Jika itu sebuah kesedihan maka sesulit
apapun ubahlah menjadi kebahagiaan meski sedikit. Jika itu kebahagiaan, maka
berbagilah. Biarkan orang lain merasakannya meski sedikit. Jika tak selalu
dapat menjadi sehangat matahari, maka berusahalah untuk menjadi rumah yang
kokoh sebagai tempat berlindung saat badai. Bukankah cinta seharusnya seperti
itu? atau ada yang lain?
November, 2004
Gadis kecil
itu termenung dengan menopang dagunya menggunakan kedua tangan dibalik jendela kaca.
Sebenarnya aku sedikit ragu menyebutnya “gadis” kecil, karena ia sama sekali
tak terlihat seperti perempuan. Entah siapa yang memintanya memotong rambut
macam potongan pria seperti itu. Ada sebuah arloji hitam melingkar di
pergelangan tangan kirinya. Untuk gadis berusia 6 tahun, mungkin penampilannya
sedikit maskulin. Iya, gadis itu berbeda dari teman-temannya yang lain. Mereka
memanjangkan rambutnya, menghiasnya dengan jepit rambut atau bandana, mereka
memakai jam tangan berwarna-warni, mereka juga memakai cincin dan anting.
Persamaan gadis itu dengan teman-teman perempuannya yang lain hanya pada
seragam yang ia kenakan. Mereka menggunakan seragam sekolah dasar, baju putih
rok rempel merah dengan dasi dan ikat pinggang.
Gadis itu
termenung merasakan aroma tanah yang basah oleh air yang tumpah dari langit.
“Kamu kenapa belum pulang?“ anak laki-laki tambun dengan alis tebal bertanya
ragu-ragu. Wajahnya tampak kebingungan memikirkan haruskah ia memberikan senyuman di akhir pertanyaannya atau lebih baik tidak?
“Hujan“ gadis kecil itu menjawab singkat tanpa
sedikitpun mengalihkan pandangannya dari butiran air yang tumpah dari langit. Si anak laki-laki hanya meng-oh-kan, kecewa. Sebenarnya ia mengharapkan
jawaban yang lebih dari satu dua kata.
“Aku bawa jas hujan, tapi cuma satu. Kita pakai berdua, mau?“ anak laki-laki itu mengeluarkan jas hujan
berwarna merah muda dari ranselnya. Ia menunggu jawaban. Tapi gadis kecil hanya menggelengkan
kepalanya pertanda ia menolak tawaran anak laki-laki itu. Dan lagi-lagi ia tak
sedikitpun mengalihkan pandangannya dari bulir air yang tumpah dari langit. Si anak
laki-laki menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Sepertinya ini akan lama reda. Ibumu pasti
kesulitan mengendarai sepeda dengan payung di tangannya. Ini aku pinjamkan jas
hujanku. Aku pulang duluan yaa, Juan“ anak
laki-laki itu meletakkan jas hujannya di atas meja, kemudian pergi. Ia selalu
ingat perkataan ibunya, bahwa wanita selalu memiliki hati yang hangat. Tak
peduli sedingin apapun ia terlihat di luar. Ia merasa Juan memiliki sisi
kehangatan itu. Yang perlu ia lakukan hanya mendekatinya. Menemaninya.
Rupanya cuaca yang
diramalkan Nizam tak meleset. Benar saja hujan tak kunjung
reda. Entah sudah berapa lama Juan merenung tak bergerak sedikitpun dari
tempatnya. Terdengar derap langkah yang tergesa-gesa di koridor kelas. Tapi
Juan tetap tak bergerak dari tempatnya. Jangankan bergerak, mengalihkan
pandangannya pun tidak.
“Juan, maaf ibu telat jemput kamu“ ucap seorang wanita berkaos biru langit
dengan napas masih terengah ia mencoba untuk tersenyum. Juan terperanjat, bukan
karena suara wanita itu yang tiba-tiba melainkan melihat keadaan ibunya yang basah kuyup. Tunggu, benda yang digenggam tangan kanannya itu, payung, kan? Ia
tidak menggunakannya? Ah, dia bukan
pemain acrobat yang bisa menggunakan
payung saat mengendarai sepeda. Ada
sesuatu yang menohok hatinya yang coba ia abaikan.
“Ini payungnya kamu pegang yaa, biar kamu engga
kehujanan. Nanti kepala kamu sakit” wanita itu tersenyum penuh kehangatan. Damai.
Menentramkan. Senyum tulusnya menghangatkan dinginnya hati Juan. Sedikit.
Mereka berdua bergegas pulang.
***
“Juan, kamu engga usah payungin ibu.
Payungin kepala kamu aja supaya engga
kehujanan“ senyum tulus kembali menghias wajah wanita itu.
Juan meninggalkan ibunya di parkiran.
“Juan kamu mau kemana?“ tak ada jawaban dari Juan.
Apa yang ada di pikiran anak itu. Sebegitu
besarnyakah kesalahanku sampai ia pergi meninggalkanku disini? ucap ibu
Juan dalam hati. Ia benar-benar merutuki dirinya. Ia merasa bahwa ia telah
mengecewakan Juan. Ia membuat Juan menunggunya terlalu lama. Ia hendak mengayuh
sepedanya,
“Ibu jangan tinggalin Juan“ teriakan Juan menghentikan kaki wanita paruh
baya itu untuk mengayuh. Ibunya terperangah melihat helaan nafas Juan yang tak
beraturan.
“Aku tadi ke kelas, mau ngambil ini“ Juan
menunjukkan jas hujan berwarna merah muda yang diberikan Nizam. Wanita paruh
baya itu tersenyum, penuh dengan kehangatan tentunya. Selalu. Kelopak matanya
berlinang, ia menahan bulir air matanya agar tidak jatuh. Terharu ia melihat gadis
kecilnya yang berubah menjadi (sedikit) lebih hangat. Sedikit demi sedikit semoga aura dinginnya dapat berubah menjadi hangat
seutuhnya. Begitu kiranya do’a sang ibu.
Ia tak ingin
gadis kecilnya tumbuh dengan hati yang dingin. Ia tak ingin lagi melihat gadis
kecilnya kesepian.
***
Juni, 2009 seminggu sebelum kelulusan
“Juan, apa kamu pernah atau sedang merasakan
cinta?“ Juan menggeleng ragu-ragu
dan bertanya apa Nizam sedang jatuh cinta? anak laki-laki itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum hangat
menatapnya. Berhasil membuat Juan gugup.
