjadi sehangat matahari, maka berusahalah untuk menjadi rumah yang kokoh sebagai tempat berlindung saat badai. Bukankah cinta seharusnya seperti itu? atau ada yang lain?
Masa lalu. Kepedihan. Luka. Apa yang salah dengan mereka? Hanya mereka bertiga? atau ada yang lain?

November, 2004

Gadis kecil itu termenung dengan menopang dagunya menggunakan kedua tangan dibalik jendela kaca. Sebenarnya aku sedikit ragu menyebutnya “gadis” kecil, karena ia sama sekali tak terlihat seperti perempuan. Entah siapa yang memintanya memotong rambut macam potongan pria seperti itu. Ada sebuah arloji hitam melingkar di pergelangan tangan kirinya. Untuk gadis berusia 6 tahun, mungkin penampilannya sedikit maskulin. Iya, gadis itu berbeda dari teman-temannya yang lain. Mereka memanjangkan rambutnya, menghiasnya dengan jepit rambut atau bandana, mereka memakai jam tangan berwarna-warni, mereka juga memakai cincin dan anting. Persamaan gadis itu dengan teman-teman perempuannya yang lain hanya pada seragam yang ia kenakan. Mereka menggunakan seragam sekolah dasar, baju putih rok rempel merah dengan dasi dan ikat pinggang.

Gadis itu termenung merasakan aroma tanah yang basah oleh air yang tumpah dari langit.
“Kamu kenapa belum pulang?“  anak laki-laki tambun dengan alis tebal bertanya ragu-ragu. Wajahnya tampak kebingungan memikirkan haruskah ia memberikan senyuman di akhir pertanyaannya atau lebih baik tidak?

“Hujan“  gadis kecil itu menjawab singkat tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari butiran air yang tumpah dari langit. Si anak laki-laki hanya meng-oh-kan, kecewa. Sebenarnya ia mengharapkan jawaban yang lebih dari satu dua kata.

“Aku bawa jas hujan, tapi  cuma satu. Kita pakai berdua, mau?“  anak laki-laki itu mengeluarkan jas hujan berwarna merah muda dari ranselnya. Ia menunggu jawaban.  Tapi gadis kecil hanya menggelengkan kepalanya pertanda ia menolak tawaran anak laki-laki itu. Dan lagi-lagi ia tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari bulir air yang tumpah dari langit. Si anak laki-laki menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Sepertinya ini akan lama reda. Ibumu pasti kesulitan mengendarai sepeda dengan payung di tangannya. Ini aku pinjamkan jas hujanku. Aku pulang duluan yaa, Juan“  anak laki-laki itu meletakkan jas hujannya di atas meja, kemudian pergi. Ia selalu ingat perkataan ibunya, bahwa wanita selalu memiliki hati yang hangat. Tak peduli sedingin apapun ia terlihat di luar. Ia merasa Juan memiliki sisi kehangatan itu. Yang perlu ia lakukan hanya mendekatinya. Menemaninya.

Rupanya cuaca yang diramalkan Nizam tak meleset. Benar saja hujan tak kunjung reda. Entah sudah berapa lama Juan merenung tak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Terdengar derap langkah yang tergesa-gesa di koridor kelas. Tapi Juan tetap tak bergerak dari tempatnya. Jangankan bergerak, mengalihkan pandangannya pun tidak.

“Juan, maaf ibu telat jemput kamu“  ucap seorang wanita berkaos biru langit dengan napas masih terengah ia mencoba untuk tersenyum. Juan terperanjat, bukan karena suara wanita itu yang tiba-tiba melainkan melihat keadaan  ibunya yang basah kuyup. Tunggu, benda yang digenggam tangan kanannya itu, payung, kan? Ia tidak menggunakannya? Ah, dia bukan pemain acrobat yang bisa menggunakan payung saat mengendarai sepeda.  Ada sesuatu yang menohok hatinya yang coba ia abaikan.

“Ini payungnya kamu pegang yaa, biar kamu engga kehujanan. Nanti kepala kamu sakit”  wanita itu tersenyum penuh kehangatan. Damai. Menentramkan. Senyum tulusnya menghangatkan dinginnya hati Juan. Sedikit. Mereka berdua bergegas pulang.

***

“Juan, kamu engga usah payungin ibu. Payungin kepala kamu aja  supaya engga kehujanan“   senyum tulus kembali menghias wajah wanita itu. Juan meninggalkan ibunya di parkiran.
“Juan kamu mau kemana?“  tak ada jawaban dari Juan.

Apa yang ada di pikiran anak itu. Sebegitu besarnyakah kesalahanku sampai ia pergi meninggalkanku disini? ucap ibu Juan dalam hati. Ia benar-benar merutuki dirinya. Ia merasa bahwa ia telah mengecewakan Juan. Ia membuat Juan menunggunya terlalu lama. Ia hendak mengayuh sepedanya,

“Ibu jangan tinggalin Juan“  teriakan Juan menghentikan kaki wanita paruh baya itu untuk mengayuh. Ibunya terperangah melihat helaan nafas Juan yang tak beraturan.
“Aku tadi ke kelas, mau ngambil ini“ Juan menunjukkan jas hujan berwarna merah muda yang diberikan Nizam. Wanita paruh baya itu tersenyum, penuh dengan kehangatan tentunya. Selalu. Kelopak matanya berlinang, ia menahan bulir air matanya agar tidak jatuh. Terharu ia melihat gadis kecilnya yang berubah menjadi (sedikit) lebih hangat. Sedikit demi sedikit semoga aura dinginnya dapat berubah menjadi hangat seutuhnya. Begitu kiranya do’a sang ibu.
Ia tak ingin gadis kecilnya tumbuh dengan hati yang dingin. Ia tak ingin lagi melihat gadis kecilnya kesepian.


***

Juni, 2009 seminggu sebelum kelulusan

“Juan, apa kamu pernah atau sedang merasakan cinta?“  Juan menggeleng ragu-ragu dan bertanya apa Nizam sedang jatuh cinta? anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum hangat menatapnya. Berhasil membuat Juan gugup.
“Pada siapa?” Nizam kembali tersenyum mendengar pertanyaan Juan.