“Pada siapa?” Nizam kembali tersenyum
mendengar pertanyaan Juan.
“Kau benar-benar berbeda. Kau bukan lagi
Juan yang aku ajak bicara di kelas kosong saat hujan 5 tahun lalu. Tapi aku
lebih tertarik pada Juan yang sekarang dibanding lima tahun lalu“ Nizam tertawa dan Juan kembali bertanya kenapa ?
“Yaa siapa yang tahan berbicara pada orang
yang menjawab hanya dengan anggukan atau gelengan. Bahkan lebih sering tak mendapat
jawaban. Apa kau sedang berbicara pada tembok?“ Ia dihadiahi pelototan oleh Juan.
Tapi ia
hanya tertawa dan melanjutkan,
“Ibuku mengatakan bahwa seseorang yang tak
tersentuh seringkali kesepian. Ia juga mengatakan kesepian itu mengerikan. Kau akan
selalu merasa sendirian bahkan saat di keramaian kau akan tetap merasa
sendirian. Saat itu aku tak mengerti apa maksudnya. Tapi setelah melihatmu aku
mengerti. Saat itu, aku tak ingin kau menjadi seseorang yang benar-benar tak
tersentuh. Saat itu aku ingin berbagi kebahagiaan, juga… sedikit cinta denganmu”
“Cinta? Aku tidak tau dengan pasti apa itu
cinta“ ungkap Juan, ia menerawang “Apa cinta yang membuat ini selalu berdetak kencang?” ia menyentuh dadanya dan
melanjutkan “Saat ketakutan karena tidak
membawa buku PR matematika, ini juga berdetak cepat sekali. Apa aku jatuh cinta
pada pak guru? Saat lari sprint ini juga berdetak kencang, apa aku juga jatuh
cinta pada Pak Anton? Guru olahraga kita?” Juan berhenti, Nizam
masih diam menunggu Juan melanjutkan
“Saat di sampingmu seperti ini juga
jantungku berdetak kencang, apa… apa.. ehm.. apa ini jugaa..”
Nizam
memotong perkataan Juan “Kurasa, aku
masih terlalu kecil, tidak tau dengan pasti apa itu cinta. Sepertinya ada
banyak cinta di dunia ini. Yang aku ketahui sekarang hanya aku mencintai ibuku.
Cinta pertamaku. Juga aku mencintai sahabatku, Juan. Juanita Maharani“ Nizam tersenyum, membuat Juan menahan air
matanya. Apa ini cinta yang tak berbalas? Cinta pertamanya?
***
Juli, 2014
Selamat
datang di tahun kedua Sekolah Menengah
Atas.
“Aaa.. Juan kita sekelas” teriak gadis bertubuh mungil kegirangan,
ia menarik Juan kedalam pelukannya. Mikaila Simatupang, gadis keturunan batak
yang lahir di tanah jawa. Mereka bertemu di Sekolah Menengah Pertama.
Menghabiskan tiga tahun di kelas yang sama dan lima tahun di sekolah yang sama
membuat mereka bersahabat hingga sekarang.
“Key, kita duduk sini aja yak” Juan menunjuk barisan kedua saat mereka
tiba di kelas, Mikaila hanya mengangguk dan duduk di tempat yang ditunjukkan
Juan.
“Ju, dia Haikal ya?” Mikaila menunjuk
seorang pria dengan dagunya. Juan melihat sekilas pria tersebut dan
menjawab dengan tak acuh,
“Yes, he is. Sugarman” Juan memutar bola matanya, membuat Mikaila
terkikik dan menambahkan
“Cerdas, ulet, jago main gitar, punya suara
merdu, baik, target perburuan cewe-cewe nomor satu di sekolah kita, jugaaa..” Mikaila menggantungkan kalimatnya
“Engga. Doyan. Cewe” Juan mengakhiri
kalimat Mikaila dengan memberi penekanan ditiap katanya.
“Tipe lo banget ya” bukan pertanyaan. Mikaila terkikik mendapat
pelototan tajam dari Juan.
“Menyerahlah. Cinta pertama lo itu enggak
akan berhasil”
***
“Oke, jadi kapan kita mulai kerja kelompok
ini?” Juan menahan lengan Haikal saat akan keluar kelas. Bukannya
menjawab, Haikal hanya menatap lengannya yang
dicengkram. Berani sekali,
batin Haikal. Juan menyadari hal tersebut akhirnya meminta maaf dan melepaskan lengan Haikal.
Ia merutuki nasib buruknya, bagaimana bisa Bu Andini memasangkannya dengan pria
sedingin es di kutub sebagai teman kelompoknya. Menurutnya Haikal benar-benar misterius,
seperti penjahat. Untuk ukuran seorang lelaki, Haikal terlalu pendiam. Kaku.
Dan membosankan. Dia tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada perempuan.
Bagaimana bisa gadis-gadis di sekolahnya masih menyebutnya baik dan
menyukainya. Apa selera mereka seorang
gay?
“Sekarang” Haikal kembali ke bangkunya dan membuka
laptop miliknya. Juan menggerutu mendapat jawaban seperti itu dari Haikal tapi ia
tetap mengekori Haikal dan membuka buku catatannya. Mereka mulai berdiskusi dan
menyelesaikan tugasnya.
Luar biasa. Haikal benar-benar menakjubkan, pikir
Juan. Bagaimana bisa laki-laki itu terus fokus pada pekerjaannya. Juan
memiringkan kepalanya menatap wajah Haikal lekat-lekat. Ia mengamati wajah
Haikal lamat-lamat. Haikal mencoba tidak mengacuhkan sikap Juan tapi akhirnnya
ia merasa tergangu dengan apa yang Juan lakukan. Ia menatap Juan tajam, tapi
Juan sama sekali tidak merubah posisi kepalanya membuat Haikal bertambah risih
dan kesal. Ia membentak Juan dan bertanya apa yang sebenarnya Juan lakukan.
Bukannya menjawab, Juan dengan polosnya mengajukan pertanyaan pada Haikal “Lo, napas, kan?” ia menggerakkan tangannya kearah hidung
Haikal. Memastikan Haikal benar-benar bernapas. Membuat tingkat kekesalan
Haikal bertambah, ia menampik tangan Juan terlalu keras hinga mengenai meja.
Juan
mengerang kesakitan “Aarrghh.. brengsek. Dasarr babb..” Haikal cepat
menutup mulut Juan. Ia tahu Juan akan memakinya. Juan membalaskan dendam dengan
menggigit tangan Haikal yang ada di mulutnya. Sasaran empuk. Mereka berakhir
dengan saling menggigit. Astaga.
***
Matahari mulai
turun, hari menjelang malam tapi tugas mereka belum juga selesai. Mata Juan
mulai kelelahan membaca artikel di internet. Ia mengedip-ngedipkan matanya juga
meregangkan tubuhnya. Haikal melihat arlojinya, “Kita lanjutin besok” ia kemudian merapikan barang-barangnya dan
keluar dari kelas. Juan melongo, bagaimana bisa Haikal meninggalkannya begitu
saja. Hari sudah malam, ia perempuan, dan ditinggalkan di dalam kelas yang kosong
sendirian. Tak dapat dipercaya. Benar-benar menjengkelkan, pikirnya. Ia kemudian
merapikan barang-barangnya dan keluar dari kelas.
“Lamban banget” Juan terlonjak, ia
memegangi dada sebelah kiri merasakan jantungnya yang berdetak kencang. Ia
kesal tapi tetap mengikuti Haikal yang berjalan di depan.
“Naik” Haikal memakai helmnya.
“Biar gue naik angkot aja, Kal. Ngerepotin”
“Rumah kita satu arah. Bensin gue juga enggak
akan berkurang lebih banyak dari biasanya cuma karena ngebonceng elo yang
notabenenya kurus kerempeng” Juan benar-benar tidak percaya Haikal
berbicara sepanjang itu padanya. Terlebih
saat akan naik ke motor Haikal menurunkan pijakannya untuk mempermudah Juan
naik. Namun saat Juan akan naik, Haikal menjalankan motornya hingga Juan
terjatuh.
“Hei, idiot! Gue belum naik. Gimana bisa
elo jalan gitu aja? Dasar bego!” Juan berteriak, terus memaki Haikal yang telah
pergi menjauh.
***
Sesampainya
di rumah ia masih terus memaki Haikal yang menurutnya tidak punya perasaan.
Bagaimana bisa dia tidak menyadari jika Juan belum naik ke motornya. Ia memang
kurus tapi apa Haikal pikir Juan seringan itu hingga dia tidak menyadari jika
dirinya tidak membonceng siapapun. Ia merebahkan tubuhnya dikasur dengan posisi
tengkurap, bokongnya benar-benar terasa sakit. Ia kelelahan, perlahan Juan
memejamkan matanya dan mengingat kejadian di depan rumahnya.
***
Juan turun
dari angkutan umum dan berjalan kerumah dengan memegangi bokong yang masih terasa sakit. Tentu saja ia masih
memaki Haikal sepanjang jalan. Sesampainya di rumah ia melihat seseorang
berdiri di depan gerbang rumahnya dan menatap ke arahnya.
“Maaf. Gue pikir lo udah naik. Sampe sini
gue baru sadar elo ketinggalan. Terus gue balik lagi ke sekolah tapi lo udah enggak
ada” Haikal menggaruk tengkuknya
melihat Juan tak bereaksi dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. “Maaf” ucap Haikal lirih, lalu pergi
dari sana.
***
Juan membuka
matanya kemudian memiringkan tubuhnya.
“Kenapa mata bocah itu jadi terasa
hangat” ia sejenak memejamkan
matanya, kemudian pergi ke kamar mandi. Tatapan Haikal menurunkan kinerja
otaknya. Ia bahkan melupakan pertanyaan, darimana
Haikal mengetahui alamat rumahnya?
***
Paginya, Juan
berjalan perlahan di koridor kelas, merasakan bokong yang masih terasa nyeri.
Mikaila melihat Juan yang berjalan seperti robot habis di sunat kemudian berlari
kearah Juan
“Aaaaaaaaa” Juan bersandar ke dinding dan
memegangi bokongnya yang di tepuk keras.
“Astaga
jalang satu ini” ia memukul-mukul
badan Mikaila.
“Bisul lo pecah yaa. Kebanyakan makan telur
sih” tawa Mikaila meledak sambil merangkul Juan berjalan ke kelas.
“Ini ulah si muka rata tau” gerutu Juan.
Mikaila menanggapi dengan santai “Haikal
?” juan mengiyakan dan menceritakan kejadian kemarin. Mikaila tertawa terbahak-bahak mendengarnya.
Sesampainya
di kelas Juan melirik Haikal dengan ekor mata dan mendapati lelaki itu sedang
menatapnya.
Saat bel
masuk berbunyi anak-anak mulai keluar dari kelas karena jam pelajaran pertama
adalah olah raga.
“Masih sakit?” Haikal melirik sekilas tangan Juan yang
memegangi bokongnya saat akan keluar kelas. Pertanyaannya hanya dijawab dengan
anggukan oleh Juan tanpa menoleh kearahnya dan berjalan pergi. Haikal
menghembuskan napasnya pelan. Ia mengikuti Juan dari belakang yang berjalan
perlahan.
Sesampainya
di lapangan mereka melakukan pemanasan dengan membentuk lingkaran. Haikal
mengambil posisi di samping Juan.
“Maaf” Juan menaikkan sebelah alisnya mendengar
ucapan permintaan maaf yang sangat sederhana dari Haikal yang juga tanpa melihat
kearahnya. Apa dia benar-benar merasa
bersalah?
“Elo bikin kesalahan apa sama udara? Hebat, jadi lo bisa bahasa udara yaa. Ah, gue baru tahu udara bisa ngomong” Juan
tertawa. Sindiran yang cerdas, pikirnya.
“Udah gue maafin. Jadi, berhenti merasa
bersalah dengan sikap yang menunjukkan ‘elo sangat merasa bersalah’ , brengsek”
Juan melanjutkan sindirannya. Sementara Haikal hanya menggelengkan
kepalanya. Ia berpikir bagaimana mungkin ada wanita dengan mulut penuh ‘sampah’
seperti itu di dunia ini.
Selesai
pemanasan mereka bermain futsal karena guru olah raga tidak datang hari ini. Siswa
perempuan yang tidak tertarik akhirnya hanya kembali ke kelas, kecuali
Mikaila dan Juan. Mereka berdua duduk di bangku penonton bukan untuk melihat
pertandingan tapi untuk bercerita. Juan mendengarkan cerita Mikaila yang sangat
merindukan Bagas, teman mereka di Sekolah Menengah Pertama sekaligus cinta
pertama Mikaila. Bagas merupakan siswa yang memiliki wajah tampan. Tak perlu
dipertanyakan lagi, sudah pasti siswa perempuan di sekolah mereka sangat
tergila-gila padanya. Sayangnya, otak Bagas tidak mengikuti nasib baik wajahnya.