“Kau benar-benar berbeda. Kau bukan lagi Juan yang aku ajak bicara di kelas kosong saat hujan 5 tahun lalu. Tapi aku lebih tertarik pada Juan yang sekarang dibanding lima tahun lalu“  Nizam tertawa dan Juan kembali bertanya kenapa ?
“Yaa siapa yang tahan berbicara pada orang yang menjawab hanya dengan anggukan atau gelengan. Bahkan lebih sering tak mendapat jawaban. Apa kau sedang berbicara pada tembok?“  Ia dihadiahi pelototan oleh Juan. 

Tapi ia hanya tertawa dan melanjutkan,
“Ibuku mengatakan bahwa seseorang yang tak tersentuh seringkali kesepian. Ia juga mengatakan kesepian itu mengerikan. Kau akan selalu merasa sendirian bahkan saat di keramaian kau akan tetap merasa sendirian. Saat itu aku tak mengerti apa maksudnya. Tapi setelah melihatmu aku mengerti. Saat itu, aku tak ingin kau menjadi seseorang yang benar-benar tak tersentuh. Saat itu aku ingin berbagi kebahagiaan, juga…  sedikit cinta denganmu”

“Cinta? Aku tidak tau dengan pasti apa itu cinta“  ungkap Juan, ia menerawang “Apa cinta yang membuat ini selalu berdetak kencang?”  ia menyentuh dadanya dan melanjutkan “Saat ketakutan karena tidak membawa buku PR matematika, ini juga berdetak cepat sekali. Apa aku jatuh cinta pada pak guru? Saat lari sprint ini juga berdetak kencang, apa aku juga jatuh cinta pada Pak Anton? Guru olahraga kita?” Juan berhenti, Nizam masih diam menunggu Juan melanjutkan
“Saat di sampingmu seperti ini juga jantungku berdetak kencang, apa… apa.. ehm.. apa ini jugaa..”  

Nizam memotong perkataan Juan “Kurasa, aku masih terlalu kecil, tidak tau dengan pasti apa itu cinta. Sepertinya ada banyak cinta di dunia ini. Yang aku ketahui sekarang hanya aku mencintai ibuku. Cinta pertamaku. Juga aku mencintai sahabatku, Juan. Juanita Maharani“  Nizam tersenyum, membuat Juan menahan air matanya. Apa ini cinta yang tak berbalas? Cinta pertamanya?

***

Juli, 2014

Selamat datang di tahun  kedua Sekolah Menengah Atas.

“Aaa.. Juan kita sekelas”  teriak gadis bertubuh mungil kegirangan, ia menarik Juan kedalam pelukannya. Mikaila Simatupang, gadis keturunan batak yang lahir di tanah jawa. Mereka bertemu di Sekolah Menengah Pertama. Menghabiskan tiga tahun di kelas yang sama dan lima tahun di sekolah yang sama membuat mereka bersahabat hingga sekarang.
“Key, kita duduk sini aja yak”  Juan menunjuk barisan kedua saat mereka tiba di kelas, Mikaila hanya mengangguk dan duduk di tempat yang ditunjukkan Juan.

“Ju, dia Haikal ya?” Mikaila menunjuk seorang pria dengan dagunya. Juan melihat sekilas pria tersebut dan menjawab dengan tak acuh,
“Yes, he is. Sugarman”  Juan memutar bola matanya, membuat Mikaila terkikik dan menambahkan
“Cerdas, ulet, jago main gitar, punya suara merdu, baik, target perburuan cewe-cewe nomor satu di sekolah kita, jugaaa..”  Mikaila menggantungkan kalimatnya

“Engga. Doyan. Cewe” Juan mengakhiri kalimat Mikaila dengan memberi penekanan ditiap katanya.

Tipe lo banget ya”  bukan pertanyaan. Mikaila terkikik mendapat pelototan tajam dari Juan.
“Menyerahlah. Cinta pertama lo itu enggak akan berhasil”

***

“Oke, jadi kapan kita mulai kerja kelompok ini?” Juan menahan lengan Haikal saat akan keluar kelas. Bukannya menjawab, Haikal hanya menatap lengannya yang dicengkram. Berani sekali, batin Haikal. Juan menyadari hal tersebut akhirnya meminta maaf dan melepaskan lengan Haikal. Ia merutuki nasib buruknya, bagaimana bisa Bu Andini memasangkannya dengan pria sedingin es di kutub sebagai teman kelompoknya. Menurutnya Haikal benar-benar misterius, seperti penjahat. Untuk ukuran seorang lelaki, Haikal terlalu pendiam. Kaku. Dan membosankan. Dia tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada perempuan. Bagaimana bisa gadis-gadis di sekolahnya masih menyebutnya baik dan menyukainya. Apa selera mereka seorang gay?

“Sekarang”  Haikal kembali ke bangkunya dan membuka laptop miliknya. Juan menggerutu mendapat jawaban seperti itu dari Haikal tapi ia tetap mengekori Haikal dan membuka buku catatannya. Mereka mulai berdiskusi dan menyelesaikan tugasnya.

Luar biasa. Haikal benar-benar menakjubkan, pikir Juan. Bagaimana bisa laki-laki itu terus fokus pada pekerjaannya. Juan memiringkan kepalanya menatap wajah Haikal lekat-lekat. Ia mengamati wajah Haikal lamat-lamat. Haikal mencoba tidak mengacuhkan sikap Juan tapi akhirnnya ia merasa tergangu dengan apa yang Juan lakukan. Ia menatap Juan tajam, tapi Juan sama sekali tidak merubah posisi kepalanya membuat Haikal bertambah risih dan kesal. Ia membentak Juan dan bertanya apa yang sebenarnya Juan lakukan. Bukannya menjawab, Juan dengan polosnya mengajukan pertanyaan pada Haikal “Lo, napas, kan?”  ia menggerakkan tangannya kearah hidung Haikal. Memastikan Haikal benar-benar bernapas. Membuat tingkat kekesalan Haikal bertambah, ia menampik tangan Juan terlalu keras hinga mengenai meja.

Juan mengerang kesakitan “Aarrghh..  brengsek. Dasarr babb..” Haikal cepat menutup mulut Juan. Ia tahu Juan akan memakinya. Juan membalaskan dendam dengan menggigit tangan Haikal yang ada di mulutnya. Sasaran empuk. Mereka berakhir dengan saling menggigit. Astaga.

***

Matahari mulai turun, hari menjelang malam tapi tugas mereka belum juga selesai. Mata Juan mulai kelelahan membaca artikel di internet. Ia mengedip-ngedipkan matanya juga meregangkan tubuhnya. Haikal melihat arlojinya, “Kita lanjutin besok” ia kemudian merapikan barang-barangnya dan keluar dari kelas. Juan melongo, bagaimana bisa Haikal meninggalkannya begitu saja. Hari sudah malam, ia perempuan, dan ditinggalkan di dalam kelas yang kosong sendirian. Tak dapat dipercaya. Benar-benar menjengkelkan, pikirnya. Ia kemudian merapikan barang-barangnya dan keluar dari kelas.

“Lamban banget” Juan terlonjak, ia memegangi dada sebelah kiri merasakan jantungnya yang berdetak kencang. Ia kesal tapi tetap mengikuti Haikal yang berjalan di depan.

“Naik” Haikal memakai helmnya.

“Biar gue naik angkot aja, Kal. Ngerepotin”

“Rumah kita satu arah. Bensin gue juga enggak akan berkurang lebih banyak dari biasanya cuma karena ngebonceng elo yang notabenenya kurus kerempeng” Juan benar-benar tidak percaya Haikal berbicara sepanjang  itu padanya. Terlebih saat akan naik ke motor Haikal menurunkan pijakannya untuk mempermudah Juan naik. Namun saat Juan akan naik, Haikal menjalankan motornya hingga Juan terjatuh.
“Hei, idiot! Gue belum naik. Gimana bisa elo jalan gitu aja? Dasar bego!”  Juan berteriak, terus memaki Haikal yang telah pergi menjauh.

***

Sesampainya di rumah ia masih terus memaki Haikal yang menurutnya tidak punya perasaan. Bagaimana bisa dia tidak menyadari jika Juan belum naik ke motornya. Ia memang kurus tapi apa Haikal pikir Juan seringan itu hingga dia tidak menyadari jika dirinya tidak membonceng siapapun. Ia merebahkan tubuhnya dikasur dengan posisi tengkurap, bokongnya benar-benar terasa sakit. Ia kelelahan, perlahan Juan memejamkan matanya dan mengingat kejadian di depan rumahnya.

***
Juan turun dari angkutan umum dan berjalan kerumah dengan memegangi bokong  yang masih terasa sakit. Tentu saja ia masih memaki Haikal sepanjang jalan. Sesampainya di rumah ia melihat seseorang berdiri di depan gerbang rumahnya dan menatap ke arahnya.

“Maaf. Gue pikir lo udah naik. Sampe sini gue baru sadar elo ketinggalan. Terus gue balik lagi ke sekolah tapi lo udah enggak ada”  Haikal menggaruk tengkuknya melihat Juan tak bereaksi dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. “Maaf” ucap Haikal lirih, lalu pergi dari sana.

***
Juan membuka matanya kemudian memiringkan tubuhnya.
“Kenapa mata bocah itu jadi terasa hangat”  ia sejenak memejamkan matanya, kemudian pergi ke kamar mandi. Tatapan Haikal menurunkan kinerja otaknya. Ia bahkan melupakan pertanyaan, darimana Haikal mengetahui alamat rumahnya?

***

Paginya, Juan berjalan perlahan di koridor kelas, merasakan bokong yang masih terasa nyeri. Mikaila melihat Juan yang berjalan seperti robot habis di sunat kemudian berlari kearah Juan
“Aaaaaaaaa” Juan bersandar ke dinding dan memegangi bokongnya yang di tepuk keras. 
“Astaga jalang satu ini”  ia memukul-mukul badan Mikaila.

“Bisul lo pecah yaa. Kebanyakan makan telur sih” tawa Mikaila meledak sambil merangkul Juan berjalan ke kelas.

“Ini ulah si muka rata tau” gerutu Juan. 
Mikaila menanggapi dengan santai “Haikal ?” juan mengiyakan dan menceritakan kejadian kemarin. Mikaila tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Sesampainya di kelas Juan melirik Haikal dengan ekor mata dan mendapati lelaki itu sedang menatapnya.

Saat bel masuk berbunyi anak-anak mulai keluar dari kelas karena jam pelajaran pertama adalah olah raga.
“Masih sakit?”  Haikal melirik sekilas tangan Juan yang memegangi bokongnya saat akan keluar kelas. Pertanyaannya hanya dijawab dengan anggukan oleh Juan tanpa menoleh kearahnya dan berjalan pergi. Haikal menghembuskan napasnya pelan. Ia mengikuti Juan dari belakang yang berjalan perlahan.

Sesampainya di lapangan mereka melakukan pemanasan dengan membentuk lingkaran. Haikal mengambil posisi di samping Juan.
“Maaf”  Juan menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan permintaan maaf yang sangat sederhana dari Haikal yang juga tanpa melihat kearahnya. Apa dia benar-benar merasa bersalah?
“Elo bikin kesalahan apa sama udara? Hebat, jadi lo bisa bahasa udara yaa. Ah, gue baru tahu udara bisa ngomong” Juan tertawa. Sindiran yang cerdas, pikirnya.
“Udah gue maafin. Jadi, berhenti merasa bersalah dengan sikap yang menunjukkan ‘elo sangat merasa bersalah’ , brengsek” Juan melanjutkan sindirannya. Sementara Haikal hanya menggelengkan kepalanya. Ia berpikir bagaimana mungkin ada wanita dengan mulut penuh ‘sampah’ seperti itu di dunia ini.

Selesai pemanasan mereka bermain futsal karena guru olah raga tidak datang hari ini. Siswa perempuan yang tidak tertarik akhirnya hanya kembali ke kelas, kecuali Mikaila dan Juan. Mereka berdua duduk di bangku penonton bukan untuk melihat pertandingan tapi untuk bercerita. Juan mendengarkan cerita Mikaila yang sangat merindukan Bagas, teman mereka di Sekolah Menengah Pertama sekaligus cinta pertama Mikaila. Bagas merupakan siswa yang memiliki wajah tampan. Tak perlu dipertanyakan lagi, sudah pasti siswa perempuan di sekolah mereka sangat tergila-gila padanya. Sayangnya, otak Bagas tidak mengikuti nasib baik wajahnya. Selalu mendapat nilai terendah di kelas, bukan hal yang tidak wajar baginya. Jadilah wali kelas meminta Mikaila untuk membantunya. Mikaila yang cerdas, satu-satunya gadis yang tidak tertarik pada Bagas. Ia bersedia membantu Bagas, melakukan private setiap jam istirahat. Karena banyak waktu yang mereka habiskan berdua, akhirnya tumbuh rasa cinta Bagas pada Mikaila. Ia berusaha mengambil hati Mikaila, namun  usahanya benar-benar tidak berhasil. Mikaila baru menyadari ketertarikannya saat Bagas menyerah padanya. Terlambat. Waktu beberapa tahun tidak bisa membantu Mikaila melupakan cinta pertamanya itu. Lihatlah, seseorang yang menasihati Juan untuk menyerah pada cinta pertama.