Selalu mendapat nilai terendah di kelas, bukan hal yang tidak wajar baginya. Jadilah
wali kelas meminta Mikaila untuk membantunya. Mikaila yang cerdas, satu-satunya
gadis yang tidak tertarik pada Bagas. Ia bersedia membantu Bagas, melakukan private setiap jam istirahat. Karena
banyak waktu yang mereka habiskan berdua, akhirnya tumbuh rasa cinta Bagas pada Mikaila. Ia berusaha mengambil hati Mikaila, namun usahanya benar-benar tidak berhasil. Mikaila
baru menyadari ketertarikannya saat Bagas menyerah padanya. Terlambat. Waktu
beberapa tahun tidak bisa membantu Mikaila melupakan cinta pertamanya itu.
Lihatlah, seseorang yang menasihati Juan untuk menyerah pada cinta pertama.
Saat Mikaila
terus bercerita Juan melihat Haikal yang tertawa lepas karena mencetak angka untuk
timnya. Bahkan ia melakukan selebrasi dengan menggoyangkan bokongnya. Hah, rupanya dia benar-benar manusia, ungkapnya
dalam hati. Mikaila menegur Juan yang tidak mendengarkannya bercerita tapi asik memandang wajah tampan Haikal. Mikaila juga bertanya apa Juan sekarang
menaruh perhatian pada Haikal.
Juan hanya
tertawa menanggapinya. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin Mikaila memiliki
pemikiran seperti itu. Haikal benar-benar bukan tipenya.
“Hari minggu jam 9” Juan membalikkan
badannya, ia terkejut melihat Haikal sudah berada tepat di belakangnya.
“Hari minggu jam 9?” Juan mengerutkan
keningnya mendengar itu, kemudian bertanya “Lo
ngajak gue kencan? Sorry gue enggak berkencan” Juan mengibaskan
tangannya di depan Haikal. Kini giliran Haikal yang tak percaya “Gimana bisa lo sepercaya diri itu? Tugas
kelompok belum selesai!” Haikal berseru di depan wajah Juan dan
meninggalkannya begitu saja.
“Aish, bocah sialan itu”
***
Juan sampai
di sebuah cafe, ia mencari-cari keberadaan seseorang.
“Disini, kasar” Haikal yang muncul
tiba-tiba dari belakang mengejutkan Juan.
“Lama banget sih” kalimat pertama yang
keluar dari mulut Haikal setelah mereka berdua duduk berdampingan.
“Pertama, gimana bisa lo manggil gue ‘kasar’
seperti panggilan spesial yang seakan-akan menunjukkan kita begitu dekat? Kedua,
gimana bisa lo bilang lama sementara lo sendiri juga baru datang. Ketiga, gue
udah ada di sekolah karena memang awalnya kita sepakat ngerjain tugas di sana
dan tiba-tiba lo chat gue buat ngerjain di cafe dan menurut gue itu berarti kesalahan elo” ungkap
Juan dengan satu tarikan napas. Haikal membuka mulutnya hendak menanggapi,
“Satu lagi, darimana lo dapet nomor gue ?” pertanyaan Juan membuat Haikal menutup mulutnya
kembali.
“Gue enggak akan menjawab pertanyaan
borongan lo itu dan menjelaskannya panjang lebar karena khawatir orang lain
yang melihat salah paham dan menganggap kita begitu dekat” Juan akan
menanggapi tapi Haikal segera memakai headphone
dan membuka laptop serta buku catatan miliknya. Akhirnya Juan hanya mendengus
kesal dan membuka buku catatannya.
Berjam-jam
mereka mengerjakan tugas di cafe. Juan menatap keluar jendela.
“Hujan” ucap Juan lirih tapi masih
terdengar oleh Haikal. Ia melirik Juan dari ekor matanya. Juan mengingat
kejadian sepuluh tahun yang lalu. Saat hujan ia menatap keluar jendela seperti
ini dan Nizam memberinya jas hujan. Hujan selalu membawa kenangan cinta
pertamanya kembali. Ia mengusap bulir air di ujung matanya. Haikal melihat Juan
yang menahan tangisnya berusaha tak perduli. Kali ini jemari Juan terulur ke
jendela mengikuti bulir air yang jatuh, ia benar-benar menangis kali ini. Ia
merindukan sosok Nizam.
Haikal kesal
dan menggebrak meja “What a drama. Dimana
sutradara juga kameranya, huh? Dimana? Dimana?” ia membereskan barangnya
dan pergi dari cafe. Sementara Juan masih dengan kesedihannya tidak bergerak sedikitpun dari
posisinya. Ia tak mengacuhkan orang-orang seisi cafe yang menatapnya karena
teriakan Haikal. Ia juga membiarkan bulir air mata turun melewati pipinya.
***
Haikal
mengendarai sepeda motornya di tengah hujan. Sesampainya di rumah ia melihat
seorang wanita juga sedang menatap keluar jendela dan menahan tangisnya. Ia
kesal berlari masuk ke kamar dan menutup pintu dengan sengaja membantingnya.
Ia
merebahkan tubuhnya di kasur. Memejamkan matanya dan menghembuskan napasnya
kasar
“Perempuan itu mirip dengannya”.
***
Keesokan
paginya Haikal masuk ke kelas dan mendapati bangku Juan masih kosong. Ia duduk
di bangkunya tapi terus menatap bangku Juan, sampai bel berbunyi bangku Juan
tetap kosong. Ditengah jam pelajaran Haikal masih memikirkan kejadian kemarin.
Ia tak enak hati karena ulahnya Juan
menjadi pusat perhatian di cafe juga meninggalkannya sendirian disana. Selesai
pelajaran ia mendekati Mikaila menanyakan keberadaan Juan. Bukannya mendapat
jawaban, ia malah mendapat tatapan curiga dari Mikaila. Haikal hanya mendengus
dan pergi meninggalkan Mikaila.
Seharian
Mikaila terlihat kesepian. Haikal juga merasakan hal yang sama. Ia merindukan
umpatan yang keluar dari mulut Juan. Ia penasaran apa alasan yang membuat Juan
menangis saat hujan. Apa dia takut
terkena flu jika hujan? Ah, tidak mungkin. Bagaimana bisa orang kasar seperti
dia takut dengan flu. Atau mungkin dia kehilangan adiknya saat hujan? Ayahnya? Ibunya? Neneknya? Kakeknya? Itu lebih tidak mungkin, bodoh. Dia memiliki
keluarga yang lengkap, kan? Ah, apa-apaan ini. Haikal mengusap wajahnya
kasar.