Saat Mikaila terus bercerita Juan melihat Haikal yang tertawa lepas karena mencetak angka untuk timnya. Bahkan ia melakukan selebrasi dengan menggoyangkan bokongnya. Hah, rupanya dia benar-benar manusia, ungkapnya dalam hati. Mikaila menegur Juan yang tidak mendengarkannya bercerita tapi asik memandang wajah tampan Haikal. Mikaila juga bertanya apa Juan sekarang menaruh perhatian pada Haikal.
Juan hanya tertawa menanggapinya. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin Mikaila memiliki pemikiran seperti itu. Haikal benar-benar bukan tipenya.

“Hari minggu jam 9” Juan membalikkan badannya, ia terkejut melihat Haikal sudah berada tepat di belakangnya.
“Hari minggu jam 9?” Juan mengerutkan keningnya mendengar itu, kemudian bertanya “Lo ngajak gue kencan? Sorry gue enggak berkencan” Juan mengibaskan tangannya di depan Haikal. Kini giliran Haikal yang tak percaya “Gimana bisa lo sepercaya diri itu? Tugas kelompok belum selesai!” Haikal berseru di depan wajah Juan dan meninggalkannya begitu saja.

“Aish, bocah sialan itu”

***

Juan sampai di sebuah cafe, ia mencari-cari keberadaan seseorang.
“Disini, kasar” Haikal yang muncul tiba-tiba dari belakang mengejutkan Juan.
“Lama banget sih” kalimat pertama yang keluar dari mulut Haikal setelah mereka berdua duduk berdampingan.

“Pertama, gimana bisa lo manggil gue ‘kasar’ seperti panggilan spesial yang seakan-akan menunjukkan kita begitu dekat? Kedua, gimana bisa lo bilang lama sementara lo sendiri juga baru datang. Ketiga, gue udah ada di sekolah karena memang awalnya kita sepakat ngerjain tugas di sana dan tiba-tiba lo chat gue buat ngerjain di cafe dan menurut gue itu berarti kesalahan elo” ungkap Juan dengan satu tarikan napas. Haikal membuka mulutnya hendak menanggapi,
“Satu lagi, darimana lo dapet nomor gue ?” pertanyaan Juan membuat Haikal menutup mulutnya kembali.

“Gue enggak akan menjawab pertanyaan borongan lo itu dan menjelaskannya panjang lebar karena khawatir orang lain yang melihat salah paham dan menganggap kita begitu dekat” Juan akan menanggapi tapi Haikal segera memakai headphone dan membuka laptop serta buku catatan miliknya. Akhirnya Juan hanya mendengus kesal dan membuka buku catatannya.

Berjam-jam mereka mengerjakan tugas di cafe. Juan menatap keluar jendela.
“Hujan” ucap Juan lirih tapi masih terdengar oleh Haikal. Ia melirik Juan dari ekor matanya. Juan mengingat kejadian sepuluh tahun yang lalu. Saat hujan ia menatap keluar jendela seperti ini dan Nizam memberinya jas hujan. Hujan selalu membawa kenangan cinta pertamanya kembali. Ia mengusap bulir air di ujung matanya. Haikal melihat Juan yang menahan tangisnya berusaha tak perduli. Kali ini jemari Juan terulur ke jendela mengikuti bulir air yang jatuh, ia benar-benar menangis kali ini. Ia merindukan sosok Nizam.

Haikal kesal dan menggebrak meja “What a drama. Dimana sutradara juga kameranya, huh? Dimana? Dimana?” ia membereskan barangnya dan pergi dari cafe. Sementara Juan masih dengan  kesedihannya tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Ia tak mengacuhkan orang-orang seisi cafe yang menatapnya karena teriakan Haikal. Ia juga membiarkan bulir air mata turun melewati pipinya.

***

Haikal mengendarai sepeda motornya di tengah hujan. Sesampainya di rumah ia melihat seorang wanita juga sedang menatap keluar jendela dan menahan tangisnya. Ia kesal berlari masuk ke kamar dan menutup pintu dengan sengaja membantingnya.
Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya kasar
“Perempuan itu mirip dengannya”.

***

Keesokan paginya Haikal masuk ke kelas dan mendapati bangku Juan masih kosong. Ia duduk di bangkunya tapi terus menatap bangku Juan, sampai bel berbunyi bangku Juan tetap kosong. Ditengah jam pelajaran Haikal masih memikirkan kejadian kemarin. Ia tak enak hati karena ulahnya  Juan menjadi pusat perhatian di cafe juga meninggalkannya sendirian disana. Selesai pelajaran ia mendekati Mikaila menanyakan keberadaan Juan. Bukannya mendapat jawaban, ia malah mendapat tatapan curiga dari Mikaila. Haikal hanya mendengus dan pergi meninggalkan Mikaila.

Seharian Mikaila terlihat kesepian. Haikal juga merasakan hal yang sama. Ia merindukan umpatan yang keluar dari mulut Juan. Ia penasaran apa alasan yang membuat Juan menangis saat hujan. Apa dia takut terkena flu jika hujan? Ah, tidak mungkin. Bagaimana bisa orang kasar seperti dia takut dengan flu. Atau mungkin dia kehilangan adiknya saat hujan? Ayahnya? Ibunya? Neneknya? Kakeknya? Itu lebih tidak mungkin, bodoh. Dia memiliki keluarga yang lengkap, kan? Ah, apa-apaan ini. Haikal mengusap wajahnya kasar.

***

Sudah seminggu Haikal menatap bangku Juan yang masih juga kosong. Ia benar-benar khawatir dengan keadaannya. Dia sempat beberapa kali mengirim pesan pada Juan tapi tak satupun mendapat balasan dari gadis itu. Dia juga terus menanyakan keadaan Juan pada Mikaila, tapi Mikaila selalu menghindar. Ia curiga Mikaila menutupi sesuatu tentang Juan. Karena setiap kali guru ataupun teman yang lain bertanya tentang alasan Juan tidak masuk , Mikaila menjawabnya dengan terbata-bata dan salah tingkah seperti hari ini.

“Juan tidak masuk lagi? Kemana sebenarnya dia, Key?” pertanyaan Bu Andini membuat seisi kelas menatap Mikaila yang terlihat kebingungan mencari alasan. Mikaila menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Apa dia sakit? Baiklah, saya akan menjenguknya bersaa…”

“Neneknya meninggal, Bu”  Mikaila gelagapan, ia memotong ucapan Bu Andini. Tapi jawaban Mikaila membuat Bu Andini curiga. Ia mengingatkan Mikaila bahwa satu-satunya nenek Juan sudah meninggal tahun lalu. Satu sekolah ini tau kejadian itu karena orang tuanya datang untuk memberitahukan kabar tersebut kepada Juan saat upacara bendera tengah berlangsung. Mikaila merutuki kegugupannya yang membuat ia tidak bisa berpikir seperti orang bodoh. Sementara Haikal mengangguk-anggukkan kepalanya, oh neneknya sudah meninggal. Hmm, mungkin alasan dia bersedih adalah neneknya. Batin Haikal.

“Adik neneknya, Bu. Saya mengatakan itu tadi” sanggah Mikaila. Tapi Bu Andini bersikeras ia mendengar Mikaila tidak mengatakan adik neneknya melainkan neneknya. Siswa yang lain juga setuju dengan Bu Andini.

“Juan selalu seperti ini saat hujan. Ini aneh. Mencurigakan” ungkap salah satu siswa perempuan berkacamata dan diikuti anggukan dari temannya yang lain. Kelas mulai sedikit gaduh, kasak-kusuk membicarakan keganjilan dari hidup Juan.
Mikaila kali ini benar-benar tidak dapat menghindar lagi, semua orang memojokkannya. Ia melihat yang lain semakin penasaran pada alasan Juan yang tidak masuk. Ini jelas sekedar penasaran bukan empati. Mereka semua menjijikan, batinnya.

Saat Mikaila akan membuka mulut, terdengar Haikal berkata “Dia bilang adik neneknya meninggal. Entah itu adik neneknya ataupun neneknya yang meninggal bukankah seharusnya kalian tetap bersimpati jika kalian merasa masih manusia? Kenapa membuat hal  kecil menjadi besar?”

“Saya wali kelas disini. Bukankah saya perlu tahu kemana siswa saya pergi selama seminggu? Jika ada sesuatu yang salah pada siswa saya, apa saya tidak perlu membantunya?”  Haikal menanggapi Bu Andini dengan tersenyum meremehkan dan tatapan tak terbaca.

“Membantu? Sebelum itu, bantu dirimu sendiri” suara hati Haikal. Akhirnya Bu Andini memulai pelajarannya meskipun ia terlihat masih kesal pada Haikal yang terlihat jelas sekali meremehkan ucapannya. Dia merasa benar, sebagai wali kelas dia harus mengetahui apa yang siswanya alami hingga hal tersebut mengganggunya belajar di sekolah. Bagaimana bisa ia membiarkannya saja. Dia ini seorang guru. Kesalnya dalam hati. 

***

Seorang wanita memasuki toko buku. Ia menuju rak penyimpanan novel dan mencari-cari sesuatu. Setelah mengelilingi rak ia menemukan novel yang ia cari. Saat akan mengambilnya ada sebuah tangan yang juga mengambilnya. Tangan mereka berdua sama-sama memegang novel tersebut. Mereka bertemu pandang. Juan yang baru saja memegang novel  tersebut melepaskan tangannya, ia menganggukan kepalanya sopan mempersilahkan wanita itu memiliki novelnya. Wanita itu membalas senyumnya. Kemudian Juan mengambil novel lain dengan judul yang sama. Ia berjalan menuju kasir. Setelah membayar ia pergi ke cafe yang ada di bawah toko buku tersebut. Ia memesan ice coffe namun saat akan membayar ia kehilangan dompetnya. Ia sibuk mencari dompetnya di tas.
“Apa kamu mencari ini?” wanita yang ada di toko buku tadi menyerahkan dompetnya. Juan mengucapkan terima kasih karena wanita itu telah menemukannya. Ia berniat mentraktir  secangkir kopi sebagai ucapan terima kasih dan wanita itu dengan senang hati menerima tawaran Juan.

Mereka sekarang duduk berdua.
“Saya pikir di cuaca yang dingin seperti ini harusnya kita memesan sesuatu yang hangat, bukan ?” wanita itu mulai membuka percakapan, matanya melirik ice coffe. Juan terkekeh, ia bergurau bahwa dirinya anti mainstream yang membuat wanita itu tersenyum.

Cuaca diluar sangat gelap, perlahan rintik hujan mulai turun. 
“Seragam yang kamu pakai menunjukkan bahwa kamu seorang pelajar. Bukankah di jam seperti ini seorang pelajar harusnya pergi ke sekolah bukan ke toko buku?”  wanita itu menyesap kopinya. Ia menatap Juan yang tidak menjawab pertanyaannya dan memperhatikan Juan yang termenung sambil mengaduk ice coffe nya. Juan kelihatan enggan menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu akhirnya meminta maaf pada Juan. Karena merasa tak enak hati, ia juga menyarankan jika Juan merasa terganggu karena ini pertama kalinya mereka bertemu maka Juan tidak perlu menjawab pertanyaan tersebut. Juan hanya tersenyum dan mengatakan tak apa.

“Apa kamu menyukai hujan?” wanita itu kembali bertanya, matanya menatap ke luar jendela. Juan kembali terdiam, lagi-lagi membuat wanita itu tak enak hati yang kembali membuatnya meminta maaf. 
“Ini menakjubkan bukan, pertama kalinya kau bertemu seseorang dan dia berulang kali mengajukan pertanyaan yang tidak kau sukai”

“Kupikir permintaan maaf itu selalu berdampingan dengan sesuatu. Seperti cake misalnya” Juan menaik-turunkan kedua alisnya membuat wanita tersebut terkekeh. Wanita itu kemudian pergi ke counter untuk memesan cake. Sekembalinya ia mengatakan bahwa dia pikir Juan akan mencegahnya karena Juan hanya bercanda mengatakan hal itu, tapi Juan tidak menahannya sedikit pun. Juan tertawa dan berkata bahwa dia memang selalu berkata serius.