***
Sudah
seminggu Haikal menatap bangku Juan yang masih juga kosong. Ia benar-benar
khawatir dengan keadaannya. Dia sempat beberapa kali mengirim pesan pada Juan
tapi tak satupun mendapat balasan dari gadis itu. Dia juga terus menanyakan
keadaan Juan pada Mikaila, tapi Mikaila selalu menghindar. Ia curiga Mikaila
menutupi sesuatu tentang Juan. Karena setiap kali guru ataupun teman yang lain
bertanya tentang alasan Juan tidak masuk , Mikaila menjawabnya dengan
terbata-bata dan salah tingkah seperti hari ini.
“Juan tidak masuk lagi? Kemana sebenarnya
dia, Key?” pertanyaan Bu Andini membuat seisi kelas menatap Mikaila yang
terlihat kebingungan mencari alasan. Mikaila menggaruk kepalanya yang tidak
gatal.
“Apa dia sakit? Baiklah, saya akan
menjenguknya bersaa…”
“Neneknya meninggal, Bu” Mikaila gelagapan, ia memotong ucapan Bu
Andini. Tapi jawaban Mikaila membuat Bu Andini curiga. Ia mengingatkan Mikaila
bahwa satu-satunya nenek Juan sudah meninggal tahun lalu. Satu sekolah ini tau
kejadian itu karena orang tuanya datang untuk memberitahukan kabar tersebut
kepada Juan saat upacara bendera tengah berlangsung. Mikaila merutuki
kegugupannya yang membuat ia tidak bisa berpikir seperti orang bodoh. Sementara
Haikal mengangguk-anggukkan kepalanya, oh
neneknya sudah meninggal. Hmm, mungkin alasan dia bersedih adalah neneknya.
Batin Haikal.
“Adik neneknya, Bu. Saya mengatakan itu
tadi” sanggah Mikaila. Tapi Bu Andini bersikeras ia mendengar Mikaila tidak
mengatakan adik neneknya melainkan neneknya. Siswa yang lain juga setuju dengan
Bu Andini.
“Juan selalu seperti ini saat hujan. Ini
aneh. Mencurigakan” ungkap salah satu siswa perempuan berkacamata dan
diikuti anggukan dari temannya yang lain. Kelas mulai sedikit gaduh,
kasak-kusuk membicarakan keganjilan dari hidup Juan.
Mikaila kali
ini benar-benar tidak dapat menghindar lagi, semua orang memojokkannya. Ia
melihat yang lain semakin penasaran pada alasan Juan yang tidak masuk. Ini
jelas sekedar penasaran bukan empati. Mereka
semua menjijikan, batinnya.
Saat Mikaila
akan membuka mulut, terdengar Haikal berkata “Dia bilang adik neneknya meninggal. Entah itu adik neneknya ataupun
neneknya yang meninggal bukankah seharusnya kalian tetap bersimpati jika kalian
merasa masih manusia? Kenapa membuat hal kecil menjadi besar?”
“Saya wali kelas disini. Bukankah saya perlu
tahu kemana siswa saya pergi selama seminggu? Jika ada sesuatu yang salah pada
siswa saya, apa saya tidak perlu membantunya?” Haikal menanggapi Bu Andini dengan tersenyum
meremehkan dan tatapan tak terbaca.
“Membantu? Sebelum itu, bantu dirimu
sendiri” suara hati Haikal. Akhirnya Bu Andini memulai pelajarannya
meskipun ia terlihat masih kesal pada Haikal yang terlihat jelas sekali meremehkan
ucapannya. Dia merasa benar, sebagai wali kelas dia harus mengetahui apa yang
siswanya alami hingga hal tersebut mengganggunya belajar di sekolah. Bagaimana bisa ia membiarkannya saja. Dia ini seorang guru. Kesalnya dalam hati.
***
Seorang
wanita memasuki toko buku. Ia menuju rak penyimpanan novel dan mencari-cari
sesuatu. Setelah mengelilingi rak ia menemukan novel yang ia cari. Saat akan
mengambilnya ada sebuah tangan yang juga mengambilnya. Tangan mereka berdua sama-sama
memegang novel tersebut. Mereka bertemu pandang. Juan yang baru saja
memegang novel tersebut melepaskan
tangannya, ia menganggukan kepalanya sopan mempersilahkan wanita itu memiliki
novelnya. Wanita itu membalas senyumnya. Kemudian Juan mengambil novel lain dengan
judul yang sama. Ia berjalan menuju kasir. Setelah membayar ia pergi ke cafe yang ada di bawah toko buku tersebut. Ia memesan ice coffe namun saat akan
membayar ia kehilangan dompetnya. Ia sibuk mencari dompetnya di tas.
“Apa kamu mencari ini?” wanita yang ada
di toko buku tadi menyerahkan dompetnya. Juan mengucapkan terima kasih karena
wanita itu telah menemukannya. Ia berniat mentraktir secangkir kopi sebagai ucapan terima kasih dan wanita itu dengan senang hati menerima tawaran Juan.
Mereka
sekarang duduk berdua.
“Saya pikir di cuaca yang dingin seperti ini
harusnya kita memesan sesuatu yang hangat, bukan ?” wanita itu mulai
membuka percakapan, matanya melirik ice
coffe. Juan terkekeh, ia bergurau bahwa dirinya anti mainstream yang membuat wanita
itu tersenyum.
Cuaca diluar
sangat gelap, perlahan rintik hujan mulai
turun.
“Seragam yang kamu pakai
menunjukkan bahwa kamu seorang pelajar. Bukankah di jam seperti ini seorang pelajar
harusnya pergi ke sekolah bukan ke toko buku?”
wanita itu menyesap kopinya. Ia menatap Juan yang tidak menjawab
pertanyaannya dan memperhatikan Juan yang termenung sambil mengaduk ice coffe nya. Juan kelihatan enggan
menjawab pertanyaan tersebut. Wanita itu akhirnya meminta maaf pada Juan. Karena
merasa tak enak hati, ia juga menyarankan jika Juan merasa terganggu karena ini
pertama kalinya mereka bertemu maka Juan tidak perlu menjawab pertanyaan
tersebut. Juan hanya tersenyum dan mengatakan tak apa.
“Apa kamu menyukai hujan?” wanita itu
kembali bertanya, matanya menatap ke luar jendela. Juan kembali terdiam,
lagi-lagi membuat wanita itu tak enak hati yang kembali membuatnya meminta maaf.