“Ini pertama kalinya saya bisa tersenyum saat hujan turun” mata wanita itu menerawang ke luar jendela. Juan tak bergeming. Rasanya ini juga pertama kali baginya. Ia menyusuri pinggiran gelas dengan jarinya.

Wanita itu mengerjapkan matanya, ia tersadar. Apa yang baru saja ia katakan, batinnya. Ia terkekeh, “Maaf, kamu bisa melupakan apa yang saya katakan sebelumnya”. Juan menanggapinya dengan senyum simpul.
“Saya pikir kita akan berakhir di post keamanan bukan disini”

“Kenapa? Karena kita ngambil buku yang sama dan akhirnya jambak-jambakan rambut?” wanita itu menjawab pertanyaan Juan dengan sebuah anggukan.
“Drama banget, kan?”. Mendengar ucapan wanita itu Juan teringat dengan kelakuan Haikal tempo hari. Jika ia tidak sedang dalam keadaan ‘itu’ mungkin ia sudah tertawa terbahak-bahak mendengar Haikal yang menanyakan keberadaan kamera. Apa dia pikir mereka sedang dalam sebuah acara setting-an yang sedang popular itu. Ada-ada saja Haikal ini. Juan terkikik mengingatnya.

“Kenapa?” wanita itu membawa kesadaran Juan kembali.

“Tante bilang drama, saya jadi inget teman saya. Waktu hujan, saya engga sengaja nangis. Saya kira dia bakal nanya ‘kenapa?’, taunya dia malah bilang ‘drama’ , begitu. Abis itu dia malah ninggalin saya. Ajaib banget, kan”  Juan terkekeh menceritakannya.

“Saya punya anak lelaki seusia kamu. Dia juga di sekolah yang sama dengan kamu. Dan, kelakuan dia juga mirip banget sama teman yang kamu ceritain itu. Dia memang enggak suka sih ngeliat orang nangis saat hujan. Atau jangan-jangan itu memang dia. Karena sepertinya cuma anak saya yang punya keanehan itu”  wanita itu ikut terkekeh saat menceritakan anaknya

Juan membelalakkan matanya, “Tante tahu sekolah saya? Darimana?”

“Seragam kamu”  wanita itu menunjuk seragam yang Juan kenakan. Ia terbahak melihat Juan menepuk dahinya. Juan memasang tampang, saya bodoh, yaa?. Wanita itu menggeleng, menjawab pertanyaan Juan yang tak tersirat itu. 
“Kamu tidak pergi ke sekolah karena hujan?” wanita itu kembali mengulang pertanyaan yang pernah ia lontarkan. Ia sedikit ragu sebenarnya.

Kali ini Juan menjawabnya. Ia mengangguk.
“Kamu alergi hujan?” wanita itu kembali bertanya setengah bercanda.

Juan kembali menganggukkan kepalanya, “Otak saya mendadak berhenti berfungsi saat hujan. Saya akan terlihat bodoh”

“Hm.. I see. Sekarang saya memaklumi soal pertanyaan kamu sebelumnya” wanita itu menggoda Juan. Ia terbahak melihat Juan yang cemberut berpura-pura kesal.

Bagaimana bisa anak perempuan ini membuatnya terus tersenyum dan terbahak saat hujan turun di pertemuan pertama mereka.

Bagaimana bisa wanita ini membuatnya terus tersenyum dan terbahak saat hujan turun di pertemuan pertama mereka.

***

Haikal datang pagi sekali ke sekolah. Ia berencana membuat Mikaila membuka mulutnya soal alasan Juan yang belum juga masuk. Ia menebak hari ini Mikaila pasti akan datang lebih awal karena tugas piketnya. Tak beberapa lama ia mendengar derap langkah seseorang, perlahan Haikal bersembunyi di balik pintu. Ia tahu Mikaila akan lari jika melihatnya berada di kelas itu. Derap langkah itu semakin mendekat, Haikal bersiap menangkap Mikaila. Pintu kelas dibuka dari luar, Haikal segera menahan lengan milik sosok yang masuk ke dalam kelas “Sekarang lo enggak bisa kabur!” ia menghentakkan lengan itu hingga membuat sosok yang ia tahan lengannya berbalik menghadapnya. Sayangnya ia terlalu kuat mengeluarkan tenaga membuat mereka tak berjarak.

“Ck, kasar banget” Juan berdecak saat mengetahui lengannya yang ditarik Haikal. Laki-laki itu diam seribu bahasa saat mengetahui pemilik lengan yang ditahannya ternyata seseorang yang akan ia cari tahu kabarnya.  Ia menatap lekat Juan. Dadanya bergemuruh. Sesuatu yang ia abaikan.

“Seseorang berkata tanpa berkaca, lucu sekali”  Haikal tersadar dan melepaskan tangannya dari lengan Juan. Ia berjalan keluar melewati Juan, membuat Juan kembali memakinya.  Saat Juan tak dapat melihat wajahnya, Haikal tersenyum simpul. Melegakan mendengar kata-kata kasarnya. Rupanya dia baik-baik saja, batin Haikal.

Mikaila melihat Haikal yang berjalan keluar kelas menghampirinya, ia segera membalikkan badan untuk menyelamatkan diri.
“Dia udah balik” Haikal sedikit berteriak, membuat Mikaila menghentikan usahanya untuk kabur. Ia membalikkan badan, keningnya berkerut. Haikal memutar bola matanya menangkap ketidak mengertian Mikaila pada kalimatnya.
“Sekutu elo” Haikal melanjutkan. Sepersekian detik kemudian Mikaila mengerti siapa yang dimaksud “dia” oleh Haikal. Ia tersenyum dan berlari ke tujuan awalnya. Kelas.

Juan yang sedang menghapus papan tulis terkesiap melihat sosok Mikaila yang berlari kearahnya dengan napas terengah-engah. Mikaila memeluknya erat sekali seakan baru menemukan kembarannya yang hilang  bertahun-tahun.
Juan memukul kepala Mikaila “Jangan peluk gue. Gue bukan Bagas, dude. Jadi lepasin tangan bau kencur lo itu dari tubuh harum gue”

Mikaila tidak menghiraukan perkataan Juan, ia semakin mengerahkan seluruh tenaganya memeluk erat Juan “Iya, elo memang bukan Bagas. Lagi pula ini bukan sebuah pelukan”.
Juan mencibir “Lalu apa ini disebut seekor monyet yang sedang  bergelayut di sebuah ranting pohon?”

Mikaila menggelengkan kepalanya “Ini usaha gue untuk bantu menahan seorang pasien rumah sakit jiwa yang akan melarikan diri”. Mikaila terkekeh, ia menghapus kristal bening di sudut matanya dan melepas pelukannya. Juan tersenyum, ia meyakinkan Mikaila bahwa dia tidak akan melarikan diri seperti sebelumnya lagi karena ia akan menghadapinya bersama Mikaila. Dua sahabat karib itu akhirnya saling melempar senyum.
Haikal pun tersenyum menikmati kejadian yang baru saja dilihatnya dari kaca jendela. Ia memutuskan pergi dari sana memberi waktu berdua bagi sahabat karib tersebut.

“Elo enggak pergi ke sekolah, elo juga enggak ada di rumah. Jadi elo sembunyi dimana ?”  Mikaila bertanya karena beberapa kali dia mengunjungi rumahnya, ia tidak mendapati keberadaannya.
Juan menyapu sampahnya ke serokan dan membuangnya ke tempat sampah “Kemanapun. Tempat selain rumah dan sekolah”. Mikaila menatap prihatin sahabatnya. Ia benar-benar membenci cinta pertama sahabatnya itu. Ini semua karena cinta pertama konyolnya. Dia salah satu penyebab dari trauma itu. Juan hanya membalas tatapan prihatin dari Mikaila dengan tertawa geli.

“Berhenti menyalahkannya. Ini bukan kesalahannnya” seakan Juan dapat membaca pikiran Mikaila saat ini. Mikaila memutar bola mata dan mencibir Juan yang selalu dapat membaca pikirannya juga kalimat yang selalu dikatakan Juan, ini bukan kesalahannya. Jelas sekali bahwa memang pria itu penyebabnya. Juan bukan tipe wanita yang berpikir positif pada setiap orang tapi dia selalu berpikir positif pada sosok cinta pertamanya itu membuat Mikaila jengah.

“Baiklah ini bukan kesalahannya. Seperti janji lo, jangan melarikan diri lagi. Gue bukan pembual yang bisa menipu semua orang tentang ‘kebiasaan gila lo’ , ngerti?” Mikaila menegaskan. Juan terkekeh, ia menganggukkan kepala dan mengacungkan ibu jarinya tanda mengerti.

Beberapa menit kemudian siswa lain mulai berdatangan disusul Bu Andini, mereka terkejut melihat sosok Juan. Gadis itu terlihat tidak nyaman ditatap oleh belasan pasang mata. Mereka seperti patung, tidak ada yang bergerak dari tempatnya untuk sepersekian detik. Haikal bersiul, ia berjalan ditengah-tengah dengan santainya membuat mereka tersadar dan duduk di tempatnya masing-masing.
“Juan, kenapa kamu absen seminggu ini?” Juan mencibir mendengar kalimat pembuka pelajaran Bu Andini yang membuat seisi kelas menatapnya. Lagi. Jelas sekali mereka sangat tertarik mengetahui masalah ini.  Ia memutar bola mata juga menahan emosinya yang siap meledak “Mikaila sudah mengatakannya pada kalian”. Mikaila menahan napas mendengar apa yang diucapkan sahabatnya. Mulut gadis ini seperti bensin, batinnya. 

Guru wanita itu tidak dapat menyembunyikan wajah kesalnya mendengar ucapan Juan “Apa kamu tidak bisa menganggap saya sebagai orang tuamu selama di sekolah?”

Juan membuka mulutnya bersiap menimpali tapi dipotong seseorang “Apa saya berada di sini hanya untuk mendengar perdebatan kalian? Berhentilah. Saya tidak berminat mendengarnya”
Ucapan Haikal membuat Bu Andini geram.

“Bahas masalah ini di ruang konseling setelah pelajaran selesai” kalimat final Haikal berhasil menutup mulut Bu Andini yang akan mengatakan sesuatu. Akhirnya Bu Andini memulai pelajaran. Juan menatap Haikal dengan kesal. Ia tidak menyetujui ide Haikal. Bagaimanapun itu tidak membantunya keluar dari masalah. Nyatanya ia tetap harus menjelaskan alasannya pada Bu Andini.

“Dasar hidung babi. Otak alien. Mulut mercon” Juan menggumamkan makiannnya untuk Haikal. Mikaila menyikut lengan Juan, ia berbisik “Menurut gue, Haikal mulai memperhatikan elo. Bukan cuma kali ini dia membela elo, kemarin dia melakukan itu juga”. 
Juan menggerutu jika Haikal melakukan itu bukan karena ingin membantunya melainkan dia merasa masalah ini mengganggu kegiatan belajarnya. Jika Haikal berniat membantunya, lelaki itu tidak mungkin memberi ide gila pada Bu Andini untuk membicarakannya di ruang konseling. Itu membuatnya semakin terjepit. Kali ini Juan mungkin tidak dapat berkelit lagi karena pastinya dia tidak dapat mengalihkan perhatian Bu Andini darinya jika hanya berbicara berdua di sebuah ruangan tertutup seperti itu.

***

Haikal berbaring di bangku taman belakang sekolah. Matanya terpejam dengan earphone yang menggantung di daun telinganya. Ia memegang kepalanya yang dilempari kerikil oleh seseorang, tapi dia tidak menemukan kehadiran seseorang di sana selain dirinya. Ia memutuskan kembali memejamkan matanya. Tak beberapa lama kepalanya lagi-lagi terkena kerikil yang dilempar seseorang.

Juan bersembunyi dibalik batu besar. Ia terkikik melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan Haikal. Juan memungut kerikil yang ada di dekat kakinya, ia bersiap melempari Haikal dengan benda mati itu namun bangku taman itu kosong. Saat ia mencari sosok Haikal, seseorang menyiramnya dengan air dari belakang hingga seragamnya basah. Ia membalikkan badannya tapi tidak bisa mendekati Haikal karena lelaki itu menyemprotkan air dari slang untuk menyiram tanaman tepat ke wajahnya. Haikal tertawa melihat Juan yang ingin memakinya tapi tidak bisa karena sibuk menghindari air yang ia semprotkan.