“Ini menakjubkan bukan, pertama kalinya kau
bertemu seseorang dan dia berulang kali mengajukan pertanyaan yang tidak kau
sukai”
“Kupikir permintaan maaf itu selalu
berdampingan dengan sesuatu. Seperti cake misalnya” Juan menaik-turunkan kedua
alisnya membuat wanita tersebut terkekeh. Wanita itu kemudian pergi ke counter untuk memesan cake. Sekembalinya ia mengatakan bahwa
dia pikir Juan akan mencegahnya karena Juan hanya bercanda mengatakan hal itu,
tapi Juan tidak menahannya sedikit pun. Juan tertawa dan berkata bahwa dia
memang selalu berkata serius.
“Ini pertama kalinya saya bisa tersenyum
saat hujan turun” mata wanita itu menerawang ke luar jendela. Juan tak
bergeming. Rasanya ini juga pertama kali baginya. Ia menyusuri pinggiran gelas
dengan jarinya.
Wanita itu mengerjapkan
matanya, ia tersadar. Apa yang baru saja
ia katakan, batinnya. Ia terkekeh, “Maaf,
kamu bisa melupakan apa yang saya katakan sebelumnya”. Juan menanggapinya
dengan senyum simpul.
“Saya pikir kita akan berakhir di post
keamanan bukan disini”
“Kenapa? Karena kita ngambil buku yang sama
dan akhirnya jambak-jambakan rambut?” wanita itu menjawab pertanyaan Juan
dengan sebuah anggukan.
“Drama banget, kan?”. Mendengar ucapan
wanita itu Juan teringat dengan kelakuan Haikal tempo hari. Jika ia tidak
sedang dalam keadaan ‘itu’ mungkin ia sudah tertawa terbahak-bahak mendengar
Haikal yang menanyakan keberadaan kamera. Apa dia pikir mereka sedang dalam
sebuah acara setting-an yang sedang
popular itu. Ada-ada saja Haikal ini. Juan terkikik mengingatnya.
“Kenapa?” wanita itu membawa kesadaran
Juan kembali.
“Tante bilang drama, saya jadi inget teman
saya. Waktu hujan, saya engga sengaja nangis. Saya kira dia bakal nanya ‘kenapa?’, taunya dia malah bilang ‘drama’ , begitu. Abis itu dia malah ninggalin
saya. Ajaib banget, kan” Juan
terkekeh menceritakannya.
“Saya
punya anak lelaki seusia kamu. Dia juga di sekolah yang sama dengan kamu. Dan,
kelakuan dia juga mirip banget sama teman yang kamu ceritain itu. Dia memang
enggak suka sih ngeliat orang nangis saat hujan. Atau jangan-jangan itu memang
dia. Karena sepertinya cuma anak saya yang punya keanehan itu” wanita itu ikut terkekeh saat menceritakan
anaknya
Juan
membelalakkan matanya, “Tante tahu
sekolah saya? Darimana?”
“Seragam kamu” wanita itu menunjuk seragam yang Juan kenakan.
Ia terbahak melihat Juan menepuk dahinya. Juan memasang tampang, saya bodoh, yaa?. Wanita itu
menggeleng, menjawab pertanyaan Juan yang tak tersirat itu.
“Kamu tidak pergi ke sekolah karena hujan?”
wanita itu kembali mengulang pertanyaan yang pernah ia lontarkan. Ia
sedikit ragu sebenarnya.
Kali ini
Juan menjawabnya. Ia mengangguk.
“Kamu alergi hujan?” wanita itu kembali
bertanya setengah bercanda.
Juan kembali
menganggukkan kepalanya, “Otak saya
mendadak berhenti berfungsi saat hujan. Saya akan terlihat bodoh”
“Hm.. I see. Sekarang saya memaklumi soal
pertanyaan kamu sebelumnya” wanita itu menggoda Juan. Ia terbahak melihat
Juan yang cemberut berpura-pura kesal.
Bagaimana bisa anak perempuan ini membuatnya
terus tersenyum dan terbahak saat hujan turun di pertemuan pertama mereka.
Bagaimana bisa wanita ini membuatnya terus
tersenyum dan terbahak saat hujan turun di pertemuan pertama mereka.
***
Haikal
datang pagi sekali ke sekolah. Ia berencana membuat Mikaila membuka mulutnya
soal alasan Juan yang belum juga masuk. Ia menebak hari ini Mikaila pasti akan
datang lebih awal karena tugas piketnya. Tak beberapa lama ia mendengar derap
langkah seseorang, perlahan Haikal bersembunyi di balik pintu. Ia tahu Mikaila
akan lari jika melihatnya berada di kelas itu. Derap langkah itu semakin
mendekat, Haikal bersiap menangkap Mikaila. Pintu kelas dibuka dari luar,
Haikal segera menahan lengan milik sosok yang masuk ke dalam kelas “Sekarang lo enggak bisa kabur!” ia
menghentakkan lengan itu hingga membuat sosok yang ia tahan lengannya berbalik
menghadapnya. Sayangnya ia terlalu kuat mengeluarkan tenaga membuat mereka tak
berjarak.
“Ck, kasar banget” Juan berdecak saat
mengetahui lengannya yang ditarik Haikal. Laki-laki itu diam seribu bahasa
saat mengetahui pemilik lengan yang ditahannya ternyata seseorang yang akan ia
cari tahu kabarnya. Ia menatap lekat
Juan. Dadanya bergemuruh. Sesuatu yang ia abaikan.
“Seseorang berkata tanpa berkaca, lucu
sekali” Haikal tersadar dan
melepaskan tangannya dari lengan Juan. Ia berjalan keluar melewati Juan,
membuat Juan kembali memakinya. Saat
Juan tak dapat melihat wajahnya, Haikal tersenyum simpul. Melegakan mendengar kata-kata kasarnya. Rupanya dia baik-baik saja,
batin Haikal.
Mikaila
melihat Haikal yang berjalan keluar kelas menghampirinya, ia segera membalikkan
badan untuk menyelamatkan diri.
“Dia udah balik” Haikal sedikit
berteriak, membuat Mikaila menghentikan usahanya untuk kabur. Ia membalikkan badan,
keningnya berkerut. Haikal memutar bola matanya menangkap ketidak mengertian
Mikaila pada kalimatnya.
“Sekutu elo” Haikal melanjutkan.
Sepersekian detik kemudian Mikaila mengerti siapa yang dimaksud “dia” oleh Haikal.