“Manusia hanya memiliki satu hati. Lo pasti sudah menjualnya” ucap Juan. Mereka duduk berdua di bangku taman sekarang. Juan mengusap wajah juga memeras rambutnya agar kering. Haikal mengamati kegiatan yang Juan lakukan itu. Ia sama sekali tidak berniat membantu Juan mengeringkan rambutnya juga memberikan jaketnya. Juan menaikkan sebelah alisnya saat melihat Haikal yang sedang menatapnya. Haikal tidak mengatakan apapun, juga tidak mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Juan mendengus melihatnya “Gue rasa elo terbentuk dari elemen es. Kaku. Beku. Dingin”. Haikal masih menatapnya tanpa berkata apapun. Juan tidak tahan, ia berdiri dan hendak pergi namun tertahan mendengar pertanyaan Haikal “Gimana Bu Andini?”.

Juan kembali duduk “Apa lo enggak bisa bertanya dengan jelas? Elo bertanya keadaan Bu Andini atau lo bertanya soal gue yang dipanggil Bu Andini ke ruang konseling? Tapi menurut gue lo bukan bertanya keadaan Bu Andini karena jelas lo liat dia baik-baik aja pagi ini. Gue belum mengatakan apapun karena Bu Andini membatalkan pertemuan kita. Dia minta maaf karena kakaknya sakit dan dia harus per...”  Juan menjelaskan panjang lebar namun Haikal berlari pergi begitu saja dari hadapannya membuat Juan menghentikan ucapannya. Juan berteriak memaki Haikal karena lelaki itu selalu saja meninggalkannya sendirian seperti ini. Dan satu lagi, kenapa bocah itu memakai jaket di cuaca sepanas ini?

***

“Bunda, kita pergi ke rumah sakit”  Haikal masuk ke kamar ibunya. “Sekarang”  tambahnya. Ia memasukkan beberapa potong pakaian ibunya kedalam sebuah tas. Ia menarik tangan ibunya agar segera pergi.

“Bunda baik-baik saja. Berhentilah mengkhawatirkan bunda seperti itu, Kal”  wanita itu menahan pergelangan tangan anaknya. Ia berusaha meyakinkan Haikal bahwa dirinya dalam kondisi yang sehat tidak merasakan sakit sedikitpun. Haikal menatap kedalam mata wanita itu mencoba mencari kebohongan di sana, tapi ia tidak menemukannya. Ibunya baik-baik saja sekarang ini. Haikal menyerah, ibunya tersenyum senang.

“Bunda memang kesakitan beberapa jam yang lalu, tapi sekarang bunda baik-baik saja berkat tantemu” ucap ibu Haikal, ia tersenyum kearah wanita yang berdiri kaku di samping ranjangnya semenjak kedatangan Haikal. Sejak melangkahkan kaki ke dalam kamar ibunya sebenarnya dia telah menyadari kehadiran wanita itu. Ia juga menangkap sekilas ekspresi keterkejutan wanita itu saat melihat Haikal masuk ke dalam kamar ibunya.

“Terima kasih, Andini”  ibu Haikal tersenyum tulus. Sebaliknya, Haikal tidak berekspresi menatap Andini.
Haikal meminta ibunya beristirahat. Ia membaringkan ibunya di kasur, dan menyelimutinya. Andini  sendiri berpamitan pulang karena khawatir mengganggu istirahat kakaknya.
Haikal mengusap lembut rambut ibunya yang mulai memutih, ibunya hanya tersenyum dan memejamkan matanya. Saat yakin ibunya telah terlelap, Haikal berjalan ke meja rias untuk mengambil sesuatu. Ia mengecat hitam rambut ibunya. Bertahanlah setidaknya  sampai wanita itu berani mengakui kesalahannya pada bunda, batin Haikal.

***

Mikaila memberikan semangkuk ice cream pada Juan. Ia berada di kamar Mikaila sekarang. Dari taman Juan tidak pulang ke rumahnya melainkan pergi ke rumah Mikaila, ia akan menginap di sana. Mereka berdua menonton episode terakhir dari drama favourite mereka.

“Kenapa wanita itu milih lelaki yang dingin dan selalu meninggalkannya? Ah, sial sekali nasib cinta pertamanya”  Mikaila mengeluh tidak mendapatkan akhir cerita seperti yang diinginkan, ia menggigit bonekanya membabibuta. Juan hanya berdecak melihat tingkah sahabatnya. Ia mematikan laptop dan menyimpannya. Ia memejamkan mata berniat untuk tidur begitupun Mikaila.

“Kenapa lo masih enggak bisa ngelupain dia?” pertanyaan Mikaila membuat mata Juan kembali terjaga padahal tadi ia sangat mengantuk. Juan tak bergeming. “Jangan naif. Nyatanya trauma itu memang dia penyebabnya. Dan jangan diam seperti itu seolah elo berada di dunia mimpi sekarang ini. Gue tau elo belum tidur” ucap Mikaila.


Juan menghembuskan napasnya lelah “Kita sudah sepakat tidak akan membahas ini lagi”. Mikaila geram, ia mengubah posisinya menjadi duduk “Gue rasa dengan elo terus melarikan diri seperti ini enggak akan pernah menyembuhkan ‘kebiasaan gila lo’  itu. Jadi sekarang coba untuk menerima kenyataan. Kenyataan bahwa cinta pertama elo penyebabnya. Jadi lo harus ngelupain dia mulai dari sekarang”.  Juan menganggukkan kepalanya, ia lelah dan tidak ingin berdebat. Mikaila kesal karena Juan jelas tidak akan mengikuti sarannya namun ia tahu Juan lelah dan membutuhkan istirahat. Akhirnya ia melepaskan Juan kali ini. 

Kamis, 03 Desember 2015

Di sini

Pernah kamu merasakan desiran itu?

Desiran yang selalu membawa kehangatan

Desiran yang selalu mengubah sunyi

Dapatkah desiran itu tetap tinggal?

Di sini.

Minggu, 29 November 2015

Sebelum Badai


Terbayang saat kita memulai
Saat kita bersama
Saat cinta, canda, dan tawa
Yang kita rangkai berjalan sempurna

Dan terbayang saat kita
mengakhiri segalanya
Perasaan merah jambu
yang dulu kita rajut
kini telah memudar
Menghapus semua kenangan

Kini semua berubah
Rasa canggung selalu datang
dengan ke-abstrakannya

Kita berhadapan
Tapi tak pernah saling menatap
Berdekatan
Tapi bagai venus dan mars

Dan kini aku hanya berdiri di bawah hujan
Menunggu saat dimana badai itu akan datang

Translate