Ia tersenyum dan berlari ke tujuan awalnya. Kelas.
Juan yang
sedang menghapus papan tulis terkesiap melihat sosok Mikaila yang berlari
kearahnya dengan napas terengah-engah. Mikaila memeluknya erat sekali seakan
baru menemukan kembarannya yang hilang
bertahun-tahun.
Juan memukul
kepala Mikaila “Jangan peluk gue. Gue bukan
Bagas, dude. Jadi lepasin tangan bau kencur lo itu dari tubuh harum gue”
Mikaila
tidak menghiraukan perkataan Juan, ia semakin mengerahkan seluruh tenaganya
memeluk erat Juan “Iya, elo memang bukan
Bagas. Lagi pula ini bukan sebuah pelukan”.
Juan
mencibir “Lalu apa ini disebut seekor monyet
yang sedang bergelayut di sebuah
ranting pohon?”
Mikaila
menggelengkan kepalanya “Ini usaha gue
untuk bantu menahan seorang pasien rumah sakit jiwa yang akan melarikan
diri”. Mikaila terkekeh, ia menghapus kristal bening di sudut matanya dan
melepas pelukannya. Juan tersenyum, ia meyakinkan Mikaila bahwa dia tidak akan
melarikan diri seperti sebelumnya lagi karena ia akan menghadapinya bersama
Mikaila. Dua sahabat karib itu akhirnya saling melempar senyum.
Haikal pun
tersenyum menikmati kejadian yang baru saja dilihatnya dari kaca jendela. Ia
memutuskan pergi dari sana memberi waktu berdua bagi sahabat karib tersebut.
“Elo enggak pergi ke sekolah, elo juga
enggak ada di rumah. Jadi elo sembunyi dimana ?” Mikaila bertanya karena beberapa kali dia
mengunjungi rumahnya, ia tidak mendapati keberadaannya.
Juan menyapu
sampahnya ke serokan dan membuangnya ke tempat sampah “Kemanapun. Tempat selain rumah dan sekolah”. Mikaila menatap
prihatin sahabatnya. Ia benar-benar membenci cinta pertama sahabatnya itu. Ini semua
karena cinta pertama konyolnya. Dia salah satu penyebab dari trauma itu. Juan
hanya membalas tatapan prihatin dari Mikaila dengan tertawa geli.
“Berhenti menyalahkannya. Ini bukan
kesalahannnya” seakan Juan dapat membaca pikiran Mikaila saat ini. Mikaila
memutar bola mata dan mencibir Juan yang selalu dapat membaca pikirannya juga
kalimat yang selalu dikatakan Juan, ini
bukan kesalahannya. Jelas sekali bahwa memang pria itu penyebabnya. Juan
bukan tipe wanita yang berpikir positif pada setiap orang tapi dia selalu
berpikir positif pada sosok cinta pertamanya itu membuat Mikaila jengah.
“Baiklah ini bukan kesalahannya. Seperti
janji lo, jangan melarikan diri lagi. Gue bukan pembual yang bisa menipu semua
orang tentang ‘kebiasaan gila lo’ , ngerti?” Mikaila menegaskan. Juan
terkekeh, ia menganggukkan kepala dan mengacungkan ibu jarinya tanda mengerti.
Beberapa
menit kemudian siswa lain mulai berdatangan disusul Bu Andini, mereka terkejut
melihat sosok Juan. Gadis itu terlihat tidak nyaman ditatap oleh belasan pasang
mata. Mereka seperti patung, tidak ada yang bergerak dari tempatnya untuk
sepersekian detik. Haikal bersiul, ia berjalan ditengah-tengah dengan santainya
membuat mereka tersadar dan duduk di tempatnya masing-masing.
“Juan, kenapa kamu absen seminggu ini?” Juan
mencibir mendengar kalimat pembuka pelajaran Bu Andini yang membuat seisi kelas
menatapnya. Lagi. Jelas sekali mereka sangat tertarik mengetahui masalah
ini. Ia memutar bola mata juga menahan
emosinya yang siap meledak “Mikaila sudah
mengatakannya pada kalian”. Mikaila menahan napas mendengar apa yang
diucapkan sahabatnya. Mulut gadis ini
seperti bensin, batinnya.
Guru wanita
itu tidak dapat menyembunyikan wajah kesalnya mendengar ucapan Juan “Apa kamu tidak bisa menganggap saya sebagai
orang tuamu selama di sekolah?”
Juan membuka
mulutnya bersiap menimpali tapi dipotong seseorang “Apa saya berada di sini hanya untuk mendengar perdebatan kalian? Berhentilah.
Saya tidak berminat mendengarnya”
Ucapan Haikal
membuat Bu Andini geram.
“Bahas masalah ini di ruang konseling
setelah pelajaran selesai” kalimat final Haikal berhasil menutup mulut Bu
Andini yang akan mengatakan sesuatu. Akhirnya Bu Andini memulai pelajaran.
Juan menatap Haikal dengan kesal. Ia tidak menyetujui ide Haikal. Bagaimanapun
itu tidak membantunya keluar dari masalah. Nyatanya ia tetap harus
menjelaskan alasannya pada Bu Andini.
“Dasar hidung babi. Otak alien. Mulut
mercon” Juan menggumamkan makiannnya untuk Haikal. Mikaila menyikut lengan
Juan, ia berbisik “Menurut gue, Haikal
mulai memperhatikan elo. Bukan cuma kali ini dia membela elo, kemarin dia
melakukan itu juga”.
Juan menggerutu jika Haikal melakukan itu bukan karena
ingin membantunya melainkan dia merasa masalah ini mengganggu kegiatan
belajarnya. Jika Haikal berniat membantunya, lelaki itu tidak mungkin memberi
ide gila pada Bu Andini untuk membicarakannya di ruang konseling. Itu
membuatnya semakin terjepit. Kali ini Juan mungkin tidak dapat berkelit lagi
karena pastinya dia tidak dapat mengalihkan perhatian Bu Andini darinya jika
hanya berbicara berdua di sebuah ruangan tertutup seperti itu.
***
Haikal
berbaring di bangku taman belakang sekolah. Matanya terpejam dengan earphone yang menggantung di daun
telinganya. Ia memegang kepalanya yang dilempari kerikil oleh seseorang, tapi
dia tidak menemukan kehadiran seseorang di sana selain dirinya. Ia memutuskan
kembali memejamkan matanya. Tak beberapa lama kepalanya lagi-lagi terkena kerikil
yang dilempar seseorang.
Juan bersembunyi
dibalik batu besar. Ia terkikik melihat ekspresi kesal yang ditunjukkan Haikal.
Juan memungut kerikil yang ada di dekat kakinya, ia bersiap melempari Haikal
dengan benda mati itu namun bangku taman itu kosong. Saat ia mencari sosok
Haikal, seseorang menyiramnya dengan air dari belakang hingga seragamnya basah.
Ia membalikkan badannya tapi tidak bisa mendekati Haikal karena lelaki itu
menyemprotkan air dari slang untuk menyiram tanaman tepat ke wajahnya. Haikal
tertawa melihat Juan yang ingin memakinya tapi tidak bisa karena sibuk
menghindari air yang ia semprotkan.
“Manusia hanya memiliki satu hati. Lo pasti
sudah menjualnya” ucap Juan. Mereka duduk berdua di bangku taman sekarang.
Juan mengusap wajah juga memeras rambutnya agar kering. Haikal mengamati
kegiatan yang Juan lakukan itu. Ia sama sekali tidak berniat membantu Juan
mengeringkan rambutnya juga memberikan jaketnya. Juan menaikkan sebelah alisnya
saat melihat Haikal yang sedang menatapnya. Haikal tidak mengatakan apapun,
juga tidak mengalihkan pandangannya dari gadis itu. Juan mendengus melihatnya “Gue rasa elo terbentuk dari elemen es.
Kaku. Beku. Dingin”. Haikal masih menatapnya tanpa berkata apapun. Juan
tidak tahan, ia berdiri dan hendak pergi namun tertahan mendengar pertanyaan
Haikal “Gimana Bu Andini?”.
Juan kembali
duduk “Apa lo enggak bisa bertanya dengan
jelas? Elo bertanya keadaan Bu Andini atau lo bertanya soal gue yang
dipanggil Bu Andini ke ruang konseling? Tapi menurut gue lo bukan bertanya
keadaan Bu Andini karena jelas lo liat dia baik-baik aja pagi ini. Gue belum
mengatakan apapun karena Bu Andini membatalkan pertemuan kita. Dia minta maaf
karena kakaknya sakit dan dia harus per...” Juan menjelaskan panjang lebar namun Haikal
berlari pergi begitu saja dari hadapannya membuat Juan menghentikan ucapannya.
Juan berteriak memaki Haikal karena lelaki itu selalu saja meninggalkannya
sendirian seperti ini. Dan satu lagi, kenapa bocah itu memakai jaket di cuaca
sepanas ini?
***
“Bunda, kita pergi ke rumah sakit” Haikal masuk ke kamar ibunya. “Sekarang” tambahnya. Ia memasukkan beberapa potong
pakaian ibunya kedalam sebuah tas. Ia menarik tangan ibunya agar segera pergi.
“Bunda baik-baik saja. Berhentilah
mengkhawatirkan bunda seperti itu, Kal” wanita
itu menahan pergelangan tangan anaknya. Ia berusaha meyakinkan Haikal bahwa
dirinya dalam kondisi yang sehat tidak merasakan sakit sedikitpun. Haikal
menatap kedalam mata wanita itu mencoba mencari kebohongan di sana, tapi ia
tidak menemukannya. Ibunya baik-baik saja sekarang ini. Haikal menyerah, ibunya
tersenyum senang.
“Bunda memang kesakitan beberapa jam yang
lalu, tapi sekarang bunda baik-baik saja berkat tantemu” ucap ibu Haikal,
ia tersenyum kearah wanita yang berdiri kaku di samping ranjangnya semenjak
kedatangan Haikal. Sejak melangkahkan kaki ke dalam kamar ibunya sebenarnya dia
telah menyadari kehadiran wanita itu. Ia juga menangkap sekilas ekspresi keterkejutan
wanita itu saat melihat Haikal masuk ke dalam kamar ibunya.
“Terima kasih, Andini” ibu Haikal tersenyum tulus. Sebaliknya, Haikal
tidak berekspresi menatap Andini.
Haikal
meminta ibunya beristirahat. Ia membaringkan ibunya di kasur, dan
menyelimutinya. Andini sendiri
berpamitan pulang karena khawatir mengganggu istirahat kakaknya.
Haikal
mengusap lembut rambut ibunya yang mulai memutih, ibunya hanya tersenyum dan
memejamkan matanya. Saat yakin ibunya telah terlelap, Haikal berjalan ke
meja rias untuk mengambil sesuatu. Ia mengecat hitam rambut ibunya. Bertahanlah setidaknya sampai wanita itu berani mengakui kesalahannya
pada bunda, batin Haikal.
***
Mikaila
memberikan semangkuk ice cream pada Juan. Ia berada di kamar Mikaila sekarang.
Dari taman Juan tidak pulang ke rumahnya melainkan pergi ke rumah Mikaila, ia
akan menginap di sana. Mereka berdua menonton episode terakhir dari drama favourite mereka.
“Kenapa wanita itu milih lelaki yang
dingin dan selalu meninggalkannya? Ah, sial sekali nasib cinta pertamanya” Mikaila mengeluh tidak mendapatkan akhir
cerita seperti yang diinginkan, ia menggigit bonekanya membabibuta. Juan hanya
berdecak melihat tingkah sahabatnya. Ia mematikan laptop dan menyimpannya. Ia
memejamkan mata berniat untuk tidur begitupun Mikaila.
“Kenapa lo masih enggak bisa ngelupain dia?” pertanyaan Mikaila membuat mata Juan kembali terjaga padahal tadi ia
sangat mengantuk. Juan tak bergeming. “Jangan
naif. Nyatanya trauma itu memang dia penyebabnya. Dan jangan diam seperti itu
seolah elo berada di dunia mimpi sekarang ini. Gue tau elo belum tidur” ucap
Mikaila.
Juan
menghembuskan napasnya lelah “Kita sudah
sepakat tidak akan membahas ini lagi”. Mikaila geram, ia mengubah posisinya
menjadi duduk “Gue rasa dengan elo terus
melarikan diri seperti ini enggak akan pernah menyembuhkan ‘kebiasaan gila lo’ itu. Jadi sekarang coba untuk menerima
kenyataan. Kenyataan bahwa cinta pertama elo penyebabnya. Jadi lo harus ngelupain
dia mulai dari sekarang”. Juan
menganggukkan kepalanya, ia lelah dan tidak ingin berdebat. Mikaila kesal
karena Juan jelas tidak akan mengikuti sarannya namun ia tahu Juan lelah dan
membutuhkan istirahat. Akhirnya ia melepaskan Juan kali ini